Ruang di Padepokan
- GERBANG NGABAHUDENDA
- RUANG POS JAGAWANA
- RUANG KEARSIPAN
- RUANG CIPTARASA
- RUANG TELEPATI
- RUANG PENDAFTARAN
- RUANG KIAI GENDENG
- RUANG SAYEMBARA
- RUANG KITAB 212
- RUANG PENDEKAR
- RUANG SASTRA
- WARUNG MBOK TUKIJEM
- RUANG STATISTIK
- GERBANG BELANTARA
- LOKASI PADEPOKAN
- BEDAH KITAB 212
- Pembuka Tabir
| Ketegori Sastra | : | Cerita Mandiri |
| Diposting Oleh | : | Raffsikumbang |
| Waktu Kirim | : | 28 Juli 2010, 08:57:28 |
| Statistik | : | Dibaca : 64 kali, Di Print : 0 kali, Di Kirim : 2 kali |
| Rating | : |
| Nilai Sementara : 14 |
|
JAGAT SATRIA
PADEPOKAN 2Φ2
Tribute to Om Bastian Tito
hazeman_neverdies@yahoo.co.id
PROLOG
LELAKI MISTERIUS PENARIK KERANDA MAYAT
Rembang petang masih semburat di ufuk mega, hari masih terang tanah namun entah mengapa suasana terasa sangat sunyi dan mencekam. Di tengah rinai hujan yang turun setitik demi setitik lamat-lamat terdengar salakan anjing hutan.
Kawan, jika kau mendengar salakan anjing apapun di rembang petang, itu hanya berarti satu dari dua kemungkinan.
Pertama anjing-anjing tersebut kurang kerjaan
Kedua ada makhluk jahat yang sedang melintas
Aku tidak suka kemungkinan kedua, dan kau pun juga pasti setuju dengan pendapatku wahai kawan.
Suara salakan tersebut lambat laun terdengar makin mendekati arah perkampungan Lalu akhirnya Satu bayangan tinggi besar nampak tertatih pelan keluar dari balik ujung jalan.
Wajahnya nampak dingin Sedingin rantai yang melilit di pundaknya
Wajahnya pun nampak kaku Sekaku keranda yang di tariknya di sepanjang jalan!
Orang ini membawa keranda mayat!
Anjing-anjing hutan nampak menyalak riuh rendah di belakangnya.
Dan orang ini nampak terdiam sejenak
Kepalanya berpaling dan…
Astaga!
Sepasang mata itu…!
Itu bukan mata manusia! Mata itu layaknya mata seekor burung malam yang menyorot tajam!
Terlalu tajam malah!
Mata Iblis!
Dan mata itu kini menatap rombongan anjing liar yang menyalak di belakangnya. Anjing-anjing itu tiba-tiba terdiam layaknya patung
Membeku di bawah pesona tatapan sang pria misterius.
Sang lelaki kembali melanjutkan langkahnya ke dalam perkampungan
“Dimana letak Padepokan 212…?” ucap sang pria dengan suara berat pada kerumunan orang yang berada didalam kampung.
Orang–orang nampak beringsut mundur ketakutan.
Semuanya nampak menggelengkan kepalanya dengan hati cemas yang mana membuat Sang pria misterius nampak mendengus gusar.
“Apakah kalian Tidak Ada yang tahu dimana Padepokan 212 berada…?” kini sang pria misterius mulai membentak.
Semua penduduk yang ada serempak terjatuh dengan lutut bergetar bahkan ada yang sampai terkencing dicelana mendengar suara yang menggeledek laksana guntur tersebut.
Sang Pria terlihat amat gusar melihat gelengan kepala dari para penduduk. Matanya menyorot tajam sementara Giginya terdengar bergemeretakan menahan amarah.
Namun entah mengapa sesaat kemudian sepasang matanya yang semula memancarkan hawa kematian tersebut tiba-tiba meredup sayup.
Padam layaknya pelita terhembus angin
“sudahlah…” ucapnya tiba-tiba sembari merundukkan kepala dan melanjutkan langkah kakinya sembari menarik keranda mayat dengan perlahan.
Kenalkah kau padanya wahai kawan?
Orang itu adalah Oka Antara…
Jika kau orang yang belum pernah mendengar nama Oka Antara maka kau adalah satu dari sekian banyak orang yang beruntung di muka bumi.
Jika kau orang yang pernah mendengar riwayat hidupnya kau pasti akan menghela nafas panjang
Dan berusaha mencari tali untuk menggantung diri…
Sebegitu hebatkah pengaruh yang di tinggalkan nama itu?
Entahlah kawan…
Aku pun bingung…
Kau pasti bertanya mengapa dia menyeret-nyeret keranda mayat…
Jangan kau tanyakan hal itu!
Sekali-kali jangan kawan!
karena itu hanya berarti satu hal…
KEMATIAN…!!!
* * * 7
BAB I
KEMELUT DI REMBANG FAJAR
Derap kaki kuda terdengar menghentak di rembang fajar. Derit suara roda kereta terdengar berteriak resah seresah dan sekalut hati penghuni di dalamnya. Diantara suara ringkih kuda dan suara kereta, lamat-lamat terdengar isak tangis seorang bayi.
“coba kau tenangkan dia Dewi, fajar telah menyingsing sebentar lagi kita pasti akan sampai di kawasan Padepokan..” ucap seorang pemuda tampan yang sedang memegang tali les kereta. Wajahnya yang tampan nampak tegang. Peluh sebesar kacang nampak merembes keluar dari wajahnya yang membayangkan keresahan dan kekuatiran tersebut.
Tahukah kawan siapa dia?
Hujan Rumput memenuhi angkasa…
Memanah Rajawali di bayangan rembulan…
Berteman Arak dan Gendewa Melanglang Buana…
Dialah Dewa Arak!
Jago Termuda Tujuh Satria Padepokan 212…!
Tujuh satria padepokan 212 sangat terkenal di Dunia Persilatan, Berbudi luhur dan berilmu silat tinggi Disegani lawan dan di takuti lawan.
Pada peristiwa perebutan wahyu Jagat Satria di Istana Karang Hantu tiga tahun silam, Tujuh Satria Padepokan 212 berhasil memporak porandakan Istana Karang Hantu dan menghentikan sepak terjang Datuk Muda Raja Di langit dan Datuk Rao Basaluang Ameh, dua pucuk pimpinan Istana Karang Hantu serta merebut kembali Wahyu Jagat Satria.
Kembali kedalam kereta…
Dewi Dua Musim mendekap erat bayi dalam pelukannya serta mengangsurkan dadanya ke mulut sang bayi, Namun sang bayi nampak tidak berhasrat malah menangis lebih keras.
“cup…cup… Biru Langit anakku sayang… berhentilah menangis, sebentar lagi kita akan sampai…” bujuk sang ibu sambil terus menimang-nimang dan terus berusaha mengangsurkan susunya ke mulut sang bayi. Namun usahanya sia-sia, sang bayi yang di panggil dengan sebutan Biru langit tersebut terus menangis sejadi-jadinya.
“kakang… bagaimana ini…? “ ucap sang istri sembari menatap punggung suaminya dengan cemas. Dewa Arak hanya memandang sekilas. Kekuatiran membuat dirinya menghentakkan cambuk sekuatnya ke punggung kuda.
“Heeeeahhh…!” bentak Dewa Arak sembari memacu kereta lebih cepat lagi
Tiba-tiba kereta berguncang keras manakala satu enersi yang tak kelihatan melabrak dinding kereta sebelah belakang.
“kakang…!!!” teriak Dewi Dua Musim sembari memeluk erat Biru Langit.
“keparaaaat..!” Dewa Arak menghentakkan tapaknya ke dinding kereta guna meredam getaran yang menggetarkan kereta dari arah belakang. Nampak tidak jauh dibelakang kereta yang melesat berkelebat bayangan hitam yang melesat ringan layaknya Sinar Sutra Lembayung!
“Tarian Kumbang Gemawa”
“Langkah Bidadari Sapta Satwa!”
Alkisah ribuan tahun silam ke dua belas binatang memenuhi panggilan Kaisar Langit menghadap ke Istana langit selatan (Cina) untuk menerima Medali Emas Pelindung Lintas Kosmos.
Ketujuh binatang lainnya yang tergabung dalam Sapta Satwa merasa berang dan merasa tertipu akibat kecerdikan Tikus, kelinci dan Ular sehingga tidak mendapat undangan Kaisar langit merasa berang dan langsung menyerbu Istana Langit Selatan dipimpin Oleh Merak dan Kumbang Satwa, namun medali perintah telah ditetapkan, di pimpin oleh Naga dan Harimau Ke dua belas Shio langsung melabrak Sapta Satwa dan melempar mereka ke Negeri Ufuk Barat untuk menjalani hukuman Dua Belas Rantai Inkarnasi.
Tarian Kumbang Gemawa dan Langkah Bidadari Sapta Satwa yang pernah pamor di tangan Sapta Satwa kala menyerbu istana langit kini kembali nampak
pelupuk mata! Satu sosok hitam yang menebarkan hawa kematian nampak melayang lembut dibatas cakrawala.
Dialah Raff Sikumbang, salah satu Dedengkot Pewaris Sapta Satwa!
Sorot tajam penuh hawa membunuh terpancar dari kilauan kedua matanya yang tersembunyi di balik sebuah topeng batok kelapa.
Sepasang tangannya hampir tidak dapat terlihat karena selalu bergerak liar ke sana kemari seakan tidak bisa berhenti bergerak walau sekejap.
Tubuh Raff Sikumbang kurus kering hanya berbalut sehelai jubah hitam lusuh laksana seorang pakaian seorang paderi namun rambut dan janggutnya teramat panjang. Berbagai macam kumbang dan serangga beracun memenuhi jubah, rambut serta tubuhnya.
Dan kini sang kumbang nampak melayang mengejar kereta yang melaju dengan sepasang tapak penuh enersi mematikan!
“serahkan bayi itu atau mati…!” teriak sang Satwa sembari melepaskan arus enersi pada sepasang tapaknya. satu jalur sinar berwarna kehijauan langsung melabrak kearah kereta!
“Kumbang Satwa Menggempur Langit”
“cepat pegang kendali kereta, biar aku menghadapi manusia satu ini…!” ucap Dewa Arak seraya menyerahkan tali les kereta kepada istrinya Dewi Dua Musim.
“hati-hati kang, demi aku dan Biru Langit aku tidak ingin kau celaka…”
Dewa Arak menganggukkan kepala seraya mengelus ubun-ubun Biru Langit sejenak sebelum melesat kearah atap kereta. Angin pagi menyibakkan ikat kepalanya kala sang pemuda melepaskan gendewa di punggungnya dan mengarahkan busur tak berpanah tersebut kearah langit!
“Hujan Rumput memenuhi angkasa!!!!”
Gelegar petir di pagi hari membahana seiring dengan merebaknya sinar gemilang dari dawai gendewa sang Dewa Arak.
Satu sinar membersit membelah angkasa dan lalu pecah serta luruh ke bumi laksana hujan yang dicurahkan ke pelosok bumi!
Tak ada jalan lolos bagi Si Jahat!
Sementara itu larikan sinar yang di hantam oleh Sang Kumbang Satwa bukan hanya tidak sanggup menghantam kereta, bahkan sinar pukulan mematikan tersebut harus mengalami nasib naas tersapu habis oleh serpihan sinar pecahan pukulan Hujan Rumput Memenuhi Angkasa yang di lepas oleh Dewa Arak.
Nama Dewa Arak Memang bukan Isapan Jempol belaka!
Namun Raff Si Kumbang juga bukan sembarang tokoh picisan. Dengan entengnya sang kumbang satwa menggetarkan sekujur tubuhnya seperti
Harimau yang menggeringkan tubuh, tak setitik pun enersi sinar gendewa sakti mampu menyentuh tubuhnya! Hebatnya lagi semua itu dilakukannya sembari tetap berada di tengah udara!
Terbukti Tarian Kumbang Gemawa dan Langkah Bidadari Sapta Satwa tidak bisa di pandang sebelah mata.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari depan kereta dibarengi getaran kereta yang sangat keras! Tanpa sebab yang jelas kereta tiba-tiba terbalik dan melayang di angkasa!
“Amukan Gajah Purba”
“Dewiiiii…!” teriak Sang Dewa Arak Gusar
dengan gerakan secepat kilat, Sang pendekar masuk kembali kedalam kereta yang tiba-tiba melayang diudara tersebut lalu tiba-tiba sedetik kemudian…
Satu suara menggelegar terdengar mana kala kereta tersebut meledak dan hancur berkeping-keping!
Sebenarnya apa yang terjadi?
Bagaimana Nasib Dewa Arak, Dewi Dua Musim dan Buah Hati Mereka Biru Langit?
Bau sangit daging terbakar dan debu serta kobaran api memenuhi udara pagi. Sepasang kuda jantan penarik kereta nampak terlihat kini hanya tinggal berupa dua onggokan besar daging yang hitam lumat dan menebarkan asap sangit !
Sangat mengerikan!
Satu Sosok Raksasa bertubuh gempal nampak berdiri ditengah debu yang jatuh luruh ke tanah. Tingginya tiga meter lebih! Dengan tubuh hitam liat membuat Jalinan otot laksana akar Tarbantin mengurat jelas di setiap lekuk tubuhnya.
Wajahnya yang kasar dan sangat buruk nampak terlihat dingin membeku, namun sepasang matanya nampak menyorot tajam menyiratkan kekejaman tiada tara!
Dialah Gajah Perbawa salah satu Momok terjahat Sapta Satwa!
Hanya dengan sekali hantaman tepukan tangannya, raksasa satu ini mampu membuat kuda dan keretanya hancur luluh dan terbakar diudara!
Siapa orang ini sebenarnya?
Sapta satwa adalah satu aliran yang aneh dan misterius. Tidak ada yang tahu dengan jelas letak serta asal-usul aliran ini. Mereka yang pernah berurusan dengan Aliran ini juga hanya segelintir orang…
Selain letaknya yang tersembunyi, para anggotanya juga teramat jarang muncul dalam kancah persilatan. Namun itu bukan berarti Sapta Satwa kehilangan Pamor.
Tiga ratus orang anggota Padepokan Golok Terbang habis dalam waktu semalam…
Enam ratus anggota keluarga besar Ruyung Satria juga putus turunan juga hanya dalam waktu semalam..
Siapa yang tidak kenal dengan Padepokan Golok Terbang?
Siapa pula yang tidak mengetahui Keluarga Besar Ruyung Satria?
Namun toh semuanya hancur lenyap hanya dalam waktu semalam…
Dan malam dimana kedua keluarga itu dibantai adalah malam yang sama!
Hanya tujuh orang…
Namun sudah mampu mewakili kematian itu sendiri…
Sapta Satwa terdiri dari tujuh orang berkepandaian tinggi laksana dewa.
Merak Kartika
Kucing Listrik
Serigala Bisu
Gajah Perbawa
Raff Si Kumbang
Pesut Segara
Dan Akhirnya…
Sang Pemimpin Sapta Satwa…
Raja Satwa Singa Kelana…
Aliran ini muncul pada Puluhan tahun yang lalu mana kala saat itu terjadi perebutan satu kitab pamungkas berjudul “Warisan Sapta Satwa”.
Banyak korban jiwa berjatuhan dan banjir darah terjadi di mana-mana guna memperebutkan kitab sakti tersebut.
Lalu pada suatu ketika kitab tersebut tiba-tiba dikabarkan raib tak tentu rimbanya! Desas-desus yang menyebar menyebutkan bahwa seorang pesilat tangguh telah menemukan kitab tersebut dan memencilkan diri guna melatih ilmu didalamnya.
Seiring berjalannya waktu, orang tidak lagi memperbincangkan tentang kitab sakti tersebut. Namun tanpa disadari didunia persilatan muncul satu aliran baru.
Aliran yang misterius dan tertutup
Yang Ada bisa saja berarti tiada…
Yang Tiada bisa saja berarti ada…
Tiada persahabatan yang sejati…
Tiada ada pula musuh yang abadi…
Yang ada hanyalah kepentingan…
Itulah prinsip yang dipegang oleh Sapta Satwa.
Kembali ke cerita.
“selamat… akhirnya kakang perbawa bisa mencapai tingkatan tujuh Prana Gajah Digdaya… suatu hal yang pantas untuk dirayakan! Kali ini dengan kemampuan kakang tidak akan ada yang bisa lagi lolos dari tangan kakang…” puji Raff Sikumbang seraya berjalan kearah Gajah Perbawa
Gajah Perbawa hanya mendengus dingin, dia tidak peduli dengan sanjung puji Kumbang Satwa.
“Cepat ambil jazad anak itu… kita tidak boleh berlama-lama di tempat ini…” ucap sang gajah dingin
Raff Si Kumbang menatap gajah perbawa dengan sorot mata penuh kebencian namun toh, bibirnya terlihat tersenyum lebar.
“Keparat kau gajah bengkak! Kalau bukan karena urusan Utusan Kiri, tidak akan aku mau mendengar perintah mu… tunggu sampai waktunya tiba kelak, akan ku habisi kau dengan tangan ku sendiri…” batin si Kumbang.
Raff Si Kumbang beranjak mendekati bangkai kereta, baru saja dirinya hendak membongkar tumpukan puing kereta tersebut, tiba-tiba dirinya terpental keras laksana layangan putus! Teriakannya terdengar tinggi menyayat hati!
Apa yang terjadi?
Dari balik tumpukan puing kereta berdiri satu sosok yang nampak membopong
Seorang wanita dan seorang bayi! Tubuhnya kotor dan penuh luka, namun dia nampaknya tidak mempedulikan keadaannya tersebut. Matanya menerawang sedih namun dibaliknya terlihat kilauan amarah dan api dendam!
Dewa Arak Kembali dari kematian…!
“selama tiga tahun terakhir demi guru dan Kakang Danu Kaniswara aku telah bersumpah untuk berpantang tangan menurunkan tangan jahat… aku berbelas kasihan pada orang lain, namun orang lain tidak berbelas kasihan kepadaku… jika hari ini aku tidak membalaskan kematian Dewi dan Biru Langit, maka jangan bilang aku terlalu kejam pada kalian…” ucap sang Pendekar seraya meletakkan jasad istri dan anaknya ke samping onggokan bangkai kereta.
Setelah meletakkan Jasad sang Istri dan anak, Dewa Arak perlahan mengambil kendi arak yang terikat di pinggangnya dan mereguk araknya dalam-dalam..
Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk sementara meredam kesedihan dan sakit hati di dada.
“Sudah mau mampus masih banyak lagak… dasar Setan Arak!” jengek Gajah Perbawa sembari melipat tangan dengan pongahnya.
Sementara tidak jauh dari Gajah Perbawa nampak Raff Si kumbang duduk bersila mengatur nafas akibat hentakan tiba-tiba yang dilancarkan Dewa Arak. Setelah mengalirkan prananya beberapa saat, aliran darah yang kacau dan nadi yang tergetar akhirnya pulih kembali! 18
Dewa Arak menyeka lelehan Arak yang membasahi bibirnya sembari menatap jasad istri dan anaknya dengan pandangan sayu. Sinar matanya nampak jelas menunjukkan kekosongan jiwanya, namun Dengan menguatkan hati sang pendekar berjalan dengan gagahnya kearah Gajah Perbawa dan Kumbang Satwa.
* * * *
BAB II
PADAMNYA PELITA DEWA ARAK
Dewa Arak berdiri tegak sembari memandang tajam kearah dua momok Satwa yang telah membunuh istri dan anaknya tersebut. Prananya tersalur mantap mengalir deras kedalam gendewa di genggamannya dan membuat busur emas tersebut memancarkan cahaya gemilang!
“Seluruh kekuatan Prana ku yang tersisa hanya tinggal tiga bagian… tujuh bagian lainnya sudah ku kerahkan untuk menyelamatkan kakang Kaniswara tiga tahun yang lalu… apakah dengan kekuatan ku yang sekarang ini aku masih mampu mengalahkan dua orang ini?” batin Dewa Arak Sembari menimbang-nimbang keadaan.
Tanpa sadar ingatannya kembali pada tiga tahun yang silam
Tiga tahun yang lalu terjadi satu peristiwa besar mana kala Ketujuh Satria Padepokan 212 meluruk dan mengobrak-abrik Istana Karang Hantu untuk merebut Wahyu Jagat Satria dan Dewi Dua Musim istri Dewa Arak yang diculik oleh Danu Prasetya Si Pendekar Bayangan.
Pertarungan yang terjadi pada tiga tahun yang lalu tersebut teramat dahsyat hingga membuat lima orang satria dari padepokan 212 mengalami luka dan cedera dalam yang amat parah. Namun hasil yang didapat juga cukup memuaskan.
Datuk Muda Raja Di Langit dan Datuk Rao Basaluang Ameh, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sepasang Datuk Sesat Penjunjung Langit sang penguasa Istana Karang Hantu akhirnya bisa dikalahkan, Wahyu Jagat Satria dan Dewi Dua Musim pun akhirnya bisa direbut kembali.
Namun cerita tidak hanya berakhir sampai di situ saja…
Pada puncak pertempuran, Pendekar 212 Danu Kaniswara salah seorang dari Tujuh Satria Padepokan 212 dihadapkan kenyataan harus berhadapan dengan saudara kembarnya sendiri Danu Prasetya Si Pendekar Bayangan…
Merupakan satu kisah yang amat menyedihkan mengingat pertempuran ini merupakan pertempuran hidup mati antara sesama saudara kandung.
Danu Kaniswara semasa kecilnya terpisah dengan sang adik Danu Prasetya dan di ambil murid oleh Ki Abdul Madjid pemimpin padepokan 212, sementara Danu Prasetya diambil dan di didik langsung oleh seorang tokoh sesat yaitu Latanpanama Sang Penguasa Sesaji!
Sepak terjang, perangai serta didikan yang berbeda menyebabkan sepasang saudara kembar ini akhirnya terpaksa harus bertemu juga di medan pertempuran hidup dan mati.
Pertarungan antara dua saudara kembar ini akhirnya mencapai titik kulminasi mana kala pertarungan fisik yang keras beralih ke tingkat yang lebih tinggi yakni pertarungan antar insan gaib.
Sukma sejati Pendekar 212 dan Pendekar Bayangan keluar dari jasad masing-masing dan saling bertempur di alam bunian!
Pertarungan akhirnya dimenangkan oleh Pendekar 212 dengan bantuan Dewa Arak yang berhasil menghancurkan jasad Pendekar Bayangan yang dibawa lari oleh Latanpanama guru dari Pendekar Bayangan.
Sang Penguasa Sesaji sendiri akhirnya bisa meloloskan diri.
Untuk bisa mengembalikan Sukma sejati Pendekar 212 kedalam jasadnya, Dewa Arak merelakan tujuh bagian tenaga prananya untuk menarik kembali sukma Sang pendekar dari cengkraman Alam Bunian.
Namun tanpa sepengetahuan Dewa Arak, selain sukma sejati Pendekar 212, turut masuk pula Sukma Sejati Pendekar Bayangan yang kehilangan jasad kedalam jasad Pendekar 212.
Hal inilah yang kemudian akan menjadi cikal bakal bencana yang menimpa Padepokan 212 di masa yang akan datang.
Atas dasar pengorbanan Dewa Arak tanpa sepengetahuan sang pendekar, Pendekar 212 diam-diam memasukkan Wahyu Jagat Satria Kedalam Rahim Dewi Dua Musim.
Dewa Arak dan sang istri kemudian akhirnya berpisah dengan Para Satria Padepokan 212 dan menetap di Lembah Langit Temaram.
Karena enersi prana yang hanya tinggal tersisa tiga bagian dan tidak dapat di kembalikan lagi, Dewa Arak memutuskan untuk meninggalkan dunia persilatan di usianya yang masih muda dan hidup bersama dengan sang istri Dewi Dua Musim.
Setelah hidup tentram dan damai selama dua tahun di bukit temaram, Dewi Dua Musim akhirnya mengandung dan melahirkan seorang Bayi yang sehat dan lincah.
Bayi mungil itu mereka namakan Biru Langit…
Kilas balik selesai
Dewa Arak kembali menatap jasad istri dan anaknya yang terbujur kaku. Perasaannya terasa tercabik-cabik, kembali teringat canda dan tawa istri dan anaknya kala bercengkrama di pondok kecil kediaman mereka di lembah langit temaram.
Setitik embun perlahan menitik di pelupuk mata sang satria…
Namun belum lagi tetesan air mata Dewa Arak menyentuh tanah, angin dingin bernuansa jahat kembali mengancam tubuh sang pendekar yang sedang dirudung lara.
Raff Si Kumbang telah merangsek maju
Dengan menggunakan ilmu langkahnya yang ajaib Raff Sikumbang satwa telah melesat cepat kearah Dewa Arak dengan sepasang Cakar Terpentang.
Angin dingin bernuansa pekat bersiutan menghambur keluar dari sepasang cakarnya yang penuh bisa!
“Kumbang Sakti Menggempur Bumi”
Dewa arak melenting keatas dengan gerakan indah, sembari masih berputar di udara, Sang Pendekar masih sempat-sempatnya meneguk arak dalam kendinya dan menyemburkannya kuat-kuat kearah Raff Si Kumbang!
“Jahanam…!” rutuk Sang Kumbang sembari meloncat mundur.
Bukan saja serangan cakarnya berhasil di mentahkan oleh Dewa Arak, namun dirinya hampir saja termakan oleh serangan semburan arak.
Amarah Raff si kumbang menggelegak dahsayat manakala melihat jubahnya yang terkena semburan arak nampak banyak berlubang dan mengepulkan asap…!
Dibarengi bentakan keras Kumbang Satwa kembali menerjang karah Dewa Arak, dan kali ini dewa Arak tidak menghindar seperti tadi.
Apa yang dilakukan Dewa Arak kali ini teramat mencengangkan! Dibalik hujan cakaran yang membabi buta, Dewa Arak nampak berjalan sempoyongan kian kemari sembari sesekali meneguk araknya!
“Dewa Arak Menari Mabuk Kepayang”
Jurus Langkah yang dikeluarkan oleh Dewa Arak ini benar-benar luar biasa! Tidak ada satu pun serangan Raff Si kumbang yang mengenai sasaran!
“langkah yang bagus…!” Puji Gajah Perbawa sembari masih berdiri tegak menonton pertarungan Dewa Arak dan Raff Si kumbang
Pujian kawannya ini kontan membakar dada Raff Sikumbang dan membuat amarah Sang Kumbang naik sampai ke ubun-ubun…!
Sang Kumbang pun kembali mengeluarkan langkah saktinya guna mengatasi Langkah mujijat Dewa Arak.
“Tarian Kumbang Gemawa VS Dewa Arak Menari Mabuk Kepayang…!”
Langkah dibalas Langkah!
Akibatnya sungguh amat mengagumkan…! Sepasang orang yang saling bertarung hidup dan mati ini malah terlihat seperti orang yang sedang menari dengan indahnya.
Keindahan yang berbalut roman kematian!
Namun Setelah bertarung ratusan jurus, kondisi Dewa Arak tidak dapat disembunyikan lagi. biar bagaimanapun juga, pada kenyataannya kekuatan dan Jumlah Pranalah yang paling menentukan dalam suatu pertempuran.
beberapa kali serangan Cakar Raff Si Kumbang menggores kulitnya dan meninggalkan luka yang cukup dalam.
Cakar milik Raff Si Kumbang adalah cakar yang amat berbisa, jika orang lain mungkin sudah sedari tadi terkapar dan meregang nyawa.
Namun yang dihadapi oleh Raff Si Kumbang kali ini bukan orang Biasa, kesaktian Gendewa emas yang mampu menawarkan segala racun setidaknya bisa sedikit membuat sang Satria mampu bertahan beberapa lama.
Namun tidak untuk selamanya…
Cakar Raff Sikumbang kembali menyongsong dan kali ini Sang empunya cakar nampaknya hendak segera menuntaskan laga ini.
Karena yang dikeluarkan oleh Raff Si Kumbang kali ini adalah jurus cakarnya yang hampir tidak pernah dikeluarkannya.
Sepasang cakarnya perlahan berubah menjadi berwarna hitam dan mengepulkan asap gelap yang berbau amis…!
“Kumbang Sakti Tanpa Tanding…”
Cakar yang mengarah Dewa Arak kini sudah tidak bisa terhitung dan terlihat lagi oleh mata telanjang…!
Dewa Arak menggerakkan sedikit tubuhnya, gendewa dewa di putar sedemikian rupa hingga membentuk bayang cendawan emas yang memapak datangnya serangan ratusan cakar Raff Si Kumbang…!
Cakar dan Gendewa bertumbukan dan mengeluarkan suara keras!
Tubuh Dewa Arak terdorong tiga tindak kebelakang, dari mulutnya menyembur darah kehitaman yang membuat Raff Sikumbang girang bukan kepalang. Sang Kumbang tertawa Terbahak dan merasa diatas angin hingga hilang kewaspadaan.
“Mampus Kau Dewa Arak…!” teriaknya riang sembari mencengkram erat busur Dewa Arak tanpa menyadari apa yang akan terjadi kemudian…
“Tweeeeeww….!!!!”
Tanpa terduga Dewa Arak menarik dawai gendewa yang di cengkram oleh Raff Si Kumbang dengan menggunakan tangan kiri dan menghantarkan enersi padat tanpa Wujud dari gendewa sakti langsung ke dada Sang Kumbang Satwa……..!
Raff Sikumbang kembali terhempas keras kali ini diiringi jeritan setinggi langit
Semburat memerah menghiasi Udara di lintasan jatuh Sang Kumbang Satwa!
Berhasil mengatasi Kumbang Satwa bukan berarti Dewa Arak selamat dari Cedera. Tiga bagian tenaga prananya tidak mampu menahan enersi beracun pukulan Kumbang Sakti Tanpa Tanding milik Raff Si Kumbang.
Luka lama akibat pertempuran tiga tahun silam di tambah luka batin di tinggal istri dan anaknya membuat Sang Pendekar tidak mampu menahan enersi pukulan sang kumbang yang tersalur melalui gendewa sakti.
Darah segar kembali merembes dari mulut Sang Satria.
Hanya berbekal tekad membaja pantang mundur yang membuat Sang Satria masih berdiri tegak…!
Namun apalah arti semangat tanpa ditunjang dengan kemampuan serta tenaga yang mumpuni?
Belum lagi Sang Pendekar mengatur nafas serta aliran darahnya yang kacau akibat serangan Raff Si Kumbang, sepasang cakar tiba-tiba menyeruak dari dalam tanah dan mencengkram sepasang kakinya disertai Hentakan enersi Super Edan!
“Meoooong…!”
Suara kucing mendesah mengiringi hantaran sengatan listrik dahsyat ke tubuh Dewa Arak…!
“Sengat Listrik Kucing Jahanam”
Tanpa jejak tanpa bayangan…
Sapta Satwa kembali menurunkan jagoannya…
Kucing Listrik…
Dan dia tidak datang sendiri…
Sang Kucing datang bersama “pasangannya”
dan “pasangan” yang dimaksud entah kapan dan entah bagaimana caranya telah menyarangkan sepasang cakarnya ke tulang belikat Dewa Arak…!
“Gemulai Kinasih Merak Kartika”
Kawan, jika kau berkata bahwa binatang yang tercantik adalah burung merak, maka aku sepenuhnya setuju dengan pendapat mu…
Dan Jika kau berkata pula bahwa kucing adalah binatang yang lucu dan menggemaskan aku pun masih setuju-setuju saja…
Namun coba kau tanyakan pada Dewa Arak apa yang dirasakannya saat ini…
Apakah dia masih bisa mengatakan kalau burung merak itu adalah burung yang indah..?
Atau apakah Sang Pendekar kiranya masih sanggup mengelus lembut seekor kucing dalam pelukannya setelah hari ini…?
Dan bagaimana kalau seandainya kita tambahkan lagi dengan seekor gajah…?
Gajah…?
Ya… seekor gajah… namun gajah yang satu ini bukanlah gajah yang lucu dan menggemaskan… karna Gajah yang satu ini adalah seekor gajah yang mematikan…! Seekor Gajah yang sanggup menghancurkan sebuah bukit hanya dengan sekali tepukan tangan…!
Tentu saja gajah yang dimaksud bukan lain adalah Gajah Perbawa adanya yang juga kini tanpa disadari dan dengan kecepatan luar biasa telah melekatkan tapaknya di ubun-ubun Dewa Arak…!
DOLANAN SATWA
“Amukan Gajah Purba”
“Sengat Listrik Kucing Jahanam”
“Gemulai Kinasih Merak Kartika”
Wujud Dolanan Satwa Tahap Tiga menghentak dari kaki, Pundak dan Kepala Dewa Arak…
Hujan gemuruh tercurah bersamaan dengan pecahnya Kendi Arak Sang Satria Padepokan 212…
Seolah menangisi nasib tragis Sang Jago Muda…
* * * *
BAB III
ANGIN, AIR DAN LANTUN JUMAWA
FUJIDENKI KAGAWA
Api mulai membakar sebagian besar bangunan utama Kastil Awan Merah milik Lord Tokugawa.
Bangunan indah yang biasanya di nikmati oleh Sang Penguasa untuk memandang puncak gunung Fuji sembari mendengarkan Shamisen ini perlahan mulai runtuh sebagaimana runtuhnya kemegahan dan kehebatan serta harga diri Klan Tokugawa.
Semua ini hanya karena satu kesalahan kecil…
Kecil namun teramat fatal…!
Masalah itu sebenarnya hanya sekecil kerikil di dalam sepatu sang Penguasa…
Begitu kecilnya sampai-sampai Lord Tokugawa pun tak menyadari kalau kerikil kecil tersebut akhirnya telah merobek-robek telapak kakinya…!
Dan saat Lord Tokugawa menyadarinya, semuanya sudah terlambat…
Masalah kecil itu bernama Fujidenki Kagawa
Putra satu-satunya sekaligus penerus dari Minamoto Kagawa, Pewaris terakhir Klan Kagawa
Fujidenki Kagawa atau yang juga biasa dipanggil dengan sebutan Lord Kagawa ini tidak memiliki enam belas ribu prajurit berkuda…
Dirinya juga tidak memiliki beratus-ratus samurai yang bertugas menjaganya siang dan malam layaknya yang dimiliki oleh para keluarga Shogun pada saat itu…
Tidak… Lord Kagawa tidak memiliki semua itu..
Karena sesungguhnya Lord Kagawa memang tidak memiliki apa-apa…!
Lalu apa sesunguhnya yang dimiliki oleh Lord Kagawa sehingga mampu menghancurkan Kastil Awan Merah milik Sang Penguasa yang notabene memiliki enam belas ribu prajurit tangguh, delapan ratus samurai terlatih, dan didukung oleh empat keluarga besar Shogun?
Yang dimiliki oleh Lord Kagawa hanyalah warisan terakhir dari Sang Ayah tercinta, Lord Minamoto Kagawa.
Minamoto Kagawa sang ayah tidak mewariskan uang maupun barang berharga…
Sang Ayah Pun tidak mewariskan Prajurit maupun kereta berkuda..
Satu-satunya yang diwariskan oleh Sang Ayah adalah seseorang…
Dan orang itu bernama Hanaoki Musashi
Si Angin dari Desa Koga…
Jika Ada Semilirnya Angin, takkan sempurna jika tidak ada Aliran dan gemericiknya Air…
Fujidenki Kagawa Sangat tahu dan sangat mengerti akan hal itu…
Dan karena hal itulah kini dia datang bersama Sang Angin di Kastil Awan Merah milik Hidetoshi Tokugawa, Sang Shogun Penguasa.
Dia tidak membutuhkan harta dan kekayaan milik Lord Tokugawa… dia juga tidak memerlukan pasukan hebat milik Sang Penguasa…
Yang dia inginkan hanyalah “Dia”
Dan “Dia” yang dimaksud kini nampak diam terpekur di belakang Lord Tokugawa sembari memegang dan menjaga pedang milik Sang Shogun diatas sebuah nampan beludru.
Dia bukanlah seorang Samurai maupun prajurit tangguh…
Dia hanyalah seorang pelayan kecil yang bertugas memegang pedang Milik sang penguasa
Seorang pelayan yang bahkan mampu membuat seorang Fujidenki Kagawa mengobrak-abrik kastil yang dijaga ribuan prajurit tangguh dan ratusan samurai terlatih hanya berbekal kemauan dan sang pendamping si “Semilir Angin”
Dan semuanya itu dirasanya masih cukup pantas…
untuk mendapatkan “Dia”…
Zano….
Si Air dari Desa Iga…
Lord Tokugawa nampak mengerutkan keningnya, keringat sebesar jagung nampak merembes keluar dari dahinya pertanda sedang memeras otak.
Wajah agung Sang Shogun Penguasa yang biasanya nampak segar sekarang terlihat pucat.
Perlahan dengan tangan yang bergetar, sang shogun mulai menggerakkan bidak hitam di depannya.
“Perwira Menjaga Gerbang barat…!”
Keputusan yang amat berat. Posisi Perwira Menjaga Gerbang barat mengorbankan empat bidak, namun posisi raja dapat terselamatkan dengan adanya pengorban ke empat bidak tersebut, Sang Shogun mengambil keputusan pelik untuk mempertahankan ruang kosong di sebelah barat papan catur.
Hal ini membuat Fujidenki Kagawa Tersenyum riang.
Kawan, apa yang kau pikirkan jika melihat diantara puing-puing bangunan yang terbakar terdapat dua orang yang sedang asyiknya bermain catur?
Kau pasti berpikir kalau mereka berdua gila bukan?
Bukan…?
He.he.he… aku tak percaya kawan…!
Tapi memang benar apa yang kau lihat wahai kawan… dua orang yang sedang duduk menghadap sebuah meja kecil di tengah ruangan besar yang sedang terbakar itu memang sedang bermain catur.
Seorang pria muda dan seorang kakek tua berpakaian bangsawan…
Sang pria muda tampan dan gagah. Walau berpakaian sederhana, namun sorot matanya memancarkan keteguhan dan tekad membaja. Sayang sudut bibirnya selalu tertarik keatas sehingga nampak menggambarkan sikap jumawa.
Dialah Fujidenki Kagawa, Penerus terakhir Klan Kagawa
Dibelakangnya nampak berdiri tenang seorang pria separuh baya
Hanaoki Musashi.
Tidak ada angin di tempat itu…
namun rambutnya yang panjang memutih nampak seakan selalu berkibar lembut.
Sungguh aneh!
Namun keanehan sang pria paruh baya tidak sampai disitu saja, karena dari balik pakaian hitam ketatnya tetesan darah nampak terus saja menetes tanpa henti dari tubuh dan rantai belati di tangannya…
Dan semua darah itu bukan berasal dari tubuhnya!
Itu adalah darah para “bidak…!”
Bidak catur bisa mengeluarkan darah?
Bisa saja…!
Seperti kali ini, begitu sang shogun membuka jalan mengorbankan empat bidak caturnya, tiba-tiba dari arah belakang Sang Shogun yang sedang terpekur menatap papan catur, empat orang Samurai yang sedari tadi menahan kegeraman di belakang sang penguasa melesat dengan derasnya bersama senjata masing-masing untuk menerjang sang Angin!
Sang angin hanya tetap diam
Bukan diam karena pasrah…!
Tapi diam karena dia menunggu “tanda” dari sang majikan…
Dan tanda itu muncul seiring senyuman di sudut bibir Fujidenki Kagawa kala menggerakkan bidak putihnya memakan habis keempat bidak dan meruntuhkan formasi Perwira Menjaga Gerbang barat-nya Lord Tokugawa.
Bersamaan dengan gerakan ini maka melesatlah Sang Angin…
Dan apa yang bisa menghalangi datangnya angin? Rantai belatinya menari lincah diantara bayang dan jerit menyayat hati keempat samurai Sang shogun penguasa.
Terjawablah sudah darah siapa yang terus menetes dari tubuh sang Pengawal setia Lord Kagawa…
Kawan, Permainan catur ternyata sangat mengasyikan bukan…?
Lord Tokugawa menarik nafas berat. Pertahanan gerbang barat sudah di tembus, dalam perhitungan Sang Shogun dua langkah lagi pasti raja bidaknya akan terkurung dan tidak bisa melangkah.
Satu-satunya cara lolos dari pengepungan adalah menggerakkan Menteri di sebelah bidak perwira dan bidak ksatria untuk mengancam sektor selatan bidak raja Fujidenki Kagawa.
pertahanan yang terbaik adalah tindakan menyerang…
Bidak mentri akhirnya digerakkan oleh Sang Shogun
Maka melesatlah Sang Menteri dari balik pundak Lord tokugawa.
Sang menteri adalah sebuah tongkat panjang…
dan tongkat panjang tersebut adalah milik Kauw Che Tian
Si Raja Monyet Bertongkat Sakti…
Dalam dongeng See-yu (Perjalanan Ke Barat), Kauw Che Thian Si Kera Sakti memperoleh amanat langit untuk menemani Rahib Tong untuk mengambil kitab suci ke barat. Jurus Tongkat Super Sakti dan menguasai Tujuh Puluh Dua Varian Perubahan mampu mengatasi delapan puluh dua musibah dan mengantar pencerahan bagi seluruh jelata.
Kung fu keluarga Kauw amat tinggi di tanah sentral, dan yang paling harum namanya kala itu adalah Tuan Muda pertama Kauw Che Tian
Menantang ketua perguruan Shaolin dan menghancurkan barisan Seratus Delapan Puluh Dua Arahat Emas…
Mematahkan barisan Pedang Sapta Kartika yang termashyur dari Bu Tong Pai…
Dan yang paling menghebohkan adalah merebut Tongkat Sakti Naga Emas milik perguruan Khong Tong Pai
Semua hal yang menggemparkan pernah dilakukan oleh Tuan Muda yang berdarah Panas ini..
Namun entah mengapa Tuan Muda Kauw yang kala itu namanya telah tenar setinggi langit serta berilmu sangat tinggi tiba-tiba menghilang dari dunia persilatan…
Tanpa jejak…
Kini setelah dua puluh tahun entah mengapa Kauw Che Tian yang tersohor dengan Tongkat Sakti Menggempur Langitnya muncul kembali
Jauh dari tanah leluhurnya
Dan menjadi pelindung Lord Tokugawa…
Tubuh Kauw Che Tian meluruk deras kearah Hanaoki Musashi dengan tujuh puluh dua varian langkah yang membingungkan!
Bahkan Fujidenki Kagawa yang biasanya tenang kini terlihat agak terperanjat, namun kerlingan mata Sang Angin membuat degup jantung Sang Lord Kagawa mulai mereda.
Hanaoki musashi menarik nafas panjang, cekalan pada rantai belatinya dipererat sembari mengalirkan prana tunggalnya.
Sungguh Aneh!
Rantai belatinya yang semula lemas tiba-tiba menjadi kaku tegak layaknya sebuah tongkat!
Di balik kelembutan tersimpan kekerasan, kekerasan yang mengalir bersama kelembutan…
Prana dari Si angin yang mapan membuat rantainya yang lemas menjadi keras laksana tongkat baja
Dan tongkat baja tersebut kini sudah mulai beradu di tangan sang empunya tongkat baja.
“Tongkat Menggempur Langit VS Tongkat Rantai Seribu Angin”
Suara dahsyat yang memekakkan telinga terdengar tiap kali kedua tongkat saling beradu. Gerakan Sang Raja Monyet sungguh teramat lincah, namun langkah kaki dan langkah angin manakah yang lebih unggul?
Selama puluhan tahun berkelana hingga ke tanah mentari terbit, baru sekarang inilah Sang raja monyet menemukan lawan yang bisa membuatnya bergairah.
Sehingga tanpa sadar Sang Raja Monyet tersenyum lebar
“Raja Monyet menyuguhkan buah…”
Jurus ini teramat dahsyat sehingga bahkan sanggup membuat Sang Angin memandang dengan kagum dan terpesona!
Kauw Che Tian menggerakkan tongkatnya menjadi gerakan berliku yang aneh, setiap akhir varian tongkat yang berliku tersebut diakhiri dengan gerakan melingkar yang saling bertentangan…!
Sungguh teramat membingungkan…!
Kung fu tongkat yang di mainkan seperti kung fu Pedang Hoa San Pai yang bernama “Pedang Im-Yang Langit Bumi” namun hampir sama juga dengan “Membalik Gunung dan Samudera” milik aliran Er-Mei.
Angin dahsyat gulungan tongkat milik Kauw Che Tian perlahan menggempur angin pukulan tongkat milik Sang Angin…
Sang Angin mulai terdesak oleh serangan ombak yang bergulung tanpa henti
Kepercayaan diri Sang Raja Monyet semakin bertambah
Namun…
Tiba-tiba sepasang ujung tongkat rantai yang bermata belati tanpa disadari mampu membuat ujung tongkat Sang Raja Monyet tiba-tiba tertarik dan menempel erat! Kedua ujung tongkat seakan diikat oleh seutas tali tanpa wujud!
“Aksara Melibat dari jurus Tongkat Pemukul anjing…!”
Tanpa sadar Kauw Che Tian berteriak keras!
Bagaimana Sang Raja Monyet tidak terkejut, jurus tongkat yang paling dahsyat dan dianggap sebagai raja-diraja jurus tongkat adalah Jurus Tongkat Pemukul Anjing dari kaypang.
Jurus ini adalah jurus yang hanya diturunkan pada ketua calon pengemis Selamanya tidak diturunkan kepada orang luar.
Namun entah bagaimana jurus dahsyat ini kini telah dimainkan oleh orang Jepang bawahan Lord Kagawa…!
Pelik…!
Ratusan tahun yang lalu Seshomaru pemimpin desa Koga kalah berhadapan dengan Hanzo Hatori dari desa Iga dalam suatu pertarungan bersejarah.
Dalam pertarungan tersebut Seshomaru harus kehilangan sebelah kaki dan harga dirinya.
Seshomaru yang sekarat meninggalkan tanah leluhurnya dengan membawa luka parah dan dendam yang menumpuk.
Saat tiba di tanah dataran Seshomaru yang berada diambang kematian ditolong oleh seorang pengemis tua.
Pengemis tua itu adalah Ang Lo Kuai…
Pemimpin besar Kaypang
Karena iba dan merasa diri sudah uzur serta membutuhkan penerus serta karena melihat bakat serta diri Seshomaru yang cacat, Ang Lo Kuai pun mengajarkan jurus tongkat pemukul anjing kepada Seshomaru dengan harapan Seshomaru mau meneruskan memimpin kaypang.
Namun harapan sang pemimpin pengemis hanyalah sebatas harapan…
Setelah mendapatkan Jurus Tongkat Pemukul Anjing, Seshomaru malah membuntungi kedua tangan dan kaki sang penolong dan meninggalkannya dalam keadaan sekarat.
Seshomaru akhirnya kembali ke Jepang untuk membalas dendam…
Kembali ke cerita
Kejut Kauw Che Tian bukan buatan melihat anak buah Lord Kagawa memainkan jurus yang dahsyat ini, namun Sang Raja Monyet tidak terlihat gentar, matanya malah terlihat memercikkan rona bara api sekilas!
Kauw Che Tian tiba-tiba melepaskan senjata tongkat emasnya. Sepasang matanya yang biasa bersinar redup kini nampak bercahaya terang.
“bagus…! Nampaknya kini aku berhadapan dengan salah satu penerus Seshomaru si keparat itu…! Kini kakek buyut nampaknya bisa beristirahat dengan tenang… bersiaplah untuk mampus…!” ucap Sang Raja Monyet dengan geramnya.
Jika diperhatikan baru sekarang dia mengeluarkan suara…
Kali ini Kembali Kauw Che Tian menyergap Hanaoki Musashi, namun kali ini Sang Raja Monyet tidak menggunakan tongkatnya…
Dia menggunakan tapak berenersi bayangan Naga Hijau membara!
“Han Liong Si Pat Chiang! (18 Tapak Penakluk Naga!)
“Naga Mendekam Di Sawah”
Dua ilmu yang paling dahsyat dalam aliran pengemis adalah Jurus Tongkat Pemukul Anjing dan Pukulan Delapan Belas Tapak Penakluk Naga (Han Liong Si Pat Chiang) sudah hampir ratusan tahun kedua ilmu ini sudah tidak pernah muncul kembali.
Kini ratusan tahun kemudian, nun jauh di negeri Sakura, kedua ilmu dahsyat ini akhirnya kembali wujud dalam pertarungan mati hidup dua anak manusia!
Keringat deras mengucur di dahi Sang Angin, namun toh ekspresinya sama sekali tak berubah.
Dingin…
Sementara itu situasi buruk kini berbalik menimpa Fujidenki Kagawa, bidak-bidak yang dimilikinya menjadi tidak berdaya karena gerakan bidak mentri Lord Tokugawa secara langsung memotong garis strategis serangan bidak putih miliknya.
Butuh keajaiban untuk membalik posisi yang tidak menguntungkan ini…!
“ha.ha.ha…. akhirnya kau tidak punya jalan wahai Penerus Klan Kagawa…! Bidak mu itu tidak akan mungkin lagi mempertahan kan kedudukan rajamu…! Lihat baik-baik, jumlah bidakku masih lebih banyak dari punyamu! Bahkan keadaan mu kini yang berbalik terjepit… ha.ha.ha… sungguh aku tadi terlalu meremehkan mu… tapi sekarang aku puas! Ha.ha.ha…” gelak Sang Shogun sembari mengelus-elus janggut panjangnya.
Fujidenki Kagawa nampak mengerenyitkan keningnya. otaknya yang maha pintar sedang bekerja lebih giat lagi.
Semua sudah diperhitungkan secara matang olehnya. Dirinya tahu, dia dan sang pengawal tidak akan mungkin bisa mengalahkan Lord Tokugawa secara terang-terangan.
Perlindungan enam belas ribu pasukan dan delapan ratus samurai jelas sangat mustahil untuk di tembus.
Satu-satunya cara adalah menggunakan kelemahan Sang Shogun.
Dan kelemahan satu-satunya Sang Shogun bukanlah wanita.
Karena dia sudah punya banyak…
Bukan juga harta dan kejayaan
Karena dia pun sudah memilikinya…
Setidaknya Sang shogun memiliki dua kelemahan…
kelemahan Sang Shogun yang pertama adalah Catur…
Sang Shogun benar-benar tergila-gila dengan catur…!
Tapi bukan sembarang permainan catur…
Sang shogun juga adalah orang yang gila perang, baginya sehari tidak melihat darah yang tumpah sungguh hari tidak terasa lengkap.
Karenanya beliau menantang setiap jago dan pendekar di negeri sakura untuk bermain catur dengannya…
Permainan catur yang dimaksud tentu saja tidak sama dengan permainan catur yang biasa yang dimainkan oleh orang kebanyakan…
Caturnya adalah Catur Darah…
Harus ada korban darah dalam setiap kali permainan yang dijalankan olehnya dan si penantang.
Sebegitu sadis kah?
Memang sangat sadis, namun sang shogun juga adalah orang yang teramat murah hati, apapun keinginan sang penantang yang memenangi permainan catur dengannya pasti akan diwujudkan oleh Sang Shogun…
Meskipun permintaan sang penantang itu adalah kepala Sang Kaisar…
Jadi jangan heran jika penantang yang menantang Sang shogun tidak pernah surut, namun sayangnya sampai detik ini belum pernah ada satu pun permintaan Sang Penantang yang dituruti oleh Sang Shogun…
Bukan karena Sang Shogun ingkar janji…
Melainkan karena sampai detik ini pula Sang Shogun tidak terkalahkan…!
Karena itulah Fujidenki Kagawa melakukan perencanaan matang, Lord Kagawa ini menantang Lord Tokugawa melakukan permainan catur dengan korban darah Pengawalnya sendiri, Hanaoki Musashi
Sementara Korban darah Sang Shogun adalah dua puluh orang penjaga setia kebanggaannya.
Lord Kagawa yang cerdik dan licin dengan bantuan Pengawal kepercayaannya, Hanaoki Musashi dengan cerdik sebelumnya telah menanam peledak berkekuatan dahsyat di seluruh areal kediaman Lord Tokugawa
Hal ini diharapkan mampu memecah konsentrasi Sang Shogun penguasa dalam permainan catur nantinya.
Sebagai seorang ninja hal itu bukanlah hal yang sulit bagi Hanaoki Musashi.
Namun perkiraan yang cermat dari Lord Kagawa ternyata meleset!
Dentuman dahsyat dan kobaran api yang memakan habis seluruh kediamannya ternyata tidak membuat Sang Shogun bergeming dalam kensentrasinya bermain catur…!
Benar-benar Setan Catur Sejati…!
Sementara itu pertarungan antara Hanaoki Musashi dan Kauw Che Tian juga berlangsung semakin seru. Enersi yang keluar dari pukulan naga mendekam di sawah yang dilepas Kauw Che Tian benar-benar menakjubkan…! Enersi berbentuk naga hijau tersebut menyerang dengan ganasnya siap mencabik-cabik tubuh Hanaoki Musashi…!
Kawan, tentunya kau bertanya-tanya bagaimana kedua ilmu langka milik aliran kaypang bisa muncul bersamaan di negeri sakura?
Karena kau selalu ingin tahu maka akan ku jelaskan wahai kawan…
Seshomaru yang telah mendapatkan ilmu tongkat memukul anjing saat itu meminta Ang Lo Kuai untuk mengajarkan juga kepadanya Jurus Han Liong Si Pat Chiang atau Jurus Delapan Belas Tapak Penakluk Naga.
Namun sang ketua kaypang yang akhirnya mengetahui sifat asli Sang Ketua ninja desa koga ini tidak mau mengabulkan permintaan Seshomaru dan hal ini membuat Seshomaru gusar dan marah bukan kepalang.
Seshomaru pun akhirnya tega membuntungi kedua kaki dan tangan Ang Lo Kuai dengan harapan sang ketua kaypang tidak akan bisa menurunkan jurus Delapan Belas Tapak Penakluk Naga kepada orang lain.
Seshomaru pun akhirnya meninggalkan tubuh sekarat ketua kaypang dan kembali ke Jepang…
Seshomaru menyangka dengan luka yang sedemikian parah Ang Lo Kuai pasti tidak akan mampu bertahan.
Tapi langit berkehendak lain…
Tubuh sekarat Ang Lo Kuai akhirnya ditemukan dan di tolong oleh seorang pemuda bernama Kauw Sin liong
Kakek buyut Kauw Che Tian Si Raja monyet.
Ang lo kuai yang sekarat namun dipenuhi dendam sebelum meninggal masih sempat menurunkan rapalan jurus Delapan Belas Tapak Penakluk Naga kepada Sin Liong.
Sayang karena bertubuh lemah dan tidak menguasai kung fu tinggi, Sin Liong tidak bisa mencapai kesempurnaan ilmu Delapan Belas Tapak Penakluk Naga.
Sin liong yang pergi ke jepang untuk menyusul Seshomaru pun akhirnya dihabisi oleh Sang ninja yang kini tanpa tanding!
Sebelum meninggalkan keluarganya untuk membalas kematian ketua kaypang, Kauw Sin Liong meninggalkan sepucuk surat dan rapalan jurus Delapan Belas Tapak Penakluk Naga kedalam salah satu guci pusaka milik keluarga Kauw.
Guci ini kemudian tanpa sengaja dipecahkan oleh Tuan Muda Kauw Che Tian ratusan tahun kemudian.
Dari guci yang pecah itu, akhirnya terjawab sudah misteri lenyapnya Tuan muda Kauw yang menggemparkan dua puluh tahun yang lalu…
Dengan berdasar kepada surat yang ditinggalkan kakek buyutnya, Kauw Che Tian berusaha melacak jejak Seshomaru dan keturunannya.
Namun jejak Seshomaru dan keturunannya tiba-tiba lenyap bagai di telan bumi…
Kauw Che Tian yang kala itu bersumpah tidak akan balik ke kampung halamannya sebelum menemukan keturunan seshomaru akhirnya bergabung dengan Hidetoshi Tokugawa Sang Shogun Penguasa.
Kilas balik selesai
Sementara itu angin pukulan jurus naga disawah yang menggetarkan sedetik lagi akan menghantam tubuh Sang Ninja Koga…
Apa kah yang akan dilakukan Hanaoki Musashi…?
Inikah akhir riwayat Sang Angin dari Desa Koga…?
Entahlah kawan…
Seperti halnya Sang Tuan, Sang Angin pun nampaknya juga membutuhkan barang yang sama yang juga diperlukan Fujidenki Kagawa kali ini.
Barang itu bernama mukjizat…!
Dan tahukah kau wahai kawan?
Peruntungan kedua orang ini ternyata tidaklah jelek…
Mukjijat itu ternyata datang juga…
Namun dari sumber yang tidak disangka…!
Pukulan Naga Di Sawah Dari Delapan Belas Tapak Penakluk Naga memang amat menggetarkan dan luar biasa daya perusaknya. Namun pukulan ini mengandung kelemahan yaitu besarnya angin pukulan yang harus dikeluarkan sebelum pukulan inti menghantam sasaran…
Dan inilah mujijat pertama…
Jarak antara pertarungan Hanaoki dan Kauw Che Tian tidak terpaut terlalu jauh dengan pertarungan catur antara Fujidenkikagawa dan Lord Hidetoshi Tokugawa. Dalam keadan terjepit dan nyaris kalah, angin pukulan yang dikeluarkan jurus yang akan menghabisi nyawa pengawal setia Lord Kagawa sebagian ada yang menggerakkan sebuah bidak catur perwira milik Lord Tokugawa…!
Wajah Sang Shogun langsung berubah kelam…
“Bageroooo….!”
Bentak Sang Shogun dengan amat gusarnya…!
Dan hal ini langsung dipergunakan dengan cermat oleh Lord Kagawa, bidak mentrinya yang tergencet oleh dua bidak perwira Sang Shogun akhirnya bisa menyerang dan mengurung langkah sang raja tanpa bisa meloloskan diri lagi akibat bergesernya bidak ksatria yang tergeser akibat angin pukulan Kauw Che Tian…!
“Yang Mulia… anda Sudah Kalah…!” ucap Fujidenki Kagawa sembari tersenyum tipis.
Jumawa…!
Kemenangan berhasil diraih Fujidenki Kagawa, lalu bagaimana dengan nasib Si Angin sang pengawal setia…?
Mujizat kedua…
Hanya tinggal sedetik lagi pukulan naga disawah menerpa tubuh Hanaoki Musashi, sang ninja melakukan hal yang amat mencengangkan! Tongkat bajanya tiba-tiba melunak dan kepala rantainya yang berwujud belati tiba-tiba seakan hidup dan menari mengulung sinar pukulan Naga Disawah!
Ujung belati yang tajam berhasil menoreh angin pukulan sekaligus membuyarkan pukulan Naga Disawah dari Jurus Delapan Belas Tapak Penakluk Naga…!
Sungguh ajaib…!
Bagaimana bisa terjadi hal yang demikian…?
Semua karena Urat Naga…
Akan aku jelaskan padamu…
Daya hidup seekor naga adalah pada dua hal, yakni pada tanduk dan pada uratnya. Dalam hal ini tanduk naga pada pukulan delapan belas tapak penakluk naga adalah enersi yang terhampar dan dilepaskan melalui telapak tangan sementara urat naga adalah angin yang bersiur akibat pergesekan antara udara dan enersi yang melaju.
Untuk membuyarkan pukulan sedahsyat Delapan Belas Tapak Penakluk Naga tidak mungkin menggunakan kekuatan keras, satu-satunya cara adalah mengoyak urat naga yang timbul akibat enersi yang terbentuk dengan udara sehingga enersi pukulan tapak menjadi hampa…
Masih belum jelas juga…?
Bukan main…!
Baik akan ku perjelas kawan…! Semuanya ini demi dirimu yang selalu banyak bertanya…
Ambilah sebuah pipa air dan arahkan kemulut sungai…
Apa yang terjadi dengan mulut pipa yang satunya?
bukankah air yang mengalir menjadi deras dan kuat, tapi sekarang coba kau iris tepian pipa kiri dan kanan…
dan lihat apa yang terjadi…
sekarang pasti kau mengerti kawan…
dengan mengiris urat naga atau tepian pukulan Naga disawah mengakibatkan pukulan ini kehilangan kekuatannya dan akhirnya buyar sebelum menghantam tubuh sasaran.
Benar-benar akal yang jitu…! Namun bagaimana Sang Angin bisa melihat kelemahan pukulan ini…?
Jawabannya ada pada Seshomaru…
Seshomaru pernah berhadapan dengan Kauw Sin Liong si pewaris delapan belas tapak penakluk naga.
Hanya karena bakat yang rendah serta tenaga yang kurang saja yang menyebabkan Kauw Sin liong akhirnya tewas mengenaskan di tangan Seshomaru.
Namun kemenangan Seshomaru bukan berarti sang pemimpin ninja terlepas dari kerugian…
Akibat yang ditimbulkannya dalam pertarungannya dengan pewaris kaypang ini bahkan jauh lebih merugikannya daripada saat kekalahan pertarungannya dengan Hanzo Hatori dulu…
Karena lukanya yang fatal, Seshomaru akhirnya menyembunyikan diri bersama keturunannya dan berusaha meemecahkan kelemahan jurus delapan belas tapak penakluk naga.
Sekian tahun berlalu…
Melihat prestasi yang dialami Hanaoki Musashi hari ini, nampaknya apa yang dilakukan oleh seshomaru dulu tidaklah sia-sia…
Rahasia pukulan delapan belas tapak penakluk naga akhirnya terpecahkan…!
Kauw Che Tian memandang hanaoki dengan mata menyiratkan nafsu membunuh yang tiada tara. Hal ini jelas dapat dimaklumi selama dirinya malang melintang belum pernah sekalipun dirinya dipermalukan seperti ini.
Kauw Che Tian kembali melesat hendak melabrak Hanaoki, namun tiba-tiba langkahnya terhenti…! matanya mmbeliak sembari memegang dadanya yang bersimbah darah…!
Tiba-tiba tubuh Sang Raja Monyet ambruk bersimbah darah…
Sebutir bidak mentri hitam tergeletak diantara genangan darah sang raja monyet…
Kesunyian yang mencekam merayap diantara sisa-sisa puing Kastil Awan Merah.
Sang Shogun perlahan bangkit dan berdiri membelakangi Fujidenki Kagawa.
Tubuhnya nampak mengembang akibat arus prana dan kemarahan yang tiada tara…! Sang shogunlah yang membunuh anak buahnya sendiri Si Mentri Kauw Che Tian dengan menggunakan bidak catur…!
“Dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir ini baru dua kali aku dikalahkan orang dalam permainan catur…” ucap Sang Shogun sembari menatap ke angkasa.
Fujidenki Kagawa terhenyak mendengar kenyataan ini
“kejayaanku… kemegahan dan usaha keras puluhan tahun akhirnya harus hangus dalam sekejap karena aku terlalu memandang rendah kemampuan orang lain…” desah Sang Shogun masygul.
“Pergilah… bawalah apa yang kau inginkan… aku selalu menepati apa yang sudah ku tetapkan selama ini…” ucap sang Shogun sembari masih tetap memandang angkasa.
“tuan… aku… “ sang pelayan pemegang pedang yang tidak pernah bersuara kini tiba-tiba berbicara.
“Zano… jodoh kita hanya sampai disini… kau dan keluargamu sudah melayani keluarga Tokugawa selama lebih dari tiga generasi… sungguh sebenarnya teramat berat melepaskanmu…”
“kalau tuan tidak rela melepaskan ku, aku siap mati untuk tuan…!” ucap sang pelayan, sembari mengangkat kepalanya yang sebelumnya senantiasa tertunduk.
Ternyata sang pelayan adalah seorang pemuda tampan dengan sorot mata tajam seperti elang…!
“Bagerooo…! Kau ingin aku kehilangan harga diriku…! “ bentak Sang Shogun tiba-tiba. Dari tubuhnya tiba-tiba menghentak aliran energi yang amat dahsyat yang bahkan mampu menggetarkan jantung setiap orang yang ada dalam ruangan tersebut…!
Burung-burung yang melintas diatas kastil awan merah bahkan sampai berjatuhan dan tewas dalam keadaan kepala tak berbentuk!
Tak dinyana Sang Shogun Ternyata memiliki tenaga dalam yang dahsyat dan dalam tak terhingga…!
Fujidenki Kagawa dan Hanaoki Musashi sampai tercekat melihat kenyataan ini. Sesungguhnya membunuh mereka berdua bukanlah hal yang sulit bagi Sang Shogun Penguasa…!
Semudah membalikkan telapak tangan…!
Zano sang pelayan pemegang pedang pun akhirnya hanya bisa menunduk dalam-dalam.
Sang Shogun perlahan berjalan meninggalkan mereka semua, namun baru beberapa langkah bertindak, langkah sang shogun tiba-tiba berhenti.
“ayahmu adalah salah satu dari sekian banyak orang yang aku hormati dan segani… lelaki sejati…! Ayahmu pulalah orang yang pertama kali dapat mengalahkan aku dalam permainan catur… maksudku kemenangan yang sejati…”
Muka Fujidenki Kagawa memerah mendengar sindiran sang shogun, cepat-cepat dirinya membungkuk hormat. “sesunguhnya hamba mengakui hamba tidaklah mungkin mampu memenangkan pertandingan catur dengan yang mulia…”
“bagus…! lelaki sejati…! tidak malu kau menjadi anak Minamoto Kagawa…!” ucap sang shogun. Kali ini wajahnya sudah mulai nampak cerah.
“Tahukah kau apa yang menjadi permintaannya dalam permainan itu…?” ucap Sang Shogun pelan.
“apa itu…?” Tanya Lord Kagawa penasaran
“membiarkan keturunannya tetap hidup….” Ucap Sang Shogun sambil berlalu
Keringat dingin membasahi tengkuk Fujidenki…
Dingin sekali…
Dua minggu kemudian terlihat sebuah kapal dengan layar bersulam lambang Angin Dan Air meninggalkan semenanjung Po-hai di laut cina selatan.
Seorang pria muda dengan senyum jumawa berteman Sang Angin dan Sang Air bersiap melanglang buana mengarungi lautan lepas.
“kemana kita akan berlayar Master…” Angin mulai berhembus
“kita akan berlayar menuju ke negeri seribu pulau… ke tempat bernama Padepokan 212… tempat dimana kita bisa mencari dan menghancurkan keberadaan Langit ke Tujuh….!” ucap Lord Kagawa dengan senyum penuh misteri…
“Wahai Pendekar Tujuh Langit…! Sekalipun kau punya pedang dewa dan sanggup naik hingga ke ujung langit…! Kau tetap tidak akan lolos dari genggaman tangan ku…!”
Matanya menerawang keangkasa….
Seakan menembus hingga ke titian langit yang paling puncak…!
“LANGIT KE TUJUH…!!!”
* * * *
BAB III
TAPA BRATA NAN TAK KUNJUNG TUNTAS
Seorang Kakek nampak berdiri tegap di depan sebuah kolam kecil di tengah sebuah gua yang tersembunyi. Sang kakek wajahnya yang putih bersih menunjukkan sifat arif dan bijaksana, namun dibalik sinar matanya yang lembut nampak terpancar sedikit sifat tidak sabaran.
Sang Kakek mengenakan pakaian longgar dan sehelai jubah putih panjang, Gaya serta perbawa yang keluar dari dirinya menandakan bahwa kakek satu ini bukanlah seorang kakek biasa…
Benar…!
Sang kakek memang bukan orang biasa…
Orang biasa tidak akan mungkin mendatangi tempat yang aneh dan misterius ini. Tapi sang kakek ternyata mampu mendatangi tempat ini, tempat yang menjadi kawasan terlarang Padepokan 212…!
Mengapa yang lain tidak bisa datang sementara sang kakek dengan bebas dan leluasanya boleh memasuki tempat ini?
Jangan heran kawan…
Jelas saja sang kakek berhak memasuki tempat ini…
Karena dialah sang pemimpin Padepokan 212…!
Ki Abdul Madjid….!
Permukaan kolam panca warna tiba-tiba memancarkan cahaya berkilauan, sangat aneh! Mengingat keadaan di dalam goa itu sendiri amatlah gelap. Dengan hal ini bisa dipastikan bahwa kolam kecil ditengah goa itu pastilah memiliki sumber cahaya sendiri atau dengan kata lain ada barang pusaka atau Tosan Aji yang memancarkan cahaya mistis dari dalam kolam tersebut…!
Ki Abdul Madjid memandang kolam tersebut dengan sorot mata tajam bercahaya. Sang pemimpin padepokan 212 ini tahu dengan pasti bahwa tidak ada barang pusaka maupun barang mujijat dalam kolam kecil tersebut.
Sang kakek tahu dengan pasti karena sang kakek sudah berkali-kali menyelam kedasar kolam.
Cahaya kolam itu sendiri berasal dari satu sumber api dasar bumi yang terperangkap di dasar kolam. Sumber api tersebut terhalang oleh satu bongkahan batu aneh yang berwarna-warni yang terdapat di dasar kolam.
Pancaran cahaya yang keluar dari bongkahan batu inilah yang menyebabkan permukaan kolam memancarkan cahaya berwarna-warni.
“Saat ini adalah saat yang paling tepat untuk memulai kembali Samadhi Tapa Kamulyaning Jagat Sejati, beberapa saat lagi garis lurus akan terbentuk dari
cahaya Ketujuh Sapta Gemintang Sakral. Dengan duduk bertapa di atas kolam nan bermandikan cahaya tujuh bintang sampai Kultus Keramat Sapta Gemintang berakhir aku percaya dan yakin kalau Tahap Kamulyaning Jagat Sejati bisa aku tingkatkan lagi ke tahapan berikutnya…” batin sang kakek dengan dada berdebar kencang.
Sang kakek mulai membuka pakaian dan jubahnya, namun belum lagi helai terakhir pakaiannya dilepas, seberkas ingatan tiba-tiba menyeruak di benak sang kakek.
“Anak Setan itu…! Aku harus waspada…! Aku harus memeriksa keadaan sekitar gua. Kali ini tapa brata tak boleh gagal..!”ujar sang kakek sembari kembali mengenakan pakaiannya dan bergegas beranjak menuju mulut gua.
Sang kakek mengedarkan pandangannya ke seantero lembah dimana gua kecil yang cukup tersembunyi tersebut berada.
Sang kakek memejamkan matanya sesaat dan membaca satu rapalan dan tiba-tiba terjadi keanehan mana kala sang kakek membuka kedua bola matanya. Manik mata sang kakek yang berwarna hitam tiba-tiba membesar dan menutupi seluruh mata sehingga wilayah mata yang berwarna putih sudah tidak nampak lagi!
“Mata Langit Di Batas Cakrawala”
Dengan Ajian Mata Langitnya, kemampuan mata sang kakek sakti meningkat hingga ratusan kali! Ki Abdul Madjid kini mampu melihat sampai puluhan kilometer!
Nun dibawah lembah sana terlihat bangunan padepokan 212. para murid yang berjumlah puluhan orang nampak sedang berlatih dengan giatnya di lapangan padepokan
“dimana anak setan itu berada…?” batin sang kakek.
Sang kakek terus mencari dengan mata saktinya.
Akhirnya…
di satu sudut bangunan padepokan, sang kakek menemukan apa yang dia cari
Dua orang pemuda berbadan tegap nampak sedang bercengkrama dengan asyiknya.
Yang satu adalah seorang pemuda gondrong berbaju putih serta bertampang konyol, sementara yang satu lagi adalah seorang pemuda tinggi besar yang tegap berotot berdada bidang dan mengenakan rompi dari bulu menjangan. Dari kulitnya yang berwarna putih dan dari warna rambutnya yang pirang dapat dipastikan bahwa sang pendekar satu ini berdarah peranakan.
Mereka adalah
Cahsableng, salah satu dari tujuh satria 212
Si anak setan….
Dan sahabatnya, Si pendekar Bule
Edyone….
Kedua orang muda ini nampak sedang asyik berbincang sembari tertawa-tawa riang.
Sementara itu Nun jauh diatas sana, Ki abdul Madjid nampak menghembuskan nafas lega. Matanya kembali dipejamkan sembari membaca satu rapalan. Saat matanya kembali di buka, nampak kalau mata itu telah kembali kewujud yang normal.
“Nampaknya aku nya saja yang terlalu kuatir… setelah tiga tahun setelah masa pertarungan dikarang hantu, rasa-rasanya aku kini sudah bisa memulai Tapa brata ku yang selama ini terganggu..” Ujar sang kakek sembari mengelus dada.
Kawan, bagi orang yang menekuni ilmu pernafasan dan tenaga dalam, bertapa dan bersamadhi adalah sama pentingnya dengan makan maupun minum.
Bertapa bisa dikatakan sebagai deru nafas dan urat nadi bagi orang yang sedang melatih ilmu olah kanuragan. Oleh karenanya dalam bertapa maupun bersamadhi seseorang harus bisa mencapai keadaan hening mutlak…
Tidak boleh terganggu…
Lalu bagaimana jika tapa seseorang terganggu…?
Jawabannya ada dua Wahai Kawan…
Pertama Orang itu bisa gila…
Atau kedua, kalau pun selamat orang itu akan terluka parah dan kehilangan kemampuan silatnya…
Lalu bagaimana jika seseorang yang setiap kali bertapa selalu mendapatkan gangguan? Katakanlah ada seseorang yang bertapa sampai enam puluh sembilan kali dan enam puluh sembilan kali juga tapa nya terganggu…?
Ha…! Pertanyaan mu gila kawan…! Mana ada orang yang Setolol itu…! Tapi kalau yang mendekati sih ada… Cuma tiga puluh sembilan kali…
Nah…! Kau tersenyum…! Pasti kau bertanya orang bodoh mana yang tiga puluh sembilan kali gagal bertapa…
Eitss… jangan salah kawan…!
Orang itu bukan orang bodoh…! Sama sekali tidak bodoh..! kelewat pintar malah…! Dan selain pintar orang itu, bahkan memiliki ilmu yang sangat tinggi…
Dan dia bukan lain adalah sang Pemimpin Padepokan 212 sendiri…!
Ki Abdul Madjid
Atau yang dibelakang punggungnya dipanggil orang dengan sebutan…
“Kyai Gendeng Tapa Tak Tuntas…”
Ternyata selain urusan sembelit dan datang bulan, masih ada juga urusan di dunia ini yang tak kunjung Tuntas…Tas…Tas..!
Kembali ke cerita
Ki Abdul Madjid akhirnya kembali melangkah masuk ke dalam gua.
Sang kakek kemudian melepaskan seluruh pakaian dan langsung terjun kedalam kolam…!
Air yang bergejolak akibat masuknya tubuh Ki Abdul Madjid perlahan tenang kembali seiring dengan lenyapnya tubuh sang pemimpin padepokan 212 ke dalam kolam
permukaan kolam pun menjadi tenang layaknya lapisan kaca
Namun hal ini tidak berlangsung lama, perlahan namun pasti riak permukaan kembali terbentuk manakala tubuh sang kakek perlahan keluar kembali dari dalam kolam dan tidak itu saja, yang paling menakjubkan adalah tubuh sang kakek kini diam mengambang sejengkal dari permukaan kolam…!
Hal ini menandakan bahwa prana sang kakek sudah tidak dapat diukur lagi.
Kabut tipis perlahan menyelimuti tubuh sang kakek saat sang pemimpin padepokan mulai tenggelam kedalam alam tapa brata.
Sang kakek dalam samadhinya perlahan menyalurkan enersi kamulyaning jagat sejati miliknya ke setiap nadi dan otot dalam tubuhnya.
Pusaran energi perlahan menghayutkan jiwa dan pikiran sang kakek kealam swargaloka…!
Puncak Samadhi Manungaling Jagat akhirnya tercapai…!
Sang kakek sakti tidak lagi merasa duduk didalam goa kecil yang pengap. Dalam penglihatannya kini Sang Pemimpin Padepokan sedang duduk bertapa dibawah naungan sebuah pohon Bodhi raksasa!
Sebelum naik menjadi budha, pangeran sakyamuni pernah bertapa selama empat puluh hari di bawah pohon bodhi. welas asih sang pangeran mengundang menjangan dan binatang hutan lainnya untuk datang menemani tapa sang pangeran. Bahkan burung-burung menjadikan kepala sang pangeran sebagai alas sarang mereka…!
Kini apa yang dialami oleh pangeran sakyamuni kini juga dialami dan juga dirasakan oleh Ki Abdul Madjid..
Sang kakek merasakan kedamaian yang tiada tara kala melihat rusa, menjangan dan burung-burung nampak berdiam dan bersimpuh dihadapannya.
Inikah arti kedamaian sejati…?
Sang kakek menghembuskan nafas panjang, aliran prananya kembali dikerahkan ke seluruh tubuh.
“inilah godaan… aku harus mengerahkan jalur penutup panca indra ciptaning rasa… kosong… kembali menjadi kosong…” ujar sang kakek sakti sembari menutup matanya.
Yang ada hanyalah kehampaan…
Prana sang kakek yang sempat bergolak akhirnya tenang kembali.
Bayangan pohon bodhi dan swargaloka pun lenyap, namun tiba-tiba…
Terdengar suara desah wanita dan keharuman yang memabukan di sekitar tempat Sang Kakek sakti bertapa.
“Abdul…. Abdul…”
Buseeeet…!
Nama si kakek sakti pemimpin padepokan 212 di sebut begitu saja..!
Benar-benar kurang ajar…!
Alis sang kakek mulai terjengkit sebelah
Madjid…. Madjid… buka matamu madjid…. Aku ada disini…! Tidak rindukah kau padaku madjid…!” satu suara yang amat menggoda telinga Ki abdul madjid membuat sang tokoh kosen tanpa sadar membuka mata.
Dan sang Kakek langsung terperangah.
Dihadapannya nampak seorang wanita muda nan teramat cantik dengan pakaian Super-Amat-Terlalu-Masya Allah tipisnya bergerak sembari meliuk-liukan pinggulnya yang menggoda…!
Sang kakek cepat-cepat menutup kembali matanya…!
“ini godaan…! Aku harus bisa menahan godaan ini…!” batin sang kakek sembari berkonsentarasi mengatur prananya yang mulai tersendat.
Tubuh nya yang mengambang diatas kolam mulai bergetar kecil.
Setelah beberapa lama sang kakek akhirnya tidak tahan dan memicingkan matanya sebelah…!
“olaadalaaaah…!”
tubuh muda nan mulus itu kini polos…! Bugil…! Sungguh-Amat-Sangat-Terlalu-Ya Ampun-Menggiurkannya-nya!
Pertahanan sang kakek mulai tergoyahkan, apalagi saat gadis montok tersebut tersebut berjalan mendekat sembali melenggak-lenggokan pinggul dan dadanya.
“Guru….”
Dalam keadaan setengah sadar sang kakek masih sempat mendengar seseorang memanggil dirinya.
“Guru…”
“seseorang memangilku… tapi siapa…?” batin sang kakek. Ki abdul Madjid kembali menatap gadis yang melenggak-lenggok dihadapannya dan wajah sang kakek langsung berubah…!
Bagaimana tidak…! tubuh sang gadis masih menari dengan erotisnya namun kepala sang gadis sesekali nampak berubah menjadi kepala seeorang pemuda gondrong yang bertampang konyol…!
Sang kakek mengucak-ngucak matanya, hatinya berubah tenang kala melihat kepala sang pemuda gondrong kembali berubah menjadi kepala seorang gadis cantik
“ternyata bukan si anak setan…” batin si kakek
“Guru…”
Satu suara kembali membuat sang kakek membuka matanya dan…
Mata sang kakek seakan meloncat keluar manakala merasakan kalau si gadis sekarang sudah bergelayut manja di dalam pangkuannya…!
Benar-benar gila…! Darah sang kakek bertambah panas manakala melihat si gadis tiba-tiba membentangkan kedua pahanya sementara tangannya sambil lalu mulai sibuk bekerja “menyiangi” pekarangannya…!
Nafas sang kakek seakan terputus…!
“guru…..!”satu suara kembali terdengar berusaha menyadarkannya kembali
Ki Abdul madjid kembali mengucak-ngucak kedua matanya, andai saja sang kakek tidak melakukan hal itu, semua mungkin akan lebih baik…
sayang…
Dan terjadilah apa yang harus terjadi…
saat kedua matanya dibuka yang dilihat kini bukan lagi seorang gadis cantik dengan tubuh bugil polos melainkan seorang pemuda gondrong yang bertampang konyol yang sedang asyik dan tekun menggaruki selangkangannya…!
Siapa lagi kalau bukan Cahsableng…!
Tanpa ampun tubuh yang kehilangan konsentrasi ini jatuh kedalam kolam panca warna…!
“Dasar anak setaaaan….! Kau ingin gurumu cepat mati…?” bentak sang kakek seraya melompat keluar dari dalam kolam.
Tubuhnya basah oleh air dan keringat akibat tapanya yang terputus. Namun gerakannya sangat enteng, secepat kilat disambarnya tubuh muridnya yang nampak sedang berlutut di lantai gua.
Genaplah sudah empat puluh kali tapa sang pemimpin padepokan 212 terputus…
Mungkin memang sudah suratan takdir Ki Abdul Madjid…
Selamanya menyandang gelar Kyai Gendeng Tapa Tak Tuntas…
Ki Abdul Majid mengangkat tubuh Cahsableng tinggi-tinggi
“Anak Setan…! jawab pertanyaan ku ini…! ini sudah kali berapa kau mengganggu tapa gurumu ini ayo jawab..! kau ingin gurumu ini cepat mati..?”bentak sang guru dengan amarah meledak-ledak.
“ampun… guru… saya… saya… tidak bermaksud… tapi… saya…tidak…” cahsableng tergagap
“apa saya… saya…? ngomong yang jelas…!” bentak Ki Abdul Majid tidak sabaran.
“maaf Guru… saya tidak bermaksud mengganggu tapa guru lagi kali ini… benar guru… kali ini tidak sama seperti yang tiga puluh sembilan kali itu guru… kali ini saya benar-benar terpaksa…”
Ternyata selama ini Cahsableng lah orangnya yang selalu mengusik dan membuat tapa sang guru terputus.
Pantas saja sang guru menjulukinya Si Anak Setan…
“apa maksudmu terpaksa…?” sang guru masih mencengkram baju muridnya.
“Dewa Arak ada di padepokan guru…! Namun dia terluka parah dan tak sadarkan diri…! Selain itu juga Mbok Tukijem yang datang bersamanya juga terluka parah guru…! Bahkan mungkin sebentar lagi mereka berdua mungkin akan meninggal…!” ucap Cahsableng membuat Ki Abdul Majid Terperanjat
“kenapa tidak ngomong dari tadi…! Dimana mereka sekarang…?”tanya sang kakek seraya melepaskan cengkramannya pada baju Cahsableng.
“mereka ada di aula Padepokan, Guru… sedang diperiksan oleh Tabib Wong dan Meilan…”
“jangan membuang waktu lagi… kita harus kesana sekarang…!” ucap Sang kakek seraya melesat keluar gua.
“tunggu sebentar guru…!” teriak Cahsableng sembari berlari memburu sang guru.
“nanti saja…! Keselamatan saudara mu jauh lebih penting…!” ucap sang kakek sakti sembari melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
“Langkah Kaki Angin”
“Guruuuuu….. tunggu sebentar guruuuuu…” Cahsableng berteriak sekeras mungkin.
Namun sia-sia saja karena tubuh sang kakek sudah tidak terlihat lagi.
Ilmu langkah kaki angin memang teramat sakti…!
“GURUUUUUU….! GURUUUU BELUM PAKAI CELANAAAAAAAA…!” Teriak Cahsableng dengan sekuat tenaga yang dia mampu.
Inilah usaha Sang murid yang terakhir….
BAB IV
OTOT GAMBLANG & SERAT JATI AKAR SINAMBUNG
Suasana di padepokan 212 pagi itu terasa amat lain dibandingkan suasana pagi biasanya. Aula padepokan yang cukup luas sepagi ini sudah dipenuhi oleh para murid padepokan 212 dan pendekar lainnya serta masyarakat yang tinggal di lereng gunung Gede.
Suasana tegang dan mencekam terasa mengambang berat di udara pagi itu, Semua wajah yang ada menunjukkan raut muka yang sedih dan khawatir. Ketegangan tergambar jelas di wajah-wajah nan pucat tersebut.
Seakan-akan semua pendekar dan murid padepokan saat itu sedang mati bini…
Namun sesunguhnya ada satu hal yang ganjil jika kawan memperhatikan semua wajah yang ada dalam ruangan tersebut.
Dari semua wajah yang tertunduk sedih dan khawatir, ada satu wajah yang tidak menunjuk rona kesedihan, senyum manis bahkan terukir di wajahnya yang menatap langit-langit aula padepokan!
Amat kontras…! 75
Disaat para rekan dan saudara sedang dirudung duka dan nestapa serta terombang-ambing dalam gelora kekhawatiran yang tidak menentu, sang empunya wajah malah asyik menutup mata dan tersenyum riang.
Seolah-olah telah menemukan arti dan rahasia intisari keidupan…
Kau pastinya merasa berang dan bertanya siapakan “si empunya” wajah yang tidak tahu malu itu…
Janganlah berburuk sangka terlebih dahulu wahai kawan…
Karena si empunya wajah inilah yang membuat para murid dan padepokan 212 di pagi itu merasa sedih dan menitikkan air mata.
Wajah yang tersenyum itu adalah wajah Sang pemilik Kendi Arak Kumala dan Gendewa Emas…
Wajah Sang Dewa Arak…
Disisi tubuh Dewa Arak yang terbaring diam diatas dipan di tengah aula berdiri Tabib Wong.
Tabib Wong adalah Seorang Tabib atau Shinse terkenal dari kota Lokyang di dataran Tionggoan 76
Kawan jika kau berpikir seorang Shinse atau tabib seperti Tabib Wong ini adalah pria tua bertubuh gemuk pendek dengan wajah bulat lucu dan alis panjang serta berbau Kolesom dan selalu berbicara cadel “hayaaah… Owe Olang Muka Biang Lacun….”
Maka kau salah besar kawan…
Tabib Wong bertubuh Tinggi besar dan tegap, bahkan terbilang terlalu tinggi jika dibandingkan dengan orang-orang Padepokan 212.
Mungkin di Kuto Gede hanya Pendekar Bule yang mampu menyamai tinggi Tabib Wong.
Tubuh tegap berotot milik Tabib wong juga ditunjang oleh wajahnya yang tampan yang walaupun sudah memasuki umur tiga puluhan, namun diyakini masih mampu membuat Janda dan perawan mabuk asmara seperti Kucing minum cuka.
Kumis kucai, alis golok dan mata mencorong ternyata mampu menyembunyikan Kehebatan sang Tabib dalam menyembuhkan penyakit yang sesulit apapun!
Dialah Bay Im Wong atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tabib Wong, Sang Tabib Dewa …! 77
Di tengah aula tersebut Dewa Arak tidak berbaring sendiri, di sampingnya juga ada sebuah pembaringan…
di pembaringan tersebut sedang terbaring terlentang seorang nenek tua.
Nenek tua, ataupun nenek muda tetap saja seorang nenek-nenek, tidak mungkin ada yang istimewa dalam hal ini.
seorang nenek dengan mulut perot dan berbaju kebaya lusuh seharusnya memang tidak memiliki hal yang istimewa dan spesial, tapi pada kenyataanya tidak demikian karena sesungguhnya memang ada yang istimewa pada nenek tersebut…
atau yang lebih tepatnya yang ada diatas nenek tersebut…!
“Berlari Terbang Diatas Rumput…”
“Melontarkan Tujuh Puluh Dua Jarum Ditengah Badai…”
Sesosok bayangan kuning bergerak lincah melayang-layang diatas langit-langit padepokan, tangannya yang kecil dengan jemari lentik nampak bergerak gesit kian kemari.
Hanya dengan satu hembusan nafas nampak tujuh puluh dua jarum setipis bulu kerbau telah menancap di tujuh puluh dua titik darah di tubuh sang nenek! 78
Sungguh hebat ilmu melontarkan jarum yang di pertunjukkan si bayangan kuning…!
Tiada duanya…!
Nafas sang nenek yang sebelumnya terdengar memburu perlahan menjadi tenang seiring dengan mencairnya jarum yang menancap di ketujuh puluh dua jalan darahnya.
Ketujuh puluh dua jarum tersebut ternyata adalah jarum es…!
Benar-benar luar biasa…!
Inilah yang dimaksud dengan sesuatu yang spesial & Istimewa tadi… Jadi sesungguhnya tidak ada sangkut pautnya dengan si nenek!
Si Bayangan Kuning tersebut kini telah mendarat di sebelah Tabib Wong.
“Luka Mbok Tukijem tidak separah Luka Dewa Arak, dengan ke Tujuh Puluh Dua Jarum Es milikmu, rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi atas diri sang nenek. Kerja mu bagus Meylan…” ucap Tabib Wong kepada si bayangan kuning yang ada di sebelahnya.
Orang yang disapa Tabib Wong nampak mengangguk dan tersenyum manis.
Si bayangan kuning tersebut ternyata adalah seorang gadis cantik…!
Mata berbinar laksana bintang kejora, rambut di kepang kuncir kuda serta senyum menawan membuat Sang Gadis menjadi bintang yang bersinar di hati setiap murid padepokan 212. 79
Dialah Meylan, adik perempuan satu-satunya Tabib Wong si Tabib dewa.
“bagaimana keadaan Kakang Dewa Arak kak?”
Tabib Wong hanya menghela nafas panjang. Keningnya berkerut menandakan dirinya sedang berpikir keras.
Belum lagi Sang Tabib bersuara, dari serambi dalam tiba-tiba muncul seorang kakek berjubah dan bersorban putih.
Dialah sang Pemimpin padepokan 212.
Ki Abdul Majid.
Ki Abdul Madjid berjalan dengan wajah tegang dan risau.
Di belakangnya mengikuti Cahsableng…
Wajah Cahsableng tidak seperti wajahnya beberapa saat sebelumnya, kali ini Cahsableng datang dengan wajah yang nampak memar membiru, bahkan matanya kirinya terlihat bengkak sehingga yang terlihat hanya berupa sebuah garis tipis…!
“Cahsableng…!” 80
Tabib Wong hendak melesat kearah sang pendekar, namun dirinya telah didahului sang adik…
“Apa yang terjadi kang? Kenapa wajahmu sampai hancur-hancuran seperti ini?” ucap Meylan dengan cemas.
Si Pendekar hanya bisa melirik kikuk kearah sang guru.
“bertahanlah sebentar pendekar, ada hawa sesat yang bersarang di wajahmu…” ucap Tabib Wong seraya hendak menempelkan tapaknya di tengkuk sang pendekar konyol.
“aku… aku tidak apa-apa Tabib Wong… Meylan… terima kasih… aku Cuma… aku…” sang pendekar tergagap kikuk.
Kembali diliriknya sang guru…
Sang guru nampak meniup-niup kepalan tangannya…
Dan sejatinya kepalan tinju Ki Abdul Madjid memang benar-benar besar…
Jika dibandingkan dengan ukuran sebuah ketupat, mungkin Ketupat Bengkulu yang terkenal itu pun kiranya tidak sebesar kepalan tinju Ki Abdul Madjid…
Cahsableng sejatinya pun juga “benar-benar memaklumi” akan hal itu… 81
Bahkan mungkin lebih maklum-semaklum-maklumnya dari pada si empunya kepalan sendiri…
Bilakah ada orang yang pernah merasakan tinjunya sendiri…?
Sang pendekar kembali tertunduk.
“apakah kau juga diserang gerombolan orang yang melukai kakang Dewa Arak dan Mbok Tukijem…?” Tanya Meylan sembari meraba-raba wajah Cahsableng.
Apa yang dilakukan sang gadis membuat Edyone, Si Pendekar Bule Menenggak ludah…
“kapan jemari lentik itu bisa meraba-raba wajah ku yah…?” batin Si Pendekar Bule sirik.
Rupanya Si Pendekar dari Lembah Petir ini sudah sejak lama menaruh hati pada adik Tabib Wong ini.
“aduh… aduuuh… Tatiiit… Meylaaan…! Peyan-peyaaaan dong… ” keluh Cahsableng manja saat sang gadis mengusap wajahnya yang bonyok dengan sehelai kain.
“Dasar kolokan…! Manja amat sih…!”
Si Gadis tersenyum melihat tingkah manja Cahsableng 82
“kau belum menjawab pertanyaan ku Cahsableng… siapa yang sudah membuat wajah mu jadi seperti ini…” ucap sang gadis sembari masih terus mengelap wajah sang pendekar.
Apa yang dilakukan sang gadis membuat Cahsableng terharu, diambilnya kain di tangan Meylan dan dihirupnya dalam-dalam…
Ada bau aneh yang menyeruak namun Sang Pendekar tidak memikirkannya, baginya dalam kain kumal itu tersimpan kasih sayang dan perhatian Meylan sang bunga padepokan.
Wajah Pendekar bule sampai memerah keki dibuatnya!
“Aku tidak diserang siapa-siapa Meylan… aku… tadi aku diserang anjing gila… aku…” Cahsableng tidak melanjutkan ucapannya kala melihat Sang guru kali ini telah menempelkan tinju kanannya di jidat…!
Sementara tinju kiri sang kakek nampak memuntir-muntir pipinya sendiri yang kempot…!
Dan Ini masih di tambah dengan sepasang mata Sang kakek yang melotot lebar kearah Cahsableng…!
Kasihan benar nasib pendekar satu ini…
Tubuh Sang pendekar sampai-sampai mengerut seakan-akan mengecil ke sudut ruangan melihat tatapan Sang Guru…! 83
Yang bisa dilakukannya hanyalah mengendus-endus kain ditangannya sembari melirik Sang Guru dan Meylan secara bergantian.
Sang gadis tertawa kecil.
“syukurlah kalau begitu… kulihat luka mu juga sudah tidak berbahaya lagi, aku ingin melihat keadaan Mbok Tukijem dulu…” ucap sang gadis seraya meninggalkan Cahsableng yang sedang mengendus-endus kain di tangannya seperti kucing bertemu ikan asin.
Baru berjalan selangkah tiba-tiba si gadis berbalik.
“oh ya, jangan lupa nanti kau kembalikan kain di tanganmu ke Setan Ngompol kalau beliau sudah balik dari kaki gunung… itu kain stagen miliknya… aku tadi meminjamnya untuk menyadarkan Mbok Tukijem, tapi sepertinya sekarang sudah tidak perlu lagi…” ucap sang gadis enteng seakan tanpa dosa….!
Sang gadis pun berbalik meninggalkan Cahsableng untuk kembali ke sisi pembaringan Mbok Tukijem..
Wajah Si pendekar memucat…
Suara aneh terdengar dari tengorokannya…
Dipandangi kembali dalam-dalam kain di tangannya…
lalu melesat juga kain stagen itu kearah murid-murid padepokan yang lain…! 84
Sumpah serapah mewarnai hari Cahsableng sepanjang pagi itu.
“Sudahlah… aku akan membuatkan ramuan untuk mu Cahsableng… sekarang beristirahatlah, aku akan menemui gurumu untuk melaporkan keadaan Dewa Arak…” ucap Tabib Wong seraya menepuk pundak Cahsableng.
Cahsableng hanya bisa mengangguk pelan.
Tabib Wong kembali berjalan kearah pembaringan Dewa Arak dan menjura hormat kepada Ki abdul Madjid.
“Bagaimana Keadaannya Tabib? Apakah muridku ini masih bisa diselamatkan?” Tanya sang pemimpin padepokan 212 dengan nada khawatir
Alis Tabib Wong kembali menyatu.
“luka yang dialami oleh Dewa Arak jauh lebih parah dari yang dialami oleh Mbok Tukijem. Seluruh otot tubuhnya telah hancur dan bukan itu saja, nadi serta uratnya terputus dan menyebabkan dirinya keracunan aliran darahnya sendiri… sungguh amat mustahil untuk menyembuhkannya dengan kondisi seperti ini…”
Semua orang terhenyak mendengar penuturan Tabib Wong
“walaupun juga seandainya bisa disembuhkan, Dewa Arak tidak akan bisa pulih seperti sediakala… Dengan Kata Lain jika bisa disembuhkan sekalipun Dewa 85
Arak akan menjalani seluruh sisa hidupnya sebagai orang yang cacat… “sambung Tabib Wong.
Seluruh Penghuni Padepokan nampak tertunduk sedih.
“sebenarnya kejadian apa yang menimpa Dewa Arak dan mbok tukijem hingga mereka berdua terluka parah seperti ini…?” Tanya Pendekar Bule.
“entahlah kawan, aku menemukan Mbok Tukijem dan Dewa Arak tadi pagi di depan pintu rumah… Mbok Tukijem nampak sedang membopong tubuh Dewa Arak kala kutemukan pingsan di depan pintu. “
“dari luka yang dialami mereka berdua aku bisa memastikan bahwa mereka berdua diserang oleh segerombolan orang yang berilmu tinggi…”
“bisakah kau mengenali gerombolan tersebut dari luka yang mereka alami tabib…?” Tanya Ki Abdul Madjid Penuh Harap.
“ehm… setidaknya ada dua pukulan yang mampu membuat organ dalam manusia seperti otot, urat dan nadi hancur atau terputus…”
“yang pertama adalah Tapak Pemutus Urat dan kedua adalah Ilmu Sembilan Sangkalan…”
“menurut Tabib Wong, ilmu mana yang dipergunakan oleh orang-orang yang menyerang keduanya…? Tanya salah seorang pendekar. 86
“tidak kedua-duanya….!” jawab Sang Tabib membuat semua orang yang ada merasa heran
Tabib wong kemudian menunjuk kearah ubun-ubun, tulang belikat dan sepasang pergelangan kaki Dewa Arak.
“perhatikan baik-baik, rusaknya otot dan terputusnya urat serta nadi Dewa Arak semuanya terjadi dimulai dari ketiga bagian ini… ini jelas-jelas merupakan tiga ilmu berbeda yang kemudian digabung menjadi satu sehingga daya rusaknya menjadi tidak terhingga…”
Semua menilik dengan seksama dan mengaggukan kepala masing-masing.
“apakah Ki Abdul Madjid mengenal aliran yang menggunakan ilmu yang berbeda-beda namun dapat disatukan menjadi satu ilmu yang maha dahsyat…?”Tanya Tabib Wong seraya menatap wajah Ki abdul Madjid.
Wajah sang Pemimpin nampak memucat sebelum terlihat menganggukkan kepalanya.
“Ini Pasti Gelaran Dolanan Satwa dari Sapta Satwa…” ucap Sang Pemimpin Padepokan 212.
“Tidak salah lagi…!”
“Dolanan Satwa adalah Ilmu maha dahsyat milik aliran Sapta satwa, yang terdiri dari tujuh ilmu Satwa yang berbeda yang digabungkan menjadi satu 87
dalam sekali serangan. Tingkatan ilmu tersebut tergantung pada banyak nya jumlah ilmu Satwa yang disatukan…” sambung Ki Abdul Madjid.
“apakah Dewa Arak mempunyai masalah atau silang sengketa dengan Aliran Sapta Satwa…?” tanya Tabib Wong.
seluruh penghuni padepokan nampak menggeleng lemah.
“Entahlah Tabib… sudah lama Dewa Arak dan Dewi Dua Musim istrinya tidak mengirimkan berita ke padepokan sehingga kami semua tidak ada yang mengetahui kabar dari mereka…”ucap Sang kakek sakti dengan lesu.
“apa tidak ada jalan lain untuk menyembuhkan Dewa Arak Kak?” Tanya Meylan yang langsung diamini oleh seluruh penghuni Padepokan.
“Sebenarnya bukan tidak mungkin untuk mengembalikan keadaan Dewa Arak seperti semula… namun begitu aku pun masih sangsi dengan jalan pemecahan yang satu itu…” ucap Sang Tabib sembari merenung.
“coba katakanlah cara pemecahan yang bagaimana yang kau maksudkan itu Tabib Wong, kami semua percaya akan kemampuanmu dan dalam hal ini kami semua juga sangat mengandalkan kepandaian yang kau miliki untuk mengembalikan keadaan Saudara kami Dewa Arak…” kali ini Edyone, si Pendekar Bule yang membuka suara. 88
“bisakah seseorang pergi ke dapur dan mengambil ayam potong yang tadi baru saja di potong oleh Meylan untuk sarapan…?”ucap Tabib Wong membuat semua orang yang ada mengerenyitkan kening.
“Apa yang akan diperbuatnya dengan ayam potong?”
Batin semua orang dalam ruangan.
Beberapa saat kemudian seorang murid padepokan yang berlari kedalam dapur sudah membawa dua ekor ayam yang sudah disembelih dan bahkan sudah disiangi tubuhnya!
“terima kasih…”
Tabib wong menggenggam kedua ayam tanpa kepala dan tanpa bulu tersebut dan perlahan meletakkannya di lantai, begitu tubuh ayam potong tersebut menyentuh lantai dengan secepat kilat Tabib Wong menotok tubuh ayam tersebut di beberapa bagian…!
Hening sejenak…
Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh Tabib Wong?
Semua orang bertanya-tanya dalam hati akan tindakan Tabib Wong yang dianggap aneh.
Menotok bangkai ayam tentu saja bukanlah hal yang bisa dilihat setiap hari bukan? 89
Namun Setelah beberapa saat ditunggu tidak juga terjadi apa-apa, dan hal ini membuat semua orang termasuk Cahsableng menjadi penasaran…
Sang Pendekar perlahan beranjak mendekati kedua bangkai ayam yang teronggok diatas lantai.
Kawan, aku berani menjamin dan menjadi saksi bahwa Cahsableng adalah salah satu makhluk Tuhan yang diciptakan memiliki satu sisi pribadi unik yang susah dijabarkan dengan kata-kata…! Elegan namun absurd… Ajaib namun amat bernuansa… Ganjil namun penuh dengan pesona…!
Jika diberi pengandaian sempurna untuk pribadi Cahsableng yang menarik ini, maka pribadi Cahsableng adalah layaknya bagaikan sebuah Fragmen yang dibingkai dengan begitu sempurnanya dan diisi oleh Mozaik indah berwarna-warni.
Yang kemudian akhirnya dibentuk dan dirangkai dengan begitu teliti oleh tangan-tangan terampil serta cekatan hingga menjadi suatu bentuk Ornamen Maha Karya Seni nan Indah dan Menawan…
Yang disatukan potongan demi potongannya dengan teramat cermat dan teliti menggunakan perekat khusus…
berbahan dasar Tahi Ayam…
Ya…
Ayam…
Hal yang paling ditakuti oleh Cahsableng di dunia ini selain gurunya adalah Ayam… 90
Konon dulunya saat masih kecil Cahsableng selalu disiksa oleh Ibu Kandungnya…
Jika Cahsableng terlambat bangun…
Maka hukumannya adalah Hukum Ayam…
Jika Cahsableng memecahkan piring saat mencuci piring, atau menghilangkan kain milik si ibu saat mencuci di kali maka hukumannya juga adalah…
Hukum Ayam…
Apapun kesalahan yang dibuat oleh sang Cahsableng kecil maka hukumannya tetap adalah…
Hukum Ayam…
Kawan, kau pasti hendak bertanya sebenarnya Hukum Ayam itu hukum yang seperti apa..?
Kawan, aku sungguh tidak berani untuk menjelaskannya…
Aku sangat kasihan pada Cahsableng…
Lihatlah wajah bodohnya saat terdiam merenung atau saat sedang bersedih…
Kau pasti bisa merasakan sendiri betapa kejam dan tidak manusiawinya Hukum Ayam tersebut…
Demikianlah kisah pilu Cahsableng kecil…
Korban tidak senonoh dari seorang ibu yang terobsesi akan ayam… 91
Karena pengalaman masa kecilnya itulah maka Cahsableng sangat takut pada satu rumpun makhluk hidup ciptaan Yang Maha kuasa yang bernama Bangsa Ayam…
Namun rasa penasaran seseorang terkadang mampu mengalahkan segala halangan dan keterbatasan seseorang…
Dan dengan mengatas namakan rasa penasaran itulah, Cahsableng akhirnya mampu mengalahkan ketakutannya tersebut dan beranjak mendekati kedua bangkai ayam tersebut.
Jadi tentunya bisa dibayangkan sendiri kekagetan dan keterkejutan sang pendekar mana kala tiba-tiba seekor ayam yang tidak berbulu dan berkepala serta telah dianggap telah Almarhum tersebut tiba-tiba bergerak bangkit dan berlari mengejar dirinya!
Bukan Cuma Cahsableng, semua orang padepokan 212 termasuk sang guru pun terpana dengan peristiwa yang terjadi…!
Seekor ayam yang bangkit dari kematian…!
Zombie dalam kemasan Ayam…!
“Woooiiiiiii….. Ayamnya Woiiiiii….!!!! Ayamnya Woiiiii….!!!! Tuluuungin….! Woooiiiii Tulungiiinn… Nich Ayamnya Nich… Wooiiii…!!!” Teriak panik Cahsableng sembari berlari jatuh bangun dikejar-kejar Sang Zombie Ayam…! 92
Sungguh mengenaskan nasib sang pendekar hari ini…
Entah mimpi apa dia semalam…
Semula setiap pendekar dan murid Padepokan 212 nampak tercekat namun akhirnya meledak pula tawa di aula yang sebelumnya sarat dengan nuansa kesedihan tersebut.
Namun atas dasar rasa persaudaraan dan belas kasihan melihat penderitaan Cahsableng, para pendekar dan murid yang lain akhirnya terketuk juga hati nuraninya.
Mereka pun akhirnya kompak bergerak bersama..
Maka kemudian terlihatlah satu pemandangan yang ganjil dan absurd…
Sekumpulan orang gagah nan perwira serta berkepandaian tinggi lintang pukang berlarian kesana-kemari mengejar-ngejar seekor ayam yang bugil dan tak memiliki kepala…!
Cahsableng akhirnya terduduk di lantai dengan nafas ngos-ngosan..
Meylan menutup mulut berusaha menahan tawa…
Hanya Tabib Wong dan Ki Abdul Madjid yang nampak diam dan tenang.
Bagaimana dengan Edyone, Si Pendekar Bule?
Jangan ditanya lagi…! 93
Dia berada di urutan paling depan dalam barisan orang yang mengejar-ngejar Si Ayam nan malang…!
“Tangkap ayamnya guoblok…”
“ke kiri noch… kiri noch… aduh luput…!”
“Saepuuul…! Jangan diem aje loe…! Tuh dia lari ke elo tuh…!”
“maling… maling…maling….”
“woiii.. ini ayam … bukan maling…!”
“bego banget sih….!!!!”
Demikianlah suara-suara para pengejar ayam terdengar riuh rendah saling bersahut-sahutan melingkupi aula padepokan 212.
Sungguh ramai…!
Meylan tak dapat lagi menahan dirinya, sang gadis nampak mendekap perut seraya tertawa terpingkal-pingkal…!
Sementara itu Tabib Wong nampak mengangkat ketiga jarinya dan mulai menghitung.
“Satu… dua… tiga…!”
Aneh dan ajaib…! pada hitungan ketiga, ayam yang dikejar-kejar tersebut tiba-tiba terbanting dan mengejang sesaat sebelum akhirnya diam tak berkutik…!
Para pengejar ayam nampak terduduk lemas… 94
Tabib Wong mengambil kedua ayam dan menunjukkannya kepada Ki Abdul Madjid.
“keadaan kedua ayam ini sama seperti keadaan Dewa Arak dan Mbok Tukijem…
Ayam yang tadi seakan bisa hidup kembali sebenarnya hanyalah ayam yang telah kuisi dengan enersi prana. Walaupun tubuhnya sudah mati, namun otot nadi dan uratnya masih bisa bekerja.. inilah yang menyebabkan sang ayam seolah bisa hidup kembali…”
Ki Abdul Madjid meneliti ayam yang tadi mengejar-ngejar Cahsableng dengan seksama.
“sedangkan ayam yang satunya lagi tidak bisa kembali bergerak karena sebelum ku totok seluruh organ dalam termasuk otot, nadi dan urat nya telah kuhancurkan dengan tenaga dalam… jadi sebesar apapun energi prana yang kumasukan kedalam raga ayam tersebut tidak akan berguna karena seluruh organ vitalnya telah hancur…” sambung Tabib Wong seraya mengangsurkan ayam yang satunya lagi kepada Ki Abdul Madjid untuk diperiksa.
Ki Abdul Madjid kemudian kembali meneliti kedua ayam tersebut dan menganggukkan kepalanya.
“aku sudah bisa mengerti apa yang kau maksudkan Tabib Wong, cara penyembuhan satu-satunya bagi Dewa Arak adalah dengan cara memperbaiki otot yang rusak serta menyambung kembali seluruh urat dan nadi yang 95
terputus baru kiranya bisa ada harapan bagi muridku ini untuk pulih seperti sedia kala…”
“Tepat…! Itulah satu-satunya cara yang harus dilakukan untuk mengembalikan kondisi Dewa Arak…!”
Seluruh penghuni padepokan pun akhirnya mengerti dengan maksud dan tujuan dari tindakan Tabib Wong dengan dua ekor ayam barusan. Hal ini juga akhirnya membuka mata semua murid dan pendekar yang ada bahwasanya Tabib yang satu ini disamping tinggi ilmu pengobatannya, juga memiliki ilmu silat yang teramat tinggi…!
Bayangkan…! Membangkitkan seekor ayam…!
Itu baru ayam… belum yang lain…
Katakanlah… “ Burung ” misalnya… ☺
Para murid dan para pendekar sudah tidak bisa lagi melihat Sang Tabib dengan pandangan sebelah mata…!
“Sayang untuk menyembuhkan keadaan Dewa Arak, setidaknya kita membutuhkan dua buah benda… dan kedua benda inilah yang sebenarnya membuat aku ragu dan sangsi apakah kita bisa dan mampu menolong dewa Arak…” Sang Tabib kembali berucap.
“Tabib Wong, sebenarnya barang apa yang kau maksudkan? Percayalah pada kami… demi kesembuhan Dewa Arak, segala cara akan kami laksanakan dan 96
kami tempuh… jangan kan cuma dua macam benda, walaupun harus mencari seribu buah benda sekalipun kami pasti akan sanggup untuk melaksanakannya…!” ucap Cahsableng yang langsung diamini oleh segenap penghuni padepokan 212.
Tabib wong memandang kagum kepada seluruh penghuni padepokan.
“rasa persaudaraan dan kesetia kawanan mereka memang benar-benar luar biasa dan patut diacungi jempol… aku benar-benar salut…” batin sang tabib
“aku mengahargai itikad baik dan rasa persaudaraan kalian dalam membantu kesembuhan Dewa Arak… baiklah aku akan jelaskan… barang pertama yang aku butuhkan untuk mengembalikan dan membentuk kembali otot dan sendi Dewa Arak yang telah hancur adalah sebuah Kitab Pusaka Mujarobbat yang amat kuno… dan sesungguhnya kitab inilah yang membuat aku teramat risau… kitab tersebut telah lama hilang tak tentu rimbanya selama berpuluh tahun…” tutup Tabib Wong
“kitab apa gerangan itu Tabib Wong..?”
“kitab itu dulunya adalah sebuah kitab yang di tulis seorang rahib sakti dari Tibet yang hidup hampir seribu tahun yang lalu… saat itu sekujur tubuh sang rahib juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Dewa Arak… sekujur otot dan sendi nya juga hancur dalam suatu pertarungan dahsyat…”
“Hanya karena energi prana dan Ilmu Yoga yang sudah mencapai tingkat tinggi saja yang membuat sang rahib dapat bertahan hidup… kemudian berdasarkan 97
ilmu yoga dan kearifan tingkat tinggi yang dimilikinya, sang rahib kemudian berhasil menciptakan satu ilmu dahsyat yang mampu membentuk kembali segenap otot dan sendinya yang telah hancur..”
“ilmu tersebut kemudian disalin dalam sebuah kitab dan oleh sang rahib diberi nama Otot Gamblang…” tutup sang tabib.
“ilmu dalam kitab Otot Gamblang itulah yang kuyakini bisa kita pergunakan untuk membentuk dan memperbaiki kembali segenap otot dan sendi dalam tubuh Dewa Arak…”
“namun sayangnya kitab tersebut kini entah berada dimana…”
“Selama beratus tahun kitab Otot Gamblang menjadi perebutan di kalangan tokoh-tokoh silat dan para tabib terkenal… sebelum terjadi pembakaran dan penyerbuan besar-besaran istana Persia oleh Bangsa Penghuni Padang Rumput lima puluh tahun yang lalu, Kitab Otot Gamblang tersebut diyakini masih tersimpan di dalam ruang pustaka istana tersebut yang juga diketahui telah turut habis terbakar…”ucap Tabib Wong murung.
“dengan terbakarnya ruang pepustakaan tersebut berarti hilanglah harapan kita untuk bisa mendapatkan kitab tersebut..” desah Sang Tabib Dewa.
“jangan dulu cepat berputus asa… menyerah sebelum bertindak sama saja dengan perbuatan seorang pengecut.! Kalau hanya untuk mencari keterangan mengenai kitab apa saja yang kalian butuhkan, rasa-rasanya aku masih bisa 98
memberikan sedikit petunjuk…” ujar seorang kakek bermata jereng secara tiba-tiba sembari memasuki Aula Padepokan.
Bau pesing yang santer segera menyebar keseluruh ruangan.
“Setan Ngompol…!”
Sang kakek yang ternyata memang adalah setan ngompol adanya ini nampak membungkuk hormat kepada Ki Abdul Madjid yang dibalas dengan anggukan oleh sang pemimpin padepokan.
“bagaimana kek…? Apakah kau berhasil mengejar orang-orang yang melukai mbok tukijem dan Dewa Arak…?” Tanya Meylan sembari memegang tangan si kakek.
Sang gadis rupanya tidak merasa risih berdekatan dengan si kakek yang berbau pesing.
“tidak Cah Ayu… aku tidak berhasil menemui mereka… nampaknya mereka telah lama kabur… aku juga tidak berhasil menemukan tubuh Dewi Dua Musim dan bayinya… kemungkinan besar sudah dibawa gerombolan tersebut…”ucap si kakek penuh sesal.
Semua penghuni padepokan kembali larut dalam duka
“ah… seandainya saja kakang Pendekar Tujuh Langit dan Pendekar 212 serta saudara yang lain ada disini, nasib Dewa Arak dan keluarganya mungkin tidak 99
akan setragis ini…” keluh Cahsableng membuat semua penghuni padepokan pun kembali merasa sedih.
“kakek Setan Ngompol… tadi kau bilang bisa memberikan petunjuk mengenai kitab otot gamblang… apa benar demikian…?” ucap Tabib Wong memecah kesedihan yang menggantung.
“ah… ya benar…! Hampir saja lupa…! Kalau masalah kitab itu sendiri juga aku tidak tahu dengan pasti, namun aku punya beberapa sahabat yang mungkin bisa membantu memberikan keterangan…”
“siapa saja mereka kek…?” Tanya Tabib Wong terlihat mulai antusias.
“Yang pertama adalah sepasang Suami Istri Sakti Pemilik Pesanggrahan Tirai Kasih, yakni Kang Suzi dan istrinya Dewi Tirai Kasih. Dalam dunia persilatan mereka lebih dikenal dengan julukan Sepasang Merpati Sakti Penyalin Kitab. Dan seorang lagi lainnya adalah seorang pertapa sakti bernama Kyai Syauqi Arr atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kyai Lontar Emas…”
Mata Ki Abdul Madjid nampak bercahaya mendengar penuturan Setan Ngompol.
“benar, kau Setan Ngompol…! Mengapa aku sampai bisa melupakan mereka…? Di dunia ini mungkin Hanya mereka bertiga saja yang mungkin bisa memberikan keterangan mengenai keberadaaan Kitab Otot Gamblang…!” 100
“guru… siapa sebenarnya ketiga orang yang disebut-sebut oleh Setan Ngompol itu guru…? Apa mereka itu tukang kitab…?” Tanya Cahsableng polos.
“dasar bodoh…! Mereka adalah orang-orang hebat yang mempunyai tujuan hidup amat mulia..! tanpa adanya mereka, segala bentuk kitab baik kitab silat maupun kitab pengobatan dan kitab-kitab ilmu pengetahuan lainnya yang amat penting bagi kesejahteraan umat manusia pastilah sudah lama musnah…!” sembur sang kakek sembari melotot kearah Cahsableng.
Cahsableng hanya bisa terdiam sembari menganggukkan kepalanya…
Persis seperti … ayam…!
“benar…! Untuk masalah Kitab Otot Gamblang mungkin hanya mereka bertiga yang bisa memberi keterangan… selama ini mereka bertiga telah telah berkelana ke berbagai negeri untuk mencari dan menyalin kitab-kitab yang berharga untuk menjaganya dari kerusakan dan kepunahan… selain itu masakan kalian lupa kalau Kyai Lontar Emas itu adalah kakek dari saudara kalian sendiri Si Tukang Nggambar Itu… Siray Pendekar Kuas Sakti… beliau pastinya mau membantu kalian untuk menemukan kitab tersebut guna menolong Dewa Arak…”tutup Setan Ngompol.
“kakek Setan Ngompol… kau benar-benar datang membawa berita bagus…! Dengan begini urusannya bisa menjadi lebih mudah…! Nampaknya harapan kita untuk untuk mengembalikan kondisi Dewa Arak bukanlah sekedar harapan kosong belaka…” Tabib Wong berujar lega. 101
“lalu bagaimana Tabib Wong dengan benda kedua yang kau katakan juga kita butuhkan untuk menyelamatkan nyawa Dewa Arak …?” sambung Ki Abdul Madjid.
Tabib Wong terdiam seketika…
Sang Tabib tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Sang Pemimpin Padepokan 212.
Sang tabib malah berbalik menatap kearah Edyone, Si Pendekar Bule…!
“untuk barang kedua kita nampaknya hanya bisa menyerahkan dan menggantungkan nasib Dewa Arak ke pundak Pendekar Bule…”
Semua mata sontak memandang tajam kearah Pendekar dari lembah Petir ini.
Keringat dingin mulai mengucur didahi Sang Pendekar. Dia sudah dapat menerka apa yang sedang di pikirkan oleh Tabib Sakti ini.
“Benar Edy… barang kedua yang aku butuhkan untuk memperbaiki dan menyambung kembali otot dan urat Dewa arak yang terputus adalah sebuah mustika langka bernama Serat Jati Akar Sinambung… Pusaka keramat milik Kingthunder, Si Raja Petir penguasa Lembah Petir Tunggal…!”
Bersamaan dengan berakhirnya ucapan Tabib Wong, tiba-tiba saja suara geledek menggelegar diatas langit padepokan…! Semua orang nampak pias… namun tidak sepias wajah Edyone Si Pendekar Bule…
“Ayah…..” desis Sang Pendekar sembari menundukkan kepala
Bayang kesedihan bercampur amarah terbayang jelas di raut wajahnya…!
* * * * 102
BAB V
TETESAN DARAH SATRIA
Kawan, tentunya kau bertanya-tanya mengapa Dewa Arak yang sebelumnya di gempur habis-habisan oleh Sapta Satwa kini bisa berada di Padepokan 212.
Panjang ceritanya Sobat…
Namun baiklah, akan kuceritakan kepadamu…
Karena cerita ini memang kubuat khusus hanya untukmu wahai kawan…
Seperti di ceritakan pada bab sebelumnya, Dewa Arak dan Sang istri berserta anak mereka Biru Langit dihadang oleh Gerombolan Sapta Satwa.
Kereta yang ditumpangi oleh mereka Dihancurkan oleh pukulan Gajah Perbawa sehingga mengakibatkan Dewi dua Musim dan bayinya terkapar.
Hal ini lah yang kemudian menghantarkan Dewa Arak sang satria muda padepokan 212 untuk berjibaku mengadu nyawa melawan gerombolan Sapta Satwa!
Saat sang pendekar sedang mengatur nafas akibat bentrok melawan Raff Si Kumbang, pada saat inilah dengan begitu liciknya para Satwa yang lain mencuri serangan. 103
Kucing Listrik, Merak Kartika dan Gajah Perbawa menyerang secara menggelap kearah sang pendekar tepat pada kaki, punggung dan ubun-ubunnya…!
Hentakan enersi Trio Satwa memasuki tubuh Dewa Arak laksana tanggul nan jebol…! Cakar Merak, Cengkraman Kucing dan Tapak Gajah yang mendarat di tiga tempat tubuh Sang Pendekar tanpa ampun lagi langsung memutus dan menghancurkan jaringan otot, urat dan nadi di tubuh Dewa Arak…!
Bisa di bayangkan penderitaan Dewa Arak yang teramat menyakitkan dalam menyambut kedatangan Elmaut…!
Namun satu hal yang teramat mengherankan…
Sang pendekar tidak berteriak kesakitan…
Sang pendekar pun tidak mengeluh memohon ampunan…
Diambang batas kesadarannya sang pendekar seakan melihat bayangan istri dan anaknya tersenyum kearahnya…
Sang pendekar pun membalas senyuman itu…
Tidak dirasanya lagi sengatan listrik yang memutus dan menghancurkan jaringan nadi dan otot sepanjang tubuhnya sebelah bawah…
Tidak dirasanya pula cengkeraman dahsyat yang menyayat dan meremukkan sekujur tubuh melalui tulang belikatnya… 104
Bahkan tapak berenersi super dahsyat yang menempel di ubun-ubunnya yang menghancurkan dan dan memutus semua susunan syaraf dan insting dewa arak hanyalah dirasakan bagaikan belaian lembut seorang ayah…
Tidak… Dewa Arak tidak merasakan semua itu…
Yang dirasakannya hanyalah kedamaian sejati dan rasa rindu yang terobati…
Sang Pendekar menutup mata dengan sekilas senyuman di bibirnya…
“lepaskan tangan kalian…!!!”
Satu suara terdengar menggeledek di barengi melesatnya tiga larik sinar yang mengarah ke kepala Gajah Perbawa, Kucing Listrik dan Merak Kartika…!
[ Total 13374 kata ]
Kategori Cerita Mandiri Lainnya :
- EPISODE SALIN RUPA MBOK TUKIJEM (BAGIAN 1) - Begawan Alfarizi
- KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL - okha antara
- KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL => DI TANAH JAWA - okha antara
- KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL => DEWI EMBUN BIRU - okha antara
- KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL=> TUGAS - okha antara
- MISTERI DIPADEPOKAN 212 - PENDEKAR7LANGIT
- KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL => MASALAH LAGI... -_- - okha antara
- TURUN GUNUNG - BAGIAN 1 - PENDEKAR7LANGIT
- KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL => PERTEMUAN TAKDIR - Okha antara
- KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL => BERTARUNG LAGI - Okha antara
- KISAH SI PENDEKAR1000 SIAL => BENCANA????? - Okha antara
- PETUALANGAN MAT ZAKARIA - Minak kemala jagat
- KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL => MELAWAN SAUDARA - Okha antara
- KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL => SANG RATU - Okha antara
- KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL => PELANGI PUTIH DAN EMBUN BIRU -
- KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL => RANGGA GAHARA - Okha antara
- KISAH KEMPENG SAKTI - Okha antara