RUANG SASTRA
Ketegori Sastra : Cerita Mandiri
Diposting Oleh:Okha antara
Waktu Kirim : 4 September 2010, 04:59:34
Statistik : Dibaca : 102 kali, Di Print : 1 kali, Di Kirim : 11 kali
Rating :
Nilai Sementara : 6 Kirim ke Pendekar Lain Cetak

"KISAH KEMPENG SAKTI"

Malam di Desa Jatiwuluh diselimuti kesunyian mencekam. Nyala lampu minyak di dalam rumah warga jadi satu-satunya penerangan yang menambah keremangan suasana jadi tambah menyeramkan. Sesekali terdengar suara jangkrik yang seperti ingin mengusir suasana mencekam. Maklum saja karena malam telah larut membuat suasana di desa ini pada malam hari tak ada bedanya dengan pekuburan.

 

Di pekatnya kegelapan satu sosok manusia berkelebat cepat dari arah hutan di dekat desa. Kecepatan dan kegesitan gerakannya menandakan manusia ini siapapun adanya pasti cukup mengenal daerah itu. Kawasan ini baru saja diguyur hujan sore sebelumnya. Jika dalam kegelapan saja ia bisa bergerak sebat jelas orang itu juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi.

 

Sosok itu berkelebat beberapa kali kemudian melesat tinggi. Saat jejakkan kaki ia kemudian sudah keluar dari hutan dan kini berada di Kawasan Desa Jatiwuluh. Ia memandang berkeliling kemudian melangkah biasa saja. Dari tempatnya barusan ia kemudian berjalan ke arah barat. Ternyata sosok itu menuju satu rumah yang paling megah di kawasan desa itu. Rumah itu sangat besar dan memiliki halaman yang luas ditambah pagar bambu setinggi bahu orang dewasa. Di sudut rumah tertancap dua buah obor yang hampir mati namun masih cukup mampu menerangi halaman rumah dan bahkan sosok yang barusan datang.

 

Sosok itu mengenakan satu pakaian hitam ringkas. Kepalanya ditutup cadar juga berwarna hitam. Tubuhnya tinggi besar dan di pergelangan tangan kanannya terpasang sebentuk gelang perak berukir kepala Naga bermata hijau. Sosok ini memandangi pintu rumah beberapa lama dengan sepasang matanya yang tajam. Ia kemudian mendongak lalu dengan santai melompat. Lompatannya tinggi sekali dan sekali gerak saja ia sudah sampai di dalam halaman rumah, melewati pagar yang sangat tinggi tersebut.

Sosok ini berjalan menuju bagian samping rumah. Bergerak beberapa lama ia kemudian sampai di tepi jendela sebuah kamar di rumah tersebut. Sosok serba hitam kemudian mengetuk perlahan, pertama dua kali lalu sekali. Lalu ia mengeluarkan suara seperti suara kucing. Sosok ini kemudian tegak tak bergerak. Ia memandangi daun jendela dengan seksama.

 

Tidak berapa lama, daun jendela perlahan membuka. Satu tangan halus putih kelihatan mendorong jendela itu. Sosok hitam memandangi wajah orang yang membuka  jendela dan setelah itu menghela nafas. Sosok ini membuka cadar hitam yang menutupi wajahnya. Sementara Sosok yang membuka jendela memandangi orang itu. Ternyata orang berpakaian hitam adalah seorang pemuda berparas rupawan. Wajahnya tidak hentinya mengulum senyum. Sepasang matanya berkilat-kilat penuh kegairahan hidup memandangi sosok di hadapannya yang membuka jendela. Sosok itu tidak lain adalah seorang gadis yang wajahnya sangat jelita. Kulitnya putih halus dan badannya semok montok. Gadis itu hanya mengenakan kain sebatas pengkal dadanya sehingga kedua bahu dan lengannya terbuka menantang. Pangkal sepasang dadanya yang besar seakan hampir tumpah dan tidak mampu ditahan kain yang kekecilan di tubuhnya. Wajahnya seperti pemuda di hadapannya tidak henti mengulum senyum.

 

Si pemuda berpakaian hitam bergerak dan tahu tahu tanpa suara sudah berada di dalam kamar yang jendelanya terbuka. Gadis di tepi jendela melihat ke kiri kanan baru kemudian menutup jendela. Baru saja jendela tertutup, pemuda berpakaian hitam langusung memeluk tubuh si gadis penuh nafsu. Gadis itu hanya terpekik kecil.

 

“ Kang Mas Damar, sudah tidak tahan lagi rupanya,” gadis ini menggeliat kegelian saat pemuda yang dipanggilnya Damar menciumi lehernya bertubi-tubi.

 

“ Nilam, Apa Sudah kau cekoki gurumu dan saudara seperguruanmu dengan ramuan penidur yang aku berikan?” Damar mengangkat kepalanya dan berbisik di telinga Gadis yang dipanggil Nilam. Sedangkan kedua tangannya tak henti bergerak liar meraba ke seluruh tubuh Nilam.

 

“Sudah Kakang. Tua Bangka itu sudah mengorok sampai ke langit ketujuh,” Gadis bernama Nilam menggeliat hebat saat hidung si pemuda bergeser di telinganya.

 

“Bagus Nilam. Kau memang kekasihku yang sangat cerdik,” Puji Damar senang. Sesaat ia hentikan kegiatannya dan memandangi wajah gadis di hadapannya.

 

“Kangmas Damar. Benda yang kakang minta, sudah kuambil. Apa kakang mau mengambilnya sekarang?” Nilam bertanya pada Damar sambil berjalan ke sudut ranjang di dalam kamar.

 

“Ya! Serahkan padaku barang itu Nilam,” Damar mengikuti Nilam. Saat itu si gadis menekan satu tombol kecil tersembunyi di ujung tempat ketidurannya. Terdengar satu suara bergeser. Nilam kemudian berjongkok dan melongok ke bawah tempat tidur. Gadis ini lalu mengulurkan tangannya. Beberapa saat kemudian saat ia menarik kedua tangan maka terlihatlah satu benda berkilauan di dalam genggaman tangannya.

 

Benda yang berada dalam genggaman Nilam adalah sebuah kempeng bayi sebesar telapak tangan. Kempeng ini memancarkan sinar ungu menggidikkan ke seantero kamar. Kedua mata Damar berkilat-kilat saat melihat benda ini. Di wajahnya tersungging senyum puas.

 

Kempeng Ungu Sinar Pelangi, akhirnya di tanganku;” ucap Damar.

 

Damar ulurkan tangannya mengambil kempeng dalam genggaman Nilam. Sesaat ia tampak komat-kamit namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Nilam memerhatikan saja kelakuan si pemuda dengan keheranan. Begitu Damar memasukkan kempeng itu dengan hati-hati ke dalam saku dalam pakaiannya, gadis ini buka mulutnya bertanya,” Kakang, benda apa itu sebenarnya? Kempeng jelek bersinar aneh itu, benda apa sebenarnya?”

 

Damar tatap mata si gadis sejenak baru ia kemudia menjawab pertanyaan Nilam,”benda ini namanya Kempeng Ungu Sinar Pelangi. Salah satu senjata mustika dunia persilatan. Sebatas pengetahuanku, kempeng ini memiliki kesaktian yang luar biasa, salah satunya mengeluarkan api Ungu yang sangat berbahaya. Makanya gurumu sangat menjaga benda ini.”

 

“Hmmm, Kakang senang sekali kelihatannya,” Nilam pencongkan mulut.

 

“Kau kenapa manis? Kenapa malah cemberut begitu?” Ujar Damar heran.

 

“Kakang kelihatan senang sekali mendapatkan kempeng aneh itu. Kakang sudah lupa berapa lama kita tidak bertemu? Sudah dua purnama Kakang! Aku mau kakang mengempeng aku saja, tidak usah mengurusi kempeng jelek itu!”Tukas Nilam berani.

 

Damar sejenak tertegun namun kemudian tersenyum-senyum. Ia lalu kembali memeluk Nilam yang saat itu berdiri memunggunginya dan menciumi lehernya penuh nafsu. Tidak butuh waktu lama bagi Kedua muda-mudi itu hingga saling berciuman dan berpagut. Kain kecil yang menutupi sedikit aurat terlarang Nilam kini sudah tercampakkan ke lantai kamar. Keduanya sudah bergumul di atas ranjang dengan nafsu terkutuk. Saat itu baru Damar hendak menanggalkan  celananya pintu kamar mendadak ditendang dan terbongkar lebar disertai satu teriakan menggeledek.

 

“Murid Keparat! Biar Kubunuh kau sekarang Juga!”

 

Secepat Kilat Pemuda bernama Damar melompat selamatkan diri saat mendengar satu suara berkesiuran di belakangnya. Dirinya selamat dari satu pukulan maut bertenaga dalam tinggi yang hendak memecah batok kepalanya. Keringat dingin megucur di pelipis Damar.

 

Di depannya kini berdiri seorang kakek mengenakan pakaian hitam dengan kain melilit di pinggangnya berwarna putih. Wajahnya tertutupi rambut panjangnya yang memutih dan terurai tak karuan. Kakek ini berdiri sempoyongan sambil melintangkan kedua tangannya di depan dada. Siapakah dia? Orang tua ini adalah Gempar Soka, seorang mantan pendekar rimba persilatan bergelar Si Tangan Kilat. Merasa lelah berpetualang dan mengingat umurnya yang sudah lanjut, berharap agar ada yang mewarisi kepandaiannya, maka dua puluh tahun lalu ia mundur dari dunia persilatan dan mendirikan satu pondok persilatan. Ialah guru dari Nilam dan sekitar dua puluh murid lainnya. Sebelumnya Gempar Soka merasa aneh karena makanan dan minuman yang disediakan malam itu sedikit berbau seperti suatu ramuan. Namun Gempar Soka sudah keburu memakan santapan malam itu. Sebentar saja ia merasakan kecurigaannya terbukti. Tubuhnya terasa panas, badannya letih dan matanya serasa diganduli batu beratus ratus banyaknya. Kakek ini segera kerahkan tenaga dalam melawan pengaruh ramuan tidur tersebut sambil totok tubuhnya di beberapa bagian.  Merasa ada yang aneh dengan Sikap salah satu muridnya Nilam, yang bertugas menyiapkan makan malam, ia kemudian menuju kamar sang murid untuk menyelidiki. Saat itulah ia mendengar percakapan Nilam dan Damar dari luar kamar. Dengan hawa amarah yang memuncak ditendangnya pintu kamar hingga terpentang lebar.

 

Hawa amarah Gempar Soka bukan kepalang. Saat itu ia melihat murid kesayangannya sedang menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut sambil meringkuk di satu sudut tempat tidurnya. Sementara di depannya ia melihat seorang pemuda tampan tegak memandangnya sambil tersenyum sinis.

 

“Gempar Soka, berjuluk Si Tangan Kilat. Usia sudah menggerogotimu hingga kini hanya terlihat seperti Si kakek uzur. Siapa yang hendak kau bunuh? Muridmu? Daripada kau membunuh gadis kekasihku itu sebaiknya kau yang cepat-cepat menuju akhirat biar tidak susah hidup di dunia lagi, ha ha ha!” Damar membuka mulut mengejek Gempar Soka yang saat itu masih tegak sempoyongan.

 

“Bangsat Keparat! Siapa Kau Pemuda Puntung Neraka?!” Bentak Gempar Soka.

“Siapa Aku tidak penting untukmu kakek tua bangka! Aku Tidak ada urusan lagi di sini. Terserah kau mau apakan muridmu yang tolol itu,” Habis berkata begitu Pemuda ini enak saja melangkah ke arah jendela. Nilam sendiri berteriak histeris mendengar ucapan si pemuda.

 

“Keparat Jahanam! Kau Boleh pergi tapi tingalkan kepalamu dan Kempeng Sakti yang kau rampas,” Selesai membentak Gempar Soka sorongkan kedua tangannya ke depan.

Serangkum angin bersinar keputihan menderu mengantam Damar. Pemuda ini kertakkan rahang. Sambil tekuk kedua lututnya ia dorongkan tangan kiri. Serangkum angin deras mengeluarkan bau kemenyan menderu memapasi serangan Si Tangan Kilat. Dua serangan bertenaga dalam tinggi saling hantam di dalam kamar yang sempit itu. Angin deras berkesiuran di dalam kamar. Berbagai benda berpelantingan. Di tempat tidur Nilam setengah mati berusaha agar selimut yang menutupi auratnya tidak ikut terbang oleh angin.

 

 Damar dapatkan dirinya terpelanting melewati jendela dan jatuh duduk di tanah. Pemuda ini merasakan mulutnya asin. Ia terluka di dalam! Cepat-cepat ia duduk bersila atur jalan darah dan alirkan hawa sakti. Ia memaki panjang pendek,” Bangsat! Kakek jelek itu tenaga dalamnya hebat juga. Tapi biarlah, aku tidak ada urusan lagi di sini”.

 

Sementara itu di dalam ruangan Gempar Soka sendiri akibat bentrokan dua pukulan itu terbanting ke dinding kamar. Tubuh tuanya terasa remuk menambah rasa sakit akibat ramuan tidur sebelumnya. Amarah yang menggelegak membuatnya tidak pedulikan keadaan dirinya. Kakek ini segera melompat melewati jendela lalu hantamkan tangannya ke arah Damar yang saat itu hendak bergerak meninggalkan tempat itu. Selarik sinar putih tipis memancarkan hawa sangat panas melesat. Damar yang malihat datangnya serangan melengak kaget.

 

Kilat Tangan Dewa! Bangsat! Tua Bangka ini benar tidak bisa dibuat main!” sahut Damar. Pemuda ini cepat sentuhkan pangkal kedua telapak tangannya lalu mendorong ke depan. Selarik sinar merah dengan ujung melebar ke samping seperti seekor walet terbang keluar dari sela tangannya dan langsung menyongsong sinar pukulan yang dilepaskan Gempar Soka. Kali ini giliran Gempar Soka yang terperangah kaget.

 

Pukulan Walet Merah !”

 

Satu dentuman besar melanda tempat itu. Bumi serasa kiamat. Gempar Soka tersapu angin dari bentrokan dua pukulan sakti dan terbanting jatuh duduk di tanah. Ia sempat melihat bagaimana pukulannya seakan lenyap ditelan pukulan Walet Merah milik lawan lalu meledak. Kakek tua ini terluka parah di dalam. Darah mengucur dari kedua telinga dan sela bibirnya. Tubuhnya bergetar. Pemandangannya berkunang-kunang. Untuk sesaat lamanya ia hanya bisa duduk sambil mengatur nafas dan aliran darahnya.

 

Di sudut lain meski terpental sejauh delapan tombak ke belakang namun pemuda bernama Damar mampu mendarat dengan sempurna di atas dua kaki. Namun begitu pemuda ini pegangi dadanya yang mendenyut sakit sedangkan kepalanya sakit sekali seakan mau meledak. Mau tidak mau pemuda ini memuji kesaktian kakek yang dihadapinya. Damar mengambil sesuatu dari balik baju hitamnya. Ternyata ia mengeluarkan kempeng ungu sinar pelangi. Pemuda ini kemudian mengerahkan tenaga dalam. Langsung saja satu sinar ungu menggidikkan menghampar di tempat itu. Damar tempekan kempeng sakti ke dadanya yang mendenyut sakit. Satu asap ungu menebar keluar dari kempeng dan mendekam di dada si pemuda. Ketika ia lakukan hal yang sama pada kepalanya yang juga sakit hal yang sama juga terjadi. Hanya dalam hitungan belasan detik, asap ungu sirna dan rasa sakit di tubuh Damar lenyap sama sekali. Damar cepat masukkan lagi Kempeng sakti ke dalam saku pakaiannya.

 

Mendadak satu siuran angin berkiblat di tempat itu mengarah  pada Damar. Kejut pemuda ini bukan olah-olah. Secepat kilat ia membuang diri menghindari serangan tersebut. Memandang ke depan dilihatnya seorang gadis sedang berdiri tegak di depan Gempar Soka. Gadis ini  mengenakan pakaian biru ringkas dan memiliki paras sangat cantik. Rambutnya dikuncir dan diikat dengan sehelai pita berwarna biru. Kedua matanya memandang menyala pada Damar dan dari kedua tangannya yang tersorong ke depan menandakan kalau ialah yang tadi menyerang Damar dengan pukulan mengeluarkan serangkum angin deras.

 

“Dian, kaukah itu?” Gempar Soka bertanya dengan suara lemah melihat gadis yang baru saja datang dan kini berdiri memunggunginya. Suaranya lemah pertanda dirinya masih dalam keadaan terpengaruh bentrokan serangan sebelumnya.

 

“Kakek, aku memang Dian, cucumu. Kakek luka parah, biar Dian saja yang menghajar pemuda yang berani berlaku kurang ajarv pada kakek,” gadis tersebut menjawab.

 

Ternyata dia adalah cucu dari Gempar Soka, bernama Dian Lestari. Bagaimana dia bisa di sini? Ceritanya singkat. Gadis ini tinggal bersama orangtuanya. Dan ia sedang dalam rangka mengunjungi kakeknya. Gadis ini sampai saat mendengar suara bentakan dan deru pukulan sakti. Cepat ia melesat menuju samping rumah. Saat itulah ia melihat kakeknya sedang terduduk di tanah kesakitan dan ada seorang pemuda sedang memasukkan sesuatu ke balik pakaiannya.

 

Gadis bernama Dian memandang ke arah pemuda di depannya. Kegelapan malam yang pekat membuatnya kesulitan melihat paras pemuda. Saat itu ia hanya mampu melihat pemuda itu sebatas dadanya. Saat ia mencoba menajamkan penglihatannya saat itulah dilihatnya pemuda di depannya kembali mengambil sesuatu yang tadi sempat dimasukkannya ke dalam pakaian. Di belakangnya gadis bernama Dian ini mendengar kakeknya berkata,” Hati-hati Dian. Pemuda itu hendak keluarkan senjata berbahaya!”

Saat itu, damar merasa kalau ia telah banyak membuang waku. Merasa malas bertarung, pemuda ini keluarkan lagi kempeng sakti dan mengerahkan tenaga dalam. Satu sinar ungu menggidikkan kembali memancar dari kempeng tersebut. Dian dan Gempar SOka kesilauan dengan cahaya yang keluar. Damar tempelkan Kempeng Ungu Sinar Pelangi ke dada dan kemudian tepukkan kedua tangannya. Mendadak segumpal asap ungu keluar dari kempeng dan mengambang menyelimuti tempat itu seluas sepuluh tombak. Gempar Soka cepat tutup jalan pernafasan mengira asap tersebut adalah asap beracun dan lalu berteriak pada cucunya melakukan hal yang sama. Pandangan mereka tertutup kabut. Dan ini justru adalah kesalahan fatal.

 

“Orang-orang tolol! Memiliki senjata sakti seperti ini tapi tidak mengetahui kesaktiannya sama sekali!” Maki Damar. Si pemuda kemudian lepaskan Kempeng dari dadanya lalu menyimpannya lagi di balik pakaian.

 

“silakan kalian menutup jalan pernafasan semau kalian, asap itu bukan asap beracun! Tapi sampai sepeminuman teh, jangan harap kau bisa keluar dari kungkungan asap itu sejauh sepuluh tombak, percuma saja! Hari ini kuampuni kalian karena hatiku sedang senang! Lain waktu jika bertemu kukirim kalian ke neraka! Ha Ha Ha!” Damar tertawa Gelak-gelak. Pemuda ini lantas berkelebat meninggalkan tempat itu. Diikuti sumpah serapah Gempar Soka dan cucunya Dian menyadari kekeliruan mereka.



[ Total 2272 kata ]

Kategori Cerita Mandiri Lainnya :


Hasil Karya Okha antara Lainnya :


Daun Lontar "KIsah Kempeng Sakti" :

  • aki debleng [4 September 2010, 04:59:34]

    salam knal dari ku aki debleng


Jumlah Daun Lontar [1], Ngisi Daun Lontar