RUANG SASTRA
Ketegori Sastra : Cerita Mandiri
Diposting Oleh:Okha antara
Waktu Kirim : 13 Mei 2010, 22:48:12
Statistik : Dibaca : 131 kali, Di Print : 0 kali, Di Kirim : 11 kali
Rating :
Nilai Sementara : 6 Kirim ke Pendekar Lain Cetak

"KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL => RANGGA GAHARA"

OKha mendadak palingkan kepalanya kiri kanan. Dewi embun biru terheran-heran. Gadis ini ikut-ikutan Okha. Memandang ke sekeliling terkejutlah ia. Tempat itu kini sudah dipenuhi belasan prajurit kerajaan. Di arah PIntu masuk taman melangkah beberapa orang yang ia kenal. Gadis ini terkesiap. Buru-buru ia luruskan tubuh dan bersikap hormat.

 

Lain halnya dengan OKha, karena ia tidak mengetahui siapa yang datang pemuda ini tenang-tenang saja. Apalagi saat itu ia tidak melihat para pengawal bersikap mengancam. Galuh Intan juga tenang-tenang saja.

 

Saat itu dari arah pintu masuk taman berjalan dengan anggun dan gagah empat orang pria dan seorang wanita. Dari pakaian yang dikenakan, Okha mengira mereka adlaah keluarga kerajaan.  Okha juga mengenal satu orang diantaranya yang berjalan paling belakang, yaitu seorang tua berpakaian selempang kain putih dan celana putih. Orang tua ini memiliki rambut, jenggot dan kumis panjang menjela juga berwarna putih. Ia adalah Kiai Sena Tirtawasa, guru dari Dewi Embun Biru. Saat itu Kiai Sena Tirtawasa melangkah sambil senyam senyum lucu pada Okha.

 

Di samping Kiai Sena Tirtawasa berjalan dengan tegap dan gagah seorang pemuda mengenakan pakian mewah berwarna hitam dengan sulaman khas kerajaan berwarna emas. Wajah pemuda ini begitu tampan dan kulitnya putih bersih. Rambutnya panjang rapi dan berwarna agak kecoklatan. Matanya tajam dan awas. Tubuhhnya tegap dan tinggi. OKha merasa-rasa ia mengenal siapa pemuda ini, namun sulit sekali ia mengingat.

Di depan Si pemuda tampan berjalan dengan sangat anggun pria dan wanita yang Okha rasakan adalah sepsang suami istri. Keduanya begitu serasi dan sangat mesra. Sang suami berjalan sambil menuntun istrinya. OKha melihat persamaan wajah kedua suami istri ini dengan wajah Galuh INtan. Pemuda bermata merah sebelah ini mengira kalau keduanya adalah orangtua dari Galuh INtan.

 

Sementara itu yang berjalan paling depan adalah seorang pria tegap dan gagah. Tubuhnya tinggi besar. Wajahnya tenang namun mengeluarkan aura yang menekan. Karena Okha adalah perantau makanya ia tidak mengenal sama sekali kalau orang di depan ini adalah Sri Baginda raja penguasa kerajaan Demak.

 

Kelima orang itu berhenti di depan Okha dan Dewi Embun Biru. Dewi Embun Biru tidak tunggu lama segera bungkukkan tubuh memberi hormat. Okha yang menatap gerak-herik si gadis yang terlihat gugup mau tidak mau ikut-ikutan tundukkan tubuh. Meski tidak mengenali namun karena merasa kalau dua suami istri yang merupakan keluarga kerajaan saja berjalan di belakang, maka tidak salah lagi kalau orang di depannya adalah Raja.

 

“Angkatlah tubuh kalian, Dewi Embun BIru dan…,” Raja Tidak meneruskan Ucapannya dan memandang pada Okha yang saat itu sudah angkat tubuhnya bersama dengan Dewi Embun Biru. Sementara itu Galuh Intan kini sudah berdiri di samping kedua orangtuanya.

 

“Maafkan saya Baginda Raja. Saya biasa dipanggil Okha, Okha Antara,” Jawab Okha hormat.

 

Pemuda Tampan di samping Kiai Sena Tirtawasa kerutkan kening. Ia memandang heran pada pemuda yang sedang berada di hadapan Raja dan berfikir-fikir. Sementara itu Raja lanjutkan kembali ucapannya yang terputus.

 

“Aaahhh, nama yang bagus. Nama yang bagus. Selamat Datang di Demak, Okha. Dan selamat datang di Taman Kerajaan,” Raja Demak tersenyum.

 

Okha tampak malu-malu dan gelisah dengan ucapan sang Raja. Okha kemudian tundukkan lagi tubuhnya,” Terima Kasih Wahai Baginda Raja. Terima kasih atas kebaikan dan kemurahan hati Raja menyambut hamba yang hanyalah seorang rakyat biasa ini.”

Raja tersenyum kecil. Ia merasa hatinya tertarik pada pemuda ini. Apalagi ucapan dan sikapnya barusan membuat Raja mengira apakah si pemuda sering bertemu dengan pembesar? Sikap menunduk dahulu baru bicara seperti itu biasa digunakan oleh keluarga abdi dalam saat bicara dengan keluarga kerajaan pada zaman dahulu. Raja berdehem pelan.

 

“Pemuda, Keponakanku Sekar Prameswari kemarin tiba-tiba datang dan membawa seorang pemuda yaitu dirimu. Kepadaku dan kepada saudaraku, yaitu kedua Orangtuanya Ia menjelaskan kelau engkau telah menyelamatkan jiwanya. MEskipun sebenarnya membawa seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya ke lingkungan adalah dilarang, namun mendengar keterangan Sekar Prameswari, aku akhirnya memberikan izin.

 

Pemuda, Bisakah kau menceritakan kejadian saat kau menyelamatkan Keponakanku itu?”

OKha tercekat. Pendekar 1000 Sial ini berdebar kaget. Kapan ia menyelamatkan Galuh Intan? Ia tidak ingat sama sekali. Apa yangbharus ia ceritakan. Bisa berabe urusannya kalau apa yang ia ceritakan berbeda dengan penjelasan Galuh Intan. “Ahh, sial. Mengapa penyakit sialku datangnya saat-saat begini sih,” rutuknya dalam hati.

 

Okha kembali rundukkan tubuh, baru kemudian menjawab,” Maafkan hamba Baginda Raja. Hamba rasa hamba tidak berhak menceritakan hal itu karena hamba takut malah menyombongkan diri. Hamba percaya Tuanku Putri Sekar Prameswari telah menjelaskan semuanya pada Baginda, dan maafkan hamba, hamba yakin begitulah keadaannya.”

OKha menunggu dalam kesunyian. Pemuda ini keluarkan keringat dingin. Saat ia luruskan tubuh dilihatnya Raja sedang tersenyum kepadanya.

 

“Sungguh pemuda rendah hati, aku senang mendengarnya,” Raja maju sambil tepuk-tepuk bahu pendekar 1000 Sial. PEnguasa kerajaan ini kemudian berpaling pada Dewi Embun Biru yang melongo mendengarkan pembicaraan kedua laki-laki itu.

“Dewi Embun Biru, kau datang juga ke sini. Adakah kau baik-baik saja? Bagaimana dengan keadaan kakekmu, Bagas Perdana?” Raja bertanya lembut.

 

“Ah, maafkan kelancangan saya tidak memberitahukan kedatangan Baginda Raja. Keadaan saya baik-baik saja. Kakek kemarin sedikit demam, namun sekarang ia sudah sehat Baginda.”

 

Raja anggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Ia perhatikan sekelilingnya dan sedikit kaget saat melihat sebuah pohon di tempat itu mengkerut dan berwarna biru. Ia juga memperhatikan beberapa bagian taman ada yang rumputnya tercabut dan bunganya hilang. Raja ini tersenyum. Ia sudah bisa sedikit menduga apa yang terjadi melihat Pandangan Dewi Embun Biru pada Pemuda bermata merah sebelah itu yang terlihat kesal sekali. Ia juga bisa sedikit melihat bagaimana Keponakannya melihat Okha. Raja yang bijaksana ini tersenyum dan hanya geleng-gelengkan kepala.

 

Tidak lama kemudian Sang Raja memutuskan kembali ke istana. Ia mengajak serta kedua orangtua Galuh Intan dan juga Kiai Sena Tirtawasa dan Pemuda di sampingnya. Namun dua orang terakhir menolak dengan halus karena masih ingin di tempat itu. Raja maklum dan kemudian berlalu dari situ diiringi orangtua Galuh Intan dan para pengawal.

Kini di tempat itu hanya tinggal Okha, Galuh Intan, Dewi Embun Biru, Kiai Sena Tirtawasa dan Pemuda Tampan. KElimanya masih diam dalam kesunyian hingga Kiai Sena Tirtawasa tertawa keras. Kakek tua ini kemudian berpaling pada Okha,” Aku bertaruh hanya kau yang tidak mengenal pemuda di sampingku ini bukan wahai Pemuda sableng?” Kiai Sena Menunjuk pemuda di sampingnya.

 

Okha mengangguk kecil. Ia kemudian maju ke depan sambil ajukan tangannya pada si pemuda,” Kenalkan, namaku Okha antara”.

 

Pemuda di depannya kembali lagi-lagi kerutkan alis, lalu sambil balas menjabat tangan Okha ia bertanya,” apakah kau berasal dari Tanjungpura?”

“Okha mengangguk kecil meskipun ia terheran heran dalam hatinya. “ Ya, aku bersal dari Tanjungpura”.

 

Pemuda itu ajukan pertanyaan lagi,” Apakah Kau Orangnya yang dalam dunia persilatan negeri 1000 sungai dikenal sebagai Pendekar 1000 Sial?”

 

Okha kembali mengangguk,” Kau begitu banyak tahu sobat. Kini apakah aku boleh tahu siapa namamu dan bagaimana kau bisa tahu bahkan gelarku?”

 

Kiai Sena Tirtawasa senyum-senyum saja mendengar gelar Okha. Sementara dua gadis cantik di situ heran begitu mendengar gelar si pemuda yang nyeleneh padahal kesaktiannya begitu tinggi. Keduanya lalu mendengar suara Kiai Sena Tirtawasa,” Cah ayu berdua. Gelar ataupun nama tidak ada hubungannya dengan kesaktian. Dulu ada seorang Pendekar Sakti luar biasa yang membebaskan Tanah Jawa dari para dewa yang jahat, dan memiliki gelar yang hebat. Tapi tahukah kalian namanya siapa..?”

 

Kedua gadis sama gelengkan kepala. Kiai Sena Tirtawasa melanjutkan,” pada masa Tanah Jawa, bahkan sampai di kepulauan seberang diserang oleh kekuatan jahat, ia adalah salah satu pendekar yang berdiri paling depan bertarung melawan. Gelarnya adalah Pendekar 212, namun orang banyak mengenalnya dengan nama Wiro Sableng.”

Galuh Intan dan Dewi Embun Biru kaget luar biasa. Mereka memang pernah mendengar mengenai legenda kesaktian dan pertarungan besar para pendekar melawan para dewa bertahun-tahun yang lalu. Mereka juga pernah mendengar mengenai kesaktian pendekar 212, namun tidak pernah mengetahui kalau pendekar legendaris itu bernama Wiro Sableng.

 

Sementara itu Si pemuda yang berjabat tangan dengan Okha lepaskan genggaman tangannya. Ia kemudian tersenyum lebar,” Bolehkah aku bertanding barang satu dua jurus denganmu Pendekar?”

 

Okha miringkan kepalanya. Ia sedikit tidak senang dengan pemuda ini karena tidak acuhkan pertanyaannya.

 

“Aku tidak mau. Memangnya kau siapa sobat? Mengapa ingin bertarung denganku?”

 

“Ahh, maaf. Perkenalkan Pendekar, namaku Rangga Gahara. Aku sangat mengagumi nama besarmu pendekar. Karenanya Izinkan aku bertarung barang satu dua jurus,” Pemuda yang bernama Rangga Gahara ini siapkan kuda-kuda.

 

Mata Okha membeliak lebar. Jantungnya berdetak keras. Sikapnya yang tadi santai kini berubah tegang,” Kau, apakau Kau putra Pengeran Paku Negara ?” Tanya Okha.

 

Rangga Gahara mengangguk. OKha gemertakkan giginya. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal. Hatinya serasa terbakar. KEdua mata Okha kini tiba-tiba keduanya memerah pekat.

 

“Tidak salah lagi. Pemuda ini, dia putra dari bedebah Pangeran Paku Negara yang telah membunuh  ayah dan ibu. Dia putra pembunuh biadab itu. Biar kubunuh dia, biar kubunuh dia.”

 

Okha alirkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan. Pemuda ini sudah siap lancarkan pukulan Sukma Inti Api. Tangannya sudah berubah biru keputihan. Sedang ia siap pukulkan tangannya mendadak pendekar 1000 sial mendengar suara lonceng di kejauhan. Okha merasakan sesaput angin dingin menyapu wajahnya. Satu suara mengiang terdengar oleh Okha,” Jangan perturutkan nafsu pemuda. Allah S.W.T tidak pernah memerintahkan hal seperti itu. Ucapkan Istighfar, redakan amarah di hatimu”.

Okha tersentak. Sesisip kesadaran merasuk di hatinya. Meski ia sendiri tidak melihat, matanya yang sebelah kanan yang tadinya ikut berwarna merah kini kembali berwarna hitam. Okha mengucap Istighfar. Hatinya mendadak tenang. Sesaat kemudian pemuda ini mendegra seruan Rangga Gahara.

 

“aku Akan maju menyerang Pendekar, lihat kaki,” seru Rangga Gahara.

 

Dengan satu gerakan aneh Rangga Gaharani hunjamkan kaki ke tanah. Tubuhnya sontak melesat menjungkir kepala ke bawah kaki ke atas dan salah satu kakinya dengan cepat mengincar perut Okha. Pendekar 1000 Sial kaget luar biasa dengan serangan ganas dan tidak terduga ini. Secepat kilat ia buang diri ke kiri. Tendangan si pemuda lewat begitu saja.

 

Kaget Rangga Gahara bukan kepalang. Jurusnya yang barusan adalah Menggantung Singa Merajam Garuda. Ini adalah serangan ganas dan adalah jurus ke tujuh dari sepuluh jurus Silat Dewa Ular yang diwariskan oleh gurunya seorang pertapa sakti di Gunung Palung. Makin rendah nilainya maka makin ganas jurusnya. Sengaja Rangga Gahara langsung mengeluarkan jurus ketujuh karena ia tahu ia sedang menghadapi salah satu Pendekar Muda Terkuat di rimba persilatan tanah kelahirannya.

 

Sementara itu Okha bersiul kagum dengan serangan si pemuda. Meski sudah tidak dipenuhi dendam, namun amarah masih melingkupi dirinya. Karena itu Okha memutuskan tidak main-main menghadapi si pemuda. Okha kemudian angkat tangan kanan dan kaki kiri lalu bersikap seakan  hendak melempar sesuatu. Rangga Gahara meski terheran-heran melihat sikap Okha yang begitu empuk untuk diserang, namun putuskan untuk kembali menerjang. Kali ini ia segera kerahkan tenaga dalam. Pemuda ini kemudian hantamkan kedua tangannya. Dua larik cahaya kuning menggidikkan berkiblat.

Rangga Gahara telah lepaskan Pukulan Bulan Purnama.  Okha sendiri melihat lawan bergerak langsung gerakkan tangan seperti melempar sesuatu. Serangkum angin mengeluarkan cahaya putih berkiblat ke arah Rangga Gahara.

 

Kejut PEmuda yang diserang bukan main. Dari jarak masih jauh saja gemuruh angin serangan Okha membuat dirinya gontai. Pemuda ini lekas-lekas membuang diri ke samping. Angin pukulan berhasil membuyarkan Dua larik sinar pukulan Bulan Purnama miliknya tanpa bekas. Begitu melabrak pohon kontan Pohon yang terkena pukulan ini hancur berkeping-keping. Rangga Gahara leletkan lidah. Dua gadis yang menyaksikan terperangah takjub.

 

Kiai Sena Tirtawasa sendiri bergumam sambil tersenyum simpul,” Hooo… Lempar Tombak Salah Sasaran. Pukulan Bulan Purnama bisa dibuat seperti mainan anak-anak. Jurus Konyol Itu bisa jadi mengerikan begini.”

 

“Awas kepala sobat!”

 

Rangga Gahara mendengar satu seruan kemudian merasakan siuran angin di sampingnya. Cepat-cepat ia banting tubuhnya berkelit ke belakang. Ternyata barusan Okha lancarkan pukulan. Rahang Rangga Gahara bergemeletuk. Ia kemudian lancarkan jurus kelima ilmu silat Dewa Ular bernama jurus Ular Sakti Meniup Gunung. Lengan kanannya dipentang lurus dan lengan kiri menyusup ke perut Okha. Kedua lengan itu kemudian ditekuk dan dihantamkan ke masing-masing dada dan perut lawannya.

 

“Lihat Tangan Pendekar,” Seru Rangga Gahara memberi Ingat.

 

“Lihat tangan juga Sobat,” Sahut Okha.

 

Mendadak lengan Okha yang memukul tertekuk dan sikunya dihantamkan ke bawah. Lengan kanan kedua pemuda beradu.

 

“Bukkhhh!!!”

 

Rangga Gahara Mengerenyit menahan sakit. Serangannya buyar karena hantaman Siku Okha. Sementara itu ia benar-benar kaget saat Siku yang menyerang membuka dan kemudian mengayun menghantam bahunya yang kanan. Selain itu entah bagaimana telapak tangan kiri Okha menyusup dan mendarat di pertengahan dadanya.

 

“BUkkkHH!!!”

 

“DUKKHH!!!”

 

Jerit kesakitan Rangga Gahara menggema tinggi. Ia terpental belasan tombak namun hebatnya ia masih bisa berdiri meskipun gontai. Pemuda ini seka tepi bibirnya yang dilelehi darah. Ia terluka dalam. Rangga Gahara cepat-cepat alirkan tenaga dalam dan hawa sakti ke bagian dada dan bahu kanan. Rasa sakit sedikit berkurang. Namun pandangannya masih sedikit kabur akibat hantaman Pendekar 1000 Sial. Setelah beberapa saat baru pandangannya jelas lagi. Rangga Gahara sadar besar kalau ilmu silatnya jauh di bawah Okha, meski baru mengeluarkan jurus kelima dari Sepuluh jurus ilmu silatnya. Ia sadar karena meskipun jurus-jurusnya baru dilihat namun pemuda itu bisa bergerak luar biasa cepat dan tepat. Dalam hal tenaga dalam apalagi, Dari buyarnya pukulan Bulan Purnama dan bentrokan lengan saja ia sadar kalau tenaga dalamnya masih dua tiga tingkat di bawah si pemuda. Rangga Gahara menghela nafas panjang. Pemuda ini berjalan pelan ke arah Okha.

 

“Aku mengaku kalah Pendekar,” Rangga Gahara membungkuk kecil, lalu tersenyum.

Okha terkaget-kaget. Seingatnya dulu Rangga Gahara sangat kasar dan tidak mau kalah.

 

Benar Rangga Gahara kah yang ada di hadapannya? Bocah yang dulu sangat sombong, angkuh dan begitu serakah? Apakah Pemuda ini sudah berubah sifatnya dibandingkan saat masih kecil dulu? Okha jadi merasa sedikit bersalah telah memukul pemuda itu. Ia kemudian garuk-garuk kepala.

 

“Ah, tidak apa-apa sobat. Jurusmu sendiri tadi begitu ganas. Aku sampai kagum sekali,” Jawab Okha.

 

Sedang kedua pemuda itu bercakap-cakap, Kiai Sena Tirtawasa dan Dewi Embun Biru serta Galuh Intan memperhatikan sambil tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

 

Kiai Sena Tirtawasa merasa dirinya seakan melihat kembali sosok sahabatnya, Gusti Mayana dalam diri Okha Antara, yang oleh Rangga Gahara ia ketahui bergelar Pendekar 1000 Sial. “ Pemuda itu, hebat juga Mayana Bisa mendapatkan murid seperti dirinya. Jurus Lempar Tombak Salah Sasaran barusan, itu bahkan lebih baik dari yang pernah dimiliki Si Tukang Duren itu. Apakah Dia sudah menyempurnakannya baru kemudian diwariskan atau Memang Pemuda ini yang hebat memainkannya? Lalu jurus menangkis sekaligus memukul Rangga Gahara tadi, kalau tidak salah itu kan jurus Naga Kayu Menentang Iblis? Heheh, Jurus yang tidak diwariskan pada “Orang Itu” diberikannya pada pemuda ini, kau sayang sekali padanya ya Mayana?”

 

Sementara Dewi Embun Biru tenggelam dalam kekaguman. Okha yang dilawan Rangga Gahara berbeda sekali dengan Okha yang ia lawan. PEmuda bermata merah sebelah itu sebelumnya seakan sambil bercanda dan ia mengetahui kalau Okha tidak sungguhan bertarung melawannya. Dewi Embun Biru sendiri memiliki kesaktian yang hampir sama dengan Rangga Gahara. Kalau Pemuda itu saja dipecundangi Okha hanya dalam dua jurus saja bagaimana kalau ia serius melawannya. Diam-diam gadis ini tambah kesal. Namun ia sekaligus kagum dengan kesaktian pemuda itu.

 

Galuh Intan lain lagi. Ia tidak lagi heran dengan Kesaktian Okha karena sudah melihat sendiri. Namun ia sedikit kaget saat melihat Okha seperti murka saat mengenali siapa Rangga Gahara sebenarnya. Dan lain dari itu, ia sedikit khawatir dengan satu hal lain.

“Sobat, Bagaimanakah keadaan Raja tengah sekarang?” Tanya Okha.

 

Rangga Gahara unjukkan wajah murung. Sejenak berdiam diri baru ia menjawab,” Raja Tengah sekarang sedang sakit parah Pendekar. Yang memegang kekuasaan sekarang untuk sementara adalah Kanjeng Raden Badaruddin.”

 

Okha terkesiap. Ia kaget mengetahui berita itu. Terbayang di matanya wajah Sang Raja yang begitu teduh dan hangat, Raja tersebut sangat dicintai oleh rakyatnya karena beliau begitu peduli terhadap kesejahteraan penduduk.

 

“Kalau Boleh aku tahu, sakit apakah yang diderita Raja?”

 

Rangga Gahara terdiam sejenak,” Mengingat nama besarmu dan jasamu pada kerajaan pendekar, biar kuberitahu. Raja Tengah sedang sakit parah karena Raden PUtri Aegisa hilang tak tahu rimbanya.”

 

Lagi-lagi Okha terkejut dan kali ini kejutnya bukan olah-olah. Cucu Kesayangan Raja itu menghilang? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?

 

“Gisa, apa yang kau lakukan?” Tanpa sadar Okha bergumam kecil. Namun Ucapan Pendekar 1000 Sial masih bisa didengar oleh Rangga Gahara dan kali ini ganti ia yang terkejut. Kilasan bayangan masa lalu menyeruak masuk di ingatannya. Hatinya berdebar, wajahnya pucat.

 

“Pendekar. Boleh aku bertanya?” Rangga Gahara bertanya dengan suara bergetar. Okha hanya mengangguk kecil.

 

“Apakah Kau Agni Putra Almarhum Paman Rana, kepala kampung Sampit..?”

 

Okha rasakan telinganya berdesing dengan pertanyaan itu. Ia mendelik besar pada Rangga Gahara. Kekagetannya tidak tersembunyikan lagi. Rangga Gahara sudah mendapat jawaban tanpa perlu Okha bicara. Sontak pemuda ini berlutut di hadapan Pendekar 1000 Sial. Empat orang yang ada di situ kaget luar biasa. Ada apa sebenarnya sampai Putra Petinggi kerajaan berlutut di hadapan seorang Pendekar tanpa angin tanpa hujan?

 

“ Agni, maafkan aku. Tidak, maafkan Kesalahan Ayahku. Maafkanlah ia…,” Rangga Gahara berucap perlahan.

 

Okha rasakan hatinya campur aduk. Hari ini ia mendapatkan pengalaman yang benar-benar beragam. Berita yang ia terima pun begitu mengejutkan dan kini Rangga Gahara, Putra pembunuh orang tua dan kakeknya berlutut mohon ampun padanya.

Pemuda bermata merah sebelah ini merasakan kebencian yang tadinya sempat sirna mendadak muncul lagi. Tubuhnya bergetar menahan amarah. Rasa dendam menyelimuti seluruh tubuhnya. Namun saat itu lagi-lagi satu suara lonceng mengiang di telinganya. Okha perhatikan sekeliling. Melihat pada semua orang di situ pemuda ini menduga ia hanya dirinya yang mendengar suara lonceng. Pemuda ini ingat teringat nasehat bersamaan dengan gema lonceng sebelumnya. Lantas  ia teringat saat Rangga Gahara dengan ksatria maju dan mengakui kekalahannya padanya. Okha tersentak. Kakinya bergetar dan tubuhnya gontai. Tak ayal lagi ia jatuh terduduk di tanah.

 

Galuh Intan alias Sekar Prameswari yang melihat langsung berlari mendatangi Pendekar 1000 Sial. Ia memandangi pemuda ini dengan pandangan penuh khawatir. Kiai Sena Tirtawasa, Dewi embun Biru dan Rangga Gahara memperhatikan dengan seksama air muka gadis itu dan menyadari perhatiannya pada pemuda bermata merah sebelah itu bukan perhatian biasa. Kiai Sena tirtawasa tersenyum simpul, Dewi Embun Biru pencongkan mulut kesal sedangkan Rangga Gahara menatap gadis itu dengan pandangan sayu.

 

“Okha, kau tidak apa-apa?” Galuh Intan bertanya khawatir.

 

“Aku tidak apa-apa. Maaf membuatmu khawatir , Intan,” jawab Okha sambil tersenyum pada si gadis. Melihat senyum ini wajah Galuh Intan sontak memerah. Ia buru-buru palingkan muka. Sementara tiga orang lain sedikit kaget karena Okha memanggilnya Intan. Hanya Kiai Sena tirtawasa yang mengetahui nama asli si gadis dan ia tersenyum makin lebar. Sementara Dewi embun Biri dan Rangga Gahara terbingung-gingung.

 

Okha palingkan wajah dan menatap Rangga Gahara. Pendekar 1000 Sial batuk-batuk kecil sebentar baru kemudian ia buka suara,” Rangga. Kupikir, meskipun dulu kita bermusuhan, rasa-rasanya itu adalah hal biasa karena kita masih kecil. Karena itu kurasa tidak akan ada dendam atau kemarahan antara kita. Dan lagi kulihat sekarang kau sudah menjadi pemuda yang berbeda sekali dengan dirimu sewaktu masih bocah,” Okha tersenyum kemudian duduk bersimpuh sembari membungkuk kecil.

 

“Terima salam Hormat saya, Pangeran Paku Negara II,” seru Okha.

 

Rangga Gahara kikuk sekali dihornat begitu rupa oleh OKha. Ia merasa malu dengan permusuhan mereka dimasa kecil, apalagi dengan perbuatan ayahnya yang telah membunuhi seisi kampung kelahiran si pemuda dan sekaligus keluarganya. Namun kini Okha malah bersikap seperti itu padanya, jelas pemuda yang polos ini salah tingkah.

“bangunlah Agni. Aku tidak ingin kau hormat begini rupa. Lebih baik kau panggil saja namaku, aku berharap kita bisa jadi sahabat.”

 

OKha luruskan tubuh dan pandangi wajah Rangga Gahara. Dalam hati Okha memuji ketampanan dan kegagahan paras serta tubuh Rangga Gahara. Lebih dari itu ia memuji sikap  polos si pemuda. Bocah ini kelak akan jadi seorang yang luar biasa, batin sang pendekar.

 

“kurasa Rangga,” Lanjut Okha,” Kalau ada yang kubenci maka itu adalah Ayahmu.”

Rangga Gahara tundukkan wajah. Ia menggigit bibirnya sendiri. Sementara itu Okha teruskan perkataannya.

 

“Aku tidak bisa berbohong dengan berkata aku tidak ingin balas dendam pada ayahmu. Namun kupikir lagi, biarlah suatu saat Kesalahan Ayahmu dibalas oleh Yang Maha Kuasa. Kalau Aku membunuh ayahmu, kupikir tidak ada bedanya apa yang kulakukan dengan apa yang ayahmu lakukan saat membantai seisi desa sekaligus membunuh ayah ibuku.”

Seluruh Orang di tempat itu tercekat. Bedanya Rangga Gahara tercekat karena mendengar ucapan Okha yang mengatakan tidak  berniat balas dendam pada ayahnya. Meski ia sedikit lega namun rasa penyesalan atas kesalahan ayahnya makin membuatnya merasa sedih.

 

Sedangkan Kiai Sena Tirtawasa dan dua gadis yang ada di situ kaget lebih karena mengetahui masa lalu Okha. Tadi-tadi saja mereka kaget karena mengetahui  kedua pemuda di dekat mereka saling mengenal sedari kecil, kini mereka lebih kaget lagi kalau kedua orangtua Okha dan seisi desa kelahiran si pemuda tewas akibat perbuatan ayah Rangga Gahara. Kesunyian sejenak menggantung di udara. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak. Masing-masing tenggelam dalam pemikirannya sendiri.

 

Rangga Gahara menghela nafas panjang memecah kesunyian. Pemuda ini bangkit berdiri dan membantu Okha juga berdiri. Ia lalu memandang pada Galuh Intan alias Sekar Prameswari. Rangga Gahara menatap dalam-dalam mata si gadis. Ia selalu mengagumi keindahan mata Biru Sekar Prameswari. Pertama kali datang ke jawa atas perintah diplomasi dari Raja tengah, ia sudah jatuh cinta pada gadis ini. Selain paras yang cantik, juga dengan mata birunya. Apalagi saat diketahuinya gadis ini memiliki kesaktian teramat tinggi dan pribadinya sungguh menawan. Rangga Gahara menjadi maklum mengapa Raja Demak dan Permaisurinya begitu mewnyayangi keponakannya yang satu ini.

 

Saat itu Rangga Gahara langsung bergerak untuk mencoba berkenalan dengan Sekar Prameswari. Ia begitu terpesona pada gadis itu. Dan tidak lama kemudian ia mengajukan lamaran pertunangan pada Kerajaan. Raja tidak berkeberatan dengan usulan dari Rangga Gahara apalagi saatbitu Raja tengah sendiri berkenan datang mendampingi si pemuda.

 

Raja Demak kemudian menyerahkan sepenuhnya pada keponakannya Sekar Prameswari alias Galuh Intan. Meskipun si gadis sendiri sepertinya tidak menganggap lebih hubungannya dengan Rangga Gahara , namun demi tidak bersikap lancang, maka ia menerima saja lamaran itu.

 

Tapi Rangga Gahara adalan pemdua polos. Lebih dari itu ia adalah pemuda berbudi baik. Selama setengah Tahun pertunangan mereka, Ia bukannya tidak menyadari kalau perasaan Tunangannya kepadanya bukanlah perasaan sayang. Ia berusaha menepiskan pemikiran itu dengan pepatah “Cinta tumbuh dari kebersamaan”. Namun makin lama makin ia sadar kalau hal kitu tidak akan bisa terjadi. Pemuda ini dilanda kebimbangan. Ia merasa kecewa namun di sisi lain ia juga tidak mau bersikap jahat dengan memaksakan cintanya pada Sekar Prameswari.

 

Kini ia sadar kepada siapa Perasaan Gadis itu berlabuh. Selama di sini, Rangga Gahara bukannya tidak melihat pandangan berbinar Sekar Prameswari atau Galuh Intan pada Okha. Kekhawatirannya pada si pemuda dan bagaimana wajah gadis cantik itu merona merah setiap Okha tersenyum padanya. Itu jelas-jelas rasa Cinta. Rangga Gahara merasakan dadanya perih. Tapi apa bisa dikata? Ia juga ingin agar Gadis itu Bahagia.

Diam-diam Rangga Gahara perhatikan Pendekar 1000 Sial. Sebenarnya ia merasa lucu dan tertarik juga pada si pendekar, karena sikapnya yang konyol sekaligus sifatnya. Okha memiliki hati yang lapang, juga polos. Pemuda itu juga baik hatinya. Rangga Gahara tersenyum,dalam hatinya ia membatin, kalau Pendekar 1000 sial tidak berubah dari sejak masih kesil, masih sama. Mungkin kalau Bersamanya, Sekar Prameswari bisa bahagia.

“Sekar,” Rangga Gahara memanggil Galuh Intan dengan gelar kerajaannya. Intan dilihatnya tersenyum sambil menunggu ucapan lanjutan darinya.

 

“Kurasa, aku akan menghadap Baginda Raja, Sekar,” Lanjut rangga Gahara.

 

“Untuk apakah Kang Mas Rangga?” Galuh Intan masih tetap tersenyum.

 

Sementara itu Rangga Gahara tersenyum kecil,” Kurasa Ada Baiknya Kalau Pertunangan kita tidak diteruskan.”

 

Entah sudah berapa kali kekahetan kembali melanda semua orang di taman itu. Kiai Sena Tirtawasa dan Dewi Embun Biro sampai mendelik terkejut dengan ucapan Rangga Gahara. Sedangkan Okha kaget lebih karena mengetahui kalau Galuh Intan bertunangan dengan Rangga Gahara.

 

“Ka..Kang Mas.. Apa Maksud Kang Mas Rangga?”  Galuh Intan mencoba bersikap tenang meski dadanya bergemuruh.

 

Rangga Gahara dekatkan mulutnya ke telinga si gadis. Ia kemudian berbisik pelan,” Jangan menipuku Dinda Sekar. Aku tahu Kalau Kau Jatuh Cinta pada Agni, atau yang lebih dikenal dengan nama Okha, iya bukan?”

 

Wajah Galuh Intan makin memerah, lebih dari sebelumnya. Belum sempat ia berkata apa-apa, Rangga Gahara sudah menyambung,” Tidak apa-apa Dinda. Aku mengerti. Lagipula dari awal cintaku hanya bertepuk sebelah Tangan. Kurasa juga Kau akan bisa bahagia bersamanya. Kudoakan Kebahagiaanmu Adinda.”

 

Rangga Gahara tarik wajahnya. Ia tersenyum membungkuk pada Kiai Sena Tirtawasa dan Dewi Embun Biru. Kiai Sena Tirtawasa hanya mengangguk sedang Dewi embun Biru balas membungkuk. Rangga Gahara berpaling pada Okha.

 

“Aku senang bisa bertemu lagi denganmu, Agni,” Rangga Gahara entah kenapa tusukkan telunjuk tangan kirinya ke telapak tangan kanan. Satu luka kecil terbuka mengeluarkan darah.

 

Okha yang melihat gerakan Rangga gahara tersenyum kecil lalu mengangguk. Pendekar ini lakukan hal yang sama dengan Rangga Gahara. Sesaat kemudian ia temukan telapak tangannya yang terluka dengan telapak tangan Rangga Gahara yang juga terluka.

 

“Mulai Sekarang Kita Saudara Agni. Kau adalah saudara Sumpah darahku,” Ucap Rangga Gahara.

 

“Ya, Kau adalah Saudaraku juga, Rangga,”tukas Okha.

 

Tiga orang lain di situ hanya diam menyaksikan kedua pemuda. Rangga Gahara lepaskan tangannya dari Okha lalu tersenyum pada Galuh Intan.

 

“Kuingatkan sedikit Dinda, Dia agak-agak “bodoh”. Kalau kau tidak pandai-pandai memberikan tanda, ia tidak akan sadar. Percayalah, Aku sudah mengenalnya sejak lama,” Rangga Gahara kemudian berlalu dari situ, diikuti pandangan Bingung Dewi embun Biru dan Okha, sekaligus wajah merona Galuh Intan dan Senyum kecil Kiai Sena tirtawasa.



[ Total 3962 kata ]

Kategori Cerita Mandiri Lainnya :


Hasil Karya Okha antara Lainnya :


Daun Lontar "Kisah Si Pendekar 1000 Sial => Rangga Gahara" :

  • aprin endoetz 212 [13 Mei 2010, 22:48:12]

    engg., sebenarnya pertanyaan dan keinginan yang mudah dikabulkan, episode keris naga sanjaya 212 e-booknya sdh ada pa belum kanjeng?? maturnuwun


Jumlah Daun Lontar [1], Ngisi Daun Lontar