RUANG SASTRA
Ketegori Sastra : Cerita Mandiri
Diposting Oleh:Okha antara
Waktu Kirim : 30 April 2010, 13:45:13
Statistik : Dibaca : 94 kali, Di Print : 0 kali, Di Kirim : 12 kali
Rating :
Nilai Sementara : 13 Kirim ke Pendekar Lain Cetak

"KISAH SI PENDEKAR 1000 SIAL => SANG RATU"

Okha dan Galuh Intan Sejenak Pandangi Sosok yang sedang melangkah tenang ke arah mereka. Namun suasana yang gelap menghalangi keduanya mengenali sosok tersebut. Tengah keduanya menyipitkan mata memandang sosok yang dimaksud, mendadak terdengar satu suitan Keras melengking. Tempat itu kini mendadak diterangi puluhan nyala obor. Keseluruhan obor mengelilingi Okha dan Galuh Intan hingga keduanya berada di tengah tengah.

 

Memandang sekeliling, Okha dan Galuh Intan melihat puluhan pemuda berambut emas dan bertelanjang dada mengurung mereka berdua. Okha menatap semua pemuda satu satu. Ia merasa pernah bertemu dengan orang yang memiliki ciri sama dengan semua pemuda di tempat ini tapi tidak ingat di mana. Ia ingin bertanya pada Intan namun saat itu ia merasa bahunya disentuh orang. Memandang ke samping Galuh Intan sedang menunduk di bahunya. Si pemuda tentu saja heran.

 

“Intan, Kau Kenapa? Hei…”, Okha mengguncang bahu gadis cantik tersebut. Galuh Intan mengangkat Mukanya sedikit. Memandang wajah gadis itu, Okha ternganga nganga. Ia melihat wajah Galuh Intan berubah semerah saga. Okha garuk-garuk pipi.

 

“kenapa wajahmu seperti udang rebus begitu?”

 

Galuh Intan diam sejenak. Terbata bata ia menjawab lirih,” A.. Anu. Mereka semua telanjang dada. Aku malu melihatnya,” Galuh Intan kembali tundukkan wajahnya ke bahu OKha.

 

Okha makin melongo mendengar jawaban si Gadis. “weleh weleh, gadis ini polos sekali. Apa tidak pernah lihat lelaki ya kecilnya?” Batinnnya dalam Hati.

 

Suara Tepuk tangan mendadak terdengar di tempat itu. Okha segera memandang ke arah suara. Sementara Galuh Intan masih tetap menunduk tidak bergerak. Okha berusaha mengatur jalan nafas dan tenaga dalamnya kemudian berusaha berdiri. Tapi Astaga, ia tidak mampu gerakkan kakinya. Saat dicobanya gerakkan tangan ia lagi lagi tersentak karena juga tidak bisa gerakkan tangannya. Okha makin penasaran namun ia makin kaget saat ia kini sadar kalau sekujur tubuhnya tiba tiba menjadi Kaku dan tak mampu digerakkan. Si Pemuda bertanya tanya sambil menyumpah dalam hati. Ia pandangi arah datangnya suara tepukan dengan gemas.

 

“Ahh, Ternyata Pemuda yang beritanya dihembuskan angin sampai di telingaku rupanya memiliki wajah yang cantik seperti seorang gadis, hihihi…” Satu suara halus perempuan berbunyi di tempat itu.

 

Okha sipitkan matanya memandang ke arah suara. Cahaya Obor lagi lagi bersinar di tempat Itu. Okha memandangi cahaya obor di arah datangnya suara perempuan barusan.

Dari arah datangnya suara terlihat seorang gadis mengenakan Pakaian Hitam Dan sehelai celana Panjang Merah beserta Jubah kebesaran berwarna juga merah. Gadis ini memiliki rambut panjang coklat yang dijalinn ke atas. Okha tidak dapat melihat wajah gadis ini karena ditutupi cadar. Namun Okha melihat udara di sekitar si gadis seakan bergelombang. Ia merasakan satu hawa menekan dari gadis tersebut. Gadis Ini memliki Hawa seorang Raja! Okha menduga gadis ini adalah pemimpin dari seluruh pemuda di tempat itu.

 

Siapa Gadis yang dilihat Okha? Gadis ini tidak lain adalah Gadis Pimpinan keseluruhan Pemuda berambut kuning emas yang di rimba persilatan dikenal sebagai Ciri ciri dari Kawanan berjuluk Serikat Panah Emas. Seperti sebelumnya diceritakan, Gadis ini akhirnya pergi menemui Pemuda Bermata Merah pekat yang dilaporkan oleh Supit Wesi dan adalah Okha Antara.

 

Di belakang Gadis Pimpinan Serikat Panah Emas berdiri gagah seorang lelaki tinggi besar dengan bekas luka melintang di bawah hidungnya. Lelaki ini seperti pemuda lain di sana, juga memiliki rambut berwarna kuning emas dan tato anak panah di lengan kirinya. Bedanya, si Lelaki ini bertubuh paling kekar di situ dan kelihatan sangat dihormati setelah Gadis yang merupakan pimpinan. Ia Bukan lain adalah Supit Wesi, Wakil Ketua Serikat Panah Emas yang tempo Hari dikerjai Okha dan Pendekar Lengan Api. Supit Wesi memandang ke arah Okha dengan tatapan yang seakan bisa menembus kulit karena dendam tempo hari. Saat memandang ke arah Galuh Intan yang berada di samping si Pemuda, Supit Wesi merasakan jantungnya berdegup kencang. Kini Supit Wesi mengalihkan pandangannya dari Okha ke arah si gadis.

 

Di samping Supit Wesi, berdiri seorang nenek yang bungkuk sekali dan tertatih-tatih memegang tongkat. Nenek ini memiliki rambut Putih terurai yang sangat kasar. Selain itu rambut itu di sana sini terlihat diselingi warna hijau. Warna Hijau ini ternyata adalah Lumut! Jika dilihat lihat lagi lumut juga terdapat di sekujur tubuhnya. Pakaian Si nenek bahkan juga ditumbuhi lumut. Nenek ini berdiri terbungkuk sambil sesekali meluruskan tubuh dan mengetukkan tongkat yang dipegangnya. Saat berdiri tegak Ternyata Nenek ini tinggi sekali, bahkan lebih tinggi dari Supit Wesi yang paling tinggi di situ. Tongkat yang diketuk ketukkannya sendiri sekali kali ke tanah mengeluarkan getaran halus yang terasa menyengat Di kaki Okha. Inilah yang membuat si pemuda tidak mampu gerakkan tubuh.

Si nenek adalah salah satu tokoh rimba persilatan yang dikenal berjuluk Dewi Iblis Lumut .

Tokoh satu ini tidak termasuk golongan Putih, tapi bukan juga Golongan Hitam. Kesaktiannya Konon sangat tinggi sekaligus aneh aneh. Dan Yang menjadi andalannya adalah Lumut di sekujur tubuhnya. Konon ia adalah Wakil Ketua Serikat Panah Emas yang sesungguhnya namun karena sering bersikap aneh dan tidak pandai memimpin, maka pangkatnya diturunkan dari Wakil Pimpinan.

 

Okha tidak mengenali ketiga orang yang ada di hadapannya. Sementara Ia sendiri berpikir keras supaya bisa bebas dari jurus yang membuat tubuhnya kaku. Okha melirik ke samping, dilihatnya Galuh Intan santai santai saja. Si pemuda merasa gemas sekaligus heran. Ia menduga duga ketinggian ilmu Galuh Intan karena tidak terpengaruh oleh jurus yang membuatnya Kaku. Memikir sampai di situ okha teringat kalau ia belum sempat melihat si gadis bertarung sebenarnya. Namun ia coba tidak ambil Pusing. Kini Si pemuda pusatkan pikiran. Ia merapal sesuatu dan kerahkan tenaga dalam.

 

Mendadak satu getaran halus terasa di kaki semua orang di tempat itu. Namun reaksi masing-masing orang berbeda dengan getaran yang dirasakan. Ratu Pimpinan Serikat Panah Emas merasakan kakinya seperti digigit semut. Tubuhnya terasa mengeluarkan keringat. Gadis ini memandang tajam ke arah kakinya kemudian kedipkan kedua mata. Rasa seperti digigit semut hilang. Gadis ini memandang ke arah tanah dan seakan mengetahui arah datangnya getaran ia memandang tajam menyusuri tanah. Ratu Pimpinan Serikat Panah Emas sedikit kaget saat mengetahui asal getaran adalah dari Okha, pemuda yang sedang duduk tak bergerak di tanah.

 

Gadis ini sendiri cukup heran karena melihat tubuh si pemuda diselimuti asap tipis kebiruan. Bersamaan dengan itu sang ratu merasakan getaran di kakiknya kembali terasa. Ratu Serikat Panah Emas kini kerahkan tenaga dalam. Getaran kini tidak lagi dirasakannya.

 

Mendadak Ratu Pimpinan Serikat Panah Emas medengar suara bergedebuk. Sang Ratu memandang ke samping. Ia terkaget kaget melihat Supit Wesi berlutut di tanah sambil pegangi dadanya. Memandang ke sebelahnya lagi ia melihat Nenek Dewi Iblis Lumut sedang berdiri tegak dengan mata mendelik memandangi Okha. Si nenek sendiri wajahnya memerah seperti menahan sesuatu. Tidak lama kemudian sotak Nenek itu seperti dihantam sesuatu dan terpental ke belakang. Namun Nenek Dewi IBlis Lumut masih bisa mendarat tegak. Hanya saja wajahnya pucat dan nafasnya memburu.

 

Ratu Pimpinan Serikat Panah Emas terheran-heran melihat kelakuan kedua anak buahnya. Ia sendiri lebih heran lagi melihat anak buahnya yang lain tidak mengalami apa apa dan bahkan gadis di samping si pemuda seakan santai saja. Sang Ratu alihkan pandangan pada Si pemuda. Kejut melanda dirinya saat melihat si pemuda kini sudah berdiri tegak sambil miringkan kepala dan menatap dirinya.

 

“Wahai Ratu cadar, kau bicara denganku..?”Okha ajukan pertanyaan.

 

 “Hik hik hik! Ratu, ada bocah budek di sini rupanya”,Rupanya Dewi IBlis Lumut keluarkan suara.

 

Okha gantian memandang pada si nenek. PEndekar ini kerutkan alisnya. Sejenak ia seperti berfikir lalu kemudian mendengus keras.

 

“Nenek bau! Apa urusanmu denganku! Maaf maaf saja aku tidak mau kalau kau ajak pacaran! Hahaha..,” Sahut Okha Lantang.

 

Wajah Dewi IBlis Lumut mengelam namun ia malah keluarkan tawa lagi.

 

“Hik Hik Hik… BErani juga kau anak muda. Sekarang terangkan namamu di depan Ratu kami, atau kubuat tanggal mulut lancangmu!?”

 

“ratumu saja belum bertanya, kenapa kau yang sewot nek..?! Rupanya kau budek juga ya..?”

 

“Keparat..! Kau ingin kubeset mulutmu rupanya..!” Amarah si nenek sampai ke ubun ubun. Ia bersiap memutar tongkatnya saat didengarnya Ratu Pimpinan berkata.

 

“Dewi Iblis Lumut, kuharap kau bisa tenang…” Sang Ratu melirik tajam pada Dewi Iblis Lumut. Yang dilirik mendadak kecut nyalinya. Si nenek boleh merasa hebat dan kuat, namun satu-satunya orang yang ditakutinya adalah Pimpinannya ini. Saat dulu ia sempat melanggar peraturan Serikat, ia dihajar babak belur oleh Sang Ratu yang umurnya puluhan tahun di bawahnya. Sambil menyumpah geram, ia hentikan niatnya menyerang.

 

Ratu Pimpinan maju beberapa langkah dan kini berdiri hanya tiga langkah di hadapan Okha. Matanya yang bening menatap dalam wajah si pemuda. Okha yang ditatap cengar cengir sendiri. Namun saat merasa sang Ratu masih saja memandangi dirinya ia balas melotot pada si gadis. Sementara Galuh Intan yang berdiri hanya beberapa jengkal di samping okha mendadak merasakan hatinya kesal. Si gadis bertanya tanya sendiri dalam hatinya mengapa ia merasa kesal.

 

Lama saling bertatapan, Ratu PImpinan menghela nafas sambil pejamkan mata. Perlahan gadis ini gerakkan tangannya ke muka. Ia menarik lepas cadar yang menutupi wajahnya. Kini terlihatlah wajah si gadis Ratu pimpinan Serikat Panah Emas.

 

Okha yang sedang balas melototi sang Ratu kini makin melotot seakan matanya hendak keluar dari tempatnya. Mulut pemuda ini menganga lebar. Ia dekatkan wajahnya ke wajah sang ratu kemudian alihkan pandangannya pada Galuh INtan yang ada di sampingnya. Kejut si pemuda bukan kepalang. Wajah Sang Ratu dan Wajah Galuh Intan ternyata sama persis, tidak ada bedanya, keduanya bagaikan saudara kembar.

 

“Eh eh, ini … Eh, wajah kalian..? Intan, ini kenapa si cadar ini wajahnya sama persis denganmu..?”

 

“Jelas saja wajah kami sama, pemuda bermata merah. Kami ini sebenarnya saudara kembar”, sahut sang Ratu tenang.

 

“Hoeee, eh, beneran..??” Tanya Okha masih tidak yakin.

 

“Tanya saja pada Intan,” Ratu Pimpinan kembali tersenyum.

 

“Kenapa Kakak ada di sini?” Galuh Intan tahu tahu bertanya.

 

Ratu Pimpinan pandangi Galuh Intan yang kini berdiri rangkapkan kedua lenganya di dada. Ia tersenyum simpul.

 

“Apa salahnya aku berjalan jalan, di sini kan bukan rumahmu. Ah, Apa kau merasa malu kepergok olehku sedang bersama kekasihmu di sini..?”

 

“A…!!! A.. Apa? Siapa yang kekasih..? Pemuda ini bukan kekasihku..!”

 

“Iya iya aku tahu. Sudahlah, nanti saja kita bicara, aku inginbicara sebentar dengan kekasihmu ini,” Ratu Pimpinan tidak pedulikan Galuh INtan, ”Pemuda terpilih, temui aku di Kaki gunung Kelud, satu bulan dari skarang. Akan ada satu berita besar untukmu, dan mengenai keluargamu”.

 

Habis Bicara Sang Ratu tidak pedulikan OKha yang hendak bertanya. Ia berikan tanda untuk meninggalkan tempat itu. Tidak tunggu lama semua orang di tempat itu melesat pergi. Yang tersisa tinggal beberapa buah obor saja bekas anak Buah Serikat Panah Emas.

 

 Okha masih berdiri terdiam melihat kepergian Sang Ratu. Mendadak ia teringat sesuatu. Ia berbalik namun tiba-tiba Galuh Intan menubruk dirinya dan kemudian memeluk si pemuda. Okha terpaku.

 

“Eeee, anu. INtan, kau  kenapa?”

 

“Tolong…biarkan aku sebentar. Aku… aku…”

 

“Hik Hik Hik…. Ternyata benar kata Ratu, kalian beercu=inta bukan, hik hik…”

 

Satu suara tawa bergema di tempat itu. Okha pandangi arah suara. Ia melihat kini Nenek Dewi Iblis Lumut yang tadi sudah pergi bersama Pimpinannya kembali di tempat itu.

 

“Cih, nenek salah kaprah. Kalau mau cari lumut buat bersugi ria, cari di Jamban sana, jangan ke sini, bikin mataku rusak saja..” Sahut Okha kesal.

 

Amarah Dewi IBlis Lumut tidak terbendung mendengar hinaan barusan. Ia melesat ke depan sambil ayunkan tongkatnya. Satu tangannya yang bebas menjambak rambut sendiri kemudian menarik segenggam lapisan lumut di rambutnya. Ia kemudian lemparkan seluruh lumut di tangannya. Inilah jurus serangan bernama “ Iblis Lumut besedekah”. Karena Lumut tersebut mengandung racun dan diisi tenaga dalam tinggi, orang yang terkena jurus ini akan mati berkelojotan hanya dalam belasan detik saja disertai tibuhnya akan berlobang akibat serangan lumut beracun.

 

Okha gertakkan gigi menghadapi jurus yang tak terduga ini. Ia lepaskan rangkulan Galuh INtan kemudian silangkan kaki sambil kibaskan kedua lengannya. Inilah jurus “Sekilas Hujan Sehembus Angin”. Okha kemudian hentakkan kakinya dan melompat tinggi ke udara sambil menghindari ayunan tongkat milik Dewi Iblis Lumut. Sambil jungkir balik ia kirimkan jotosan ke arah si nenek. Namun okha cepat-cepat tarik pulang tangannya saat Dewi Iblis Lumut secepat kilat tusukkan tongkat ke arahnya.

 

“Tring!!!!”

 

“BRETTTT!!!!”

 

Tusukan tongkat si nenek masih sempat merobek jubah Okha. Yang diserang pun secepat kilat menjauh. Keringat dingin memercik di tengkuknya.

 

Di lain Pihak, meski berhasilk daratkan serangan, Nenek Dewi IBlis Lumut kaget bukan alang-alang. Ia perhatikan ujutng tongkatnya yang sedikit gompal akibat menusuk tadi. Ia juga terheran-heran karena suara dentringan seperti suara beradunya pedang saat tongkatnya yang diisi tenaga dalam merobek jubah si pemuda.

 

“Bocah itu, Ilmunya lumayan juga. Tapi bagaimana bisa suara tadi…”

 

Dewi IBlis Lumut siapkan kuda-kuda. Memandang ke depan dilihatnya Okha melepaskan jubahnya dan melemparkan ke tanah.

 

“BUMMM!!!!”

 

Dewi Iblis Lumut, delikkan mata. Jubah yang dilemparkan Okha jatuh dan terbenam sedalam sejengkal di tanah. Si nenek merutuk membayangkan bagaimana bisa bocah itu bertarung lincah menggunakan beban begitu berat. Geram Si nenek bukan kepalang, kini dia kembali melesat sambil tusukkan kembali tongkatnya. Ujung tongkat bersinar terang kehijauan. Namun Si nenek lantas tarik pulang serangannya saat satu cahaya putih menggidikkan melesat memotong serangannya. Cahaya tadi terus melesat dan menembus satu buah pohon, kemudian satu pohon lagi, lagi dan berhenti di pohon ke lima. Kesemua pohon yang terkena hantaman cahaya putih mendadak tanpa meledak langsung berubah menjadi debu berwarna putih.

 

Dewi IBlis Lumut leletkan lidah. Seumur Hidup ia belum pernah melihat jurus ini secara langsung dan hanya pernah mendengarnya.

 

Pelangi Putih Menghisap Dosa,” seru si nenek dengan suara bergetar. Ia kemudian memandang ke Galuh INtan yang lengan kanannya sedang terangkat ke arahnya.

 

“Jangan Ganggu Waktuku, aku sedang kesal,” Galuh Intan bergumam kecil namun dapat didengar jelas.

 

“Gadis itu yang melepaskan pukulan dongeng ini. Bahaya! Bahaya!,” batin Si nenek.

 

Dewi IBlis Lumut mendadak merasakan siuran angin di depannya. Okha ternyata kirimkan jotosan tangan kanan. Segera si nenek rundukkan kepala. Pukulan Okha lewat di atasnya. Nenek ini hantamkan kedua tangannya ke depan, mengarah ke arah dada Okha. Namun Mendadak Si pemuda terlihat tubuhnya menjadi dua dan kemudian menghilang.

 

Dua Bayangan Berebut Tubuh”, Seru Si nenek tegang.

 

Dewi IBlis Lumut kembali merasakan sambaran angin di punggungnya. Nenek ini gertakkan rahang. Ia babatkan lengannya ke belakang. Namun lagi lagi ia hanya mengenai tempat kosong. Satu sambaran angin kembali mengenai lengannya yang barusan membabat. Si nenek merasakan tubuhnya terangkat ke atas. Satu pukulan mengenai perutnya dan satu tendangan menghantam pinggangnya sebelah kiri. Tak ayal si nenek terpelanting jatuh bergedebukan.

 

Dewi Iblis Lumut rasakan pingganya lepas. Perutnya seakan melesak menembus punggung dan lengannya kebas. Aliran darahnya tak beraturan dan mulutnya terasa panas. Ia terluka parah dalam. Amarahnya memuncak. Setelah atur jalan pernafasan, ia kemudian pandangi Okha yang berdiri memandangnya dengan tenang. Si nenek sontak lemparkan tongkat ke arah Okha. OKha menghindar ke kiri kemudian kirimkan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi ke arah si nenek. Namun tanpa diduga, Tongkat tadi berbalik melesat dan mengarah ke Si pemuda. OKha yang mendengar siuran angin di belakangnya segera berbalik dan pukulkan tangan ke arah tongkat sambil kerahkan dua pertiga tenaga dalamnya.

 

Segulung angin laksana badai menghantam tongkat. Tak ampun lagi tongkat tersebut hancur berkeping-keping. Namun Okha lengah. Dewi Iblis Lumut tidak sia-siakan kesempatan saat Pemuda lawannya membelakangi dirinya. Si nenek keluarkan Pukulan Sakti bernama “ Dewi Lumut Menggoda Iblis” yang pancarkan cahaya hijau. PUkulan ini memiliki Racun ganas yang mampu membunuh siapapun yang terkena pukulan ini, bahkan kalau hanya tersentuh sekalipun. Inilah pukulan terkuat milik si nenek.

 

“Okha, Awas..!” Galuh Intan berseru tegang saat melihat Okha sesaat lagi akan terkena Pukulan Dewi Lumut Menggoda Iblis dari Si nenek.

 

OKha gertakkan rahang. Ia sadar kesalahannya namun Tidak ada waktu untuk menghindar. Secepat yang ia bisa Okha berbalik dan balas menghantam. Sedetik lagi kedua lengan akan beradu Tangan Okha mendadak berubah menjadi biru pekat sampai ke siku.

 

“BUKKK!!!!!!!!!”

 

“PESSSHHH!!!!”

 

“AAAAARRGGGGGGGGGGGHH!!!!!!!”

 

Satu Jeritan keras membahana. Okha dan Dewi Iblis Lumut sama sama terlempar dua tombak. Okha jatuh terduduk sementara Dewi Iblis Lumut terpelanting di tanah. Nenek ini coba bangkit berdiri namun untuk gerakkan kepala saja ia kesusahan. Si nenek perhatikan tangan kanannya. Tangan Itu kini sudah buntung sampai ke siku. Bahkan sisa lengannya kini perlahan meleleh dan menetes berwarna biru. Si nenek menjerit keras pandangi lengannya yang kini seperti salju mencair.

 

 “Jurus Telapak Matahari Biru. Ini juga Jurus Yang sama dengan milik DIA,” Batin Si nenek. Dewi Iblis Lumut alirkan tenaga dalam ke lengannya yang sakit. Dengan sisa tenaganya ia totok pangkal bahunya dan susah oayah berkelebat kabur dari tenpat itu.

Okha kini sedang duduk sambil bersandar pada Galuh Intan. Pemuda itu kelihatan Pucat Pasi dan tubuhnya gemetaran. Ia tidak pedulikan lawannya yang berkelebat tinggalkan tempat itu. Pendekar 1000 Sial ini kerahkan tenaga dalam ke lengannya yang beradu pukulan dengan Si Nenek Dewi IBlis Lumut dan kini bengkak kemerahan pertanda terkena racun. Ia menotok lengannya di beberapa bagian.

 

“Pukulan itu, berbahaya sekali. Okha, kau baik baik saja?” Galuh INtan bertanya dengan cemas.

 

“Ya, untungnya Aku terlindung aji kesaktian pukulanku sendiri, kalau tidak aku pasti sudah buntung Juga sekarang,”balas Okha.

 

“Lebih baik kita pergi sekarang dari sini INtan, aku ingin istirahat. Badanku rasanya panas. AKu harus membuat penawar untuk racun seperti ini. Sekalian, aku ingin bicara denganmu,” Lanjut Okha. Tabpa tunggu lama pemuda itu melesat berkelebat. Galuh INtan mau tidak mau ikuti si pemuda ke arah yang sama.

 

 

 

 

 

Harum Wangi melati memasuki pernafasan. Okha membuka mata saat menciumnya. Pendekar muda ini kejap-kejapkan kedua mata. Kepalanya terasa berat. Tenggorokan terasa panas. Okha coba atur jalan nafas. Setelah sedikit lega, baru ia menyadari saat itu berbaring di sebuah kamar yang sangat mewah. Okha hendak memandang sekelilingnya kemudian bangkit duduk. Lagi lagi ia terheran heran menyadari kalau kamar ini adalah kamar seorang gadis. Karena Okha melihat beberapa Potong pakaaian wanita, dan seperangkat alat hias, terlihat rapi di atas meja. Okha senyum senyum sendiri.

Pendekar 1000 Sial turun dari dipan tempatnya berbaring. Ia miringkan kepala dan coba mengingat ingat.

 

“Setahuku kemarin malam aku sedang berlari bersama Galuh Intan. KEnapa sekarang tiba-tiba ada di sini?”

 

Tengah Okha berpikir, Pintu kamar terbuka. OKha berpaling. Seorang gadis cantik dengan pakaian seperti seorang dayang mendatangi dan duduk bersimpuh didekatnya. Okha terbengong bengong.

 

“Tuan Muda, Maaf. Apakah anda sudah agak baikan?” Tanya Dayang Sopan.

 

Hampir Okha tertawa bergelak mendengar dirinya dipanggil Tuan Muda. Namun ia cepat tutup mulutnya dengan Tangan, mengingat si gadis sudah dengan sopan menanyainya.

 

“Ah iya iya, Aku sudah agak baikan. Ngomong ngomong, ini di manakah gadis?”

 

Gadis Dayang mengangguk sopan sebelum menjawab,” Tuan Muda berada di salah satu kamar kediaman Tuanku Putri Sekar Gita Prameswari. Salah Seorang Keponakan Baginda Raja”.

 

Okha pelototkan mata terkejut. Sontak ia berjongkok di depan Dayang. Gadis tersebut keget melihat sikap Sang Tamu. Secepat kilat ia bungkukkan tubuhnya sama rata dengan lantai. Namun di tengah jalan kedua bahunya ditahan pemuda di depannya. Bagaimanapun ia coba melawan ia bahkan tak sanggup bergerak sedikitpun.

 

“Tuan Muda, mohon ijinkan hamba membungkuk, INi suatu kekurangajaran berdiri sama berhadap-hadapan dengan Tuan Muda,” PInta Gadis Dayang dengan ketakutan.

 

Okha tertawa terbahak bahak mendengar ucapan si gadis. “Gadis, Kutaksir taksir, Sepertinya Kau dari keluarga petani, atau mungkin pedagang, atau pekerja biasa. Yang jelas kau pasti rakyat biasa bukan? Makanya tolong jangan perlakukan aku seperti Raja begini. Aku juga anak Petani Gadis. Bahkan darin luar pulau ini, hahaha…”

 

Gadis dayang ini hanya melongo mendengar ucapan Okha. Tak perdulikan kebingungan si gadis, Pendekar 1000 Sial lanjutkan berrtanya,” Rasa-rasanya aku tidak kenal dengan tuanmu. Siapa dia..? Bagaimana aku bisa ada di sini..?”

 

“Tuanku Putri berpesan Tuan Muda akan mengerti. Tuan muda dipersilakan mandi dan berganti pakaian dahulu. Kemudian menemui Tuanku Putri di tempatnya.”

 

Okha mendadak sadar kalau saat itu ia tidak mengenakan pakaiannya sendiri. Ia hanya bertelanjang dada dan mengenakan celananya. Pemuda ini memandang sekeliling kamar. Mencari-cari pakaian, jubah dan senjatanya. Namun apa yang ia cari tidak kelihatan.

 

“Mana, Mana Pakaianku? Mana Senjataku?” OKha bertanya.

 

“Tuanku Putri menyimpan senjata Milik Tuan muda. Pakaian Tuan muda sudah dicuci dan sudah kami persiapkan. Untuk saat Ini Silakan Tuan Muda mensucikan diri di tempat pemandian.”

 

Okha curiga dan masih khawatir dengan senjata dan pakaiannya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pemuda ini kemudian ikut saja saat Dayang menuntunnya menuju tempat pemandian. Okha ternganga saat melihat tempat pemandian yang dimaksud.

 

“Dayang, Ini seperti tempat pemandian untuk Raja, boleh aku mandi di sini?”

 

“Ini memang tempat pemandian Keponakan Raja, jadi bukan sepertinya tuan muda. Dan Tuanku Putri sendiri yang meminta anda mandi di sini.”

 

“Dayang, kau mau menemaniku mandi, aku risih mandi di sini,” Tanya Okha usil.

 

Wajah Dayang memerah seperti kepiting rebus. Ia tidak menjawab namun dalam hatinya menyumpah terus terusan. Okha yang sudah mengira reaksi si gadis tertawa.

 

“Iya iya maaf. Silakan Kau pergi Dayang. Kalau bisa tolong letakkan saja Pakaianku di dekat Pintu masuk. Terima Kasih Dayang.”

 

Selesai mandi sekitar seperempat jam, Okha mengeringkan tubuhnya dan mendapati pakaiannya sudah berada di dekat sana. Dilengkapi satu helai Ce;ana Hitam yang mirip dengan yang sebelumnya ia kenakan. Okha tersenyum sendiri. Ia merasa segar sesudah mandi. Pemuda ini keliar dari tempat pemandian langsung disambut oleh dayang yang tadi. Ia kemudian dibawa ke luar ke satu tempat yang mirip dengan taman. Tempat ini begitu luas dengan bermacam-macam bunga beraneka warna tumbuh di situ. Okha memperhatikan sekelilingnya. Beberapa pilar batu kecil setinggi pinggang mengelilingi taman ini. Okha juga menhyadari kalau seluruh bunga di sana yang paling banyak adalah Melati.

 

Okha mendadak menrasa satu sambaran angin di belakang, Gemas, pemuda ini lambaikan tangan kiri. Serangkum angin laksana topan melesat dan bentrokan dengan rangkuman angin yang barusan datang. Namun tidak terjadi dentuman. Hanya rumput rumput di taman itu bergoyang liar, begitu juga bunga-bunga. Okha merasakan lengannya kebas, ia juga terdorong satu jengkal ke belakang. Pendekar 1000 sial perhatikan arah datangnya serangan. Ia kini melihat sesosok gadis mengenakan Pakaian Putih Putih dengan aksen renda dan berjuntai berjalan perlahan ke arahnya. Rambut si gadis disanggul ke atas memperlihatkan lehernya yang putih halus. Okha kaget bukan kepalang. Mulutnya sampai ternganga.

 

“Intan…!?”

 



[ Total 3859 kata ]

Kategori Cerita Mandiri Lainnya :


Hasil Karya Okha antara Lainnya :


Daun Lontar :

Maaf, Daun Lontar belum ada yang ngisi ! Ngisi Daun Lontar